Fiction
Cerber: Sebatas Aurora [3]

3 Jun 2017


Entah menyusup dari mana keberaniannya, dengan cepat Radit melangkahkan kaki mendekati Btari. Memeluk tubuh rapuh Btari dari belakang, untuk pertama kali.
“Cukup, Riri! Jangan terus menangis!”
Btari tersentak. Melepas pelukan itu dengan cepat. Menggerakkan kursi putarnya.  Berbalik arah.
“Mas tahu ini menyakitkan. Hanya saja, tolong…! Mas tidak sanggup melihatmu menangis seperti ini lagi.”
Mata Btari yang basah oleh air mata  seketika membulat tajam.
“Mas melihatnya, semuanya.”
Tubuh Btari mendadak kaku tak bergerak.
“Pertemuan di kafe, rumah sakit, dan maaf… Mas mendengar semua   percakapan kalian di kamar Catleya seminggu yang lalu.”
 Muka Btari langsung pias.
“Semua sudah cukup membuat Mas menyadari posisi Mas di hatimu. Kalau kamu mencintainya, Mas rela kamu pergi. Mas tidak akan mempersulit keadaan.”
Btari terenyak. Kaget setengah mati. Duduknya langsung menegak. Apa yang baru saja didengarnya bagai tamparan angin yang mengembuskan sejuk sekaligus membuatnya beku. Ia benar-benar tak percaya, lelaki yang ada di hadapannya ini sanggup mengatakan hal itu. Ditatapnya Radit lebih dalam. Mencari kejujuran di manik mata itu. Radit mengangguk pelan, seperti mengerti apa yang sedang dipikirkan Btari. Mata Btari malah terpejam. Perlahan tubuh Radit jatuh bersimpuh di hadapan Btari. Diusapnya pipi Btari yang basah oleh air mata dengan sangat lembut, untuk pertama kali.
“Ini semua salah Mas, kalau saja Mas mau memahami hatimu sebelum semuanya terjadi, mungkin tidak akan sesakit ini.”
Perlahan isak Btari mulai terdengar lagi.
“Kamu tahu Riri. Mas sangat mencintaimu. Jauh sebelum Bunda meminta Mas untuk menikahimu dan menjadi penjagamu. Mas tidak tahu kenapa perasaan ini sampai bisa ada.” Radit diam sesaat. Mengembuskan napas berat. “Tapi, inilah kenyataannya. Perasaan di hati ini perlahan berubah dari cinta seorang kakak kepada adik angkatnya, menjadi cinta lelaki dewasa.”
Kepala Btari menggeleng lemah, tak percaya.
“Hingga Mas rela melakukan apa pun untukmu. Bahkan, mengikuti permintaanmu untuk tidur di kamar yang terpisah, walau kita sudah tiga bulan menikah. Bagi Mas, yang terpenting kamu ada bersama Mas, itu sudah lebih dari cukup.”
Tatapan Btari  makin tak percaya.
“Tapi… mendengar isakmu yang begitu menyedihkan hari ini, Mas jadi tersadar, Mas tidak ingin membuatmu lebih tersiksa. Terjerat dalam dilema yang begitu menyiksa. Kalau Mas tahu hatimu telah terikat dengan seseorang, Mas pasti tidak akan membiarkan pernikahan kita berlangsung.”
Isak Btari  makin menyayat.
“Jadi… Mas mohon, berhentilah bersedih dan menangis diam-diam, karena itu membuat Mas merasa bersalah,” pinta Radit dengan sangat. Menggenggam tangan Btari erat-erat. “Mas rela kehilanganmu, asal kamu bahagia, Ri,” ucap Radit, menatap Btari dengan sinar mata yang merapuh. “Berjanjilah istriku…!”
Btari tak mampu berkata-kata. Isaknya pecah. Tangisnya tumpah. Ditatapnya Radit dengan perasaan haru. Perasaan yang sulit dijelaskan. Ada genangan bening tersaput tipis di bola mata Radit. Tangisan seorang lelaki. Membawa Btari melihat Radit dengan pandangan baru. Lelaki yang selalu melindunginya dari gangguan anak-anak kompleks sebelah, yang sering membelikan komik Jepang favoritnya kemudian menyelipkannya diam-diam di bawah bantal, dan tak pernah  absen menjaganya di saat ia harus menjalani operasi jantung bawaan berulang kali yang dideritanya sejak lahir, terlihat sangat berbeda malam ini.  Rapuh, bahkan melankolis. Jauh dari kesehariannya yang terlihat dingin dan kaku. 
Sikap Radit yang begitu hangat, genggaman tangannya, pelukannya, semua membiaskan rasa yang baru di hati Btari. Btari dapat menangkap dengan jelas, keikhlasan yang berpendar begitu besar dalam  tiap kata, tindakan, dan tatapan Radit. Menenggelamkannya pada makna cinta yang belum pernah ditemukannya selama ini, bahkan, di diri lelaki yang sangat dicintainya.
Perlahan Radit bangkit. Mendaratkan ciuman di kening Btari, lama… dan dalam. Ditatapnya Btari untuk terakhir kali.
“Masalah perceraian, akan segera Mas urus, kamu tidak perlu memikirkannya.  Dan… kapan pun kamu membutuhkan Mas, telepon saja! Mas akan selalu ada. Menjagamu seperti kemarin,” ucap Radit dengan senyum.
Perlahan langkah Radit menjauh. Meninggalkan Btari terpaku di kursi kerjanya. Termangu dan tergugu panjang.
 


Topic

#FiksiFemina

 


MORE ARTICLE
polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?