“DIA SUDAH MENUNGGU DI SANA.” Perempuan berwajah tirus dengan rambut ikal sebahu itu memandang tajam ke satu arah,dari balik pohon akasia yang meranggas. Matanya memerah. Tak dihiraukan putik-putik kuning akasia yang jatuh mengotori syal putih tulang yang dikenakannya. Kebahagiaan yang tertangkap jelas di wajah lelaki yang sedang diamatinya, di dalam mobil yang terparkir di ujung jalan taman kota itu, perlahan memudarkan semua harapannya.
Radit bergeming. Menatap ke tujuan yang sama.
“Mereka akan bertemu di tempat itu, malam ini, entah jam berapa.”
Ekspresi Radit masih bertahan sama.
“Kamu tahu artinya?” Wajah yang dirundung duka dan kekalutan itu kali ini menoleh. Menatap tajam, tepat ke manik mata Radit yang membeku. Hanya tinggal menghitung waktu, Kita berdua akan kehilangan orang yang kita sayangi,” jelasnya kemudian. Menjawab sendiri pertanyaannya dengan nada pilu.
“Kenapa bukan kamu…?” akhirnya suara Radit terdengar juga. Memecah keheningan.
Kening perempuan itu langsung berkerut.
“Kalau kamu sangat menginginkan lelaki itu, kenapa bukan kamu yang mencegahnya?” Radit balas menatap Renata, begitu perempuan itu memperkenalkan namanya. Si penelepon misterius yang sore ini berada tepat di sampingnya, yang akhirnya dapat dilihat sosoknya secara nyata, dan ternyata sepupu Minie, sekretarisnya.
Renata terdiam. Bola matanya yang sejak tadi ditutupi kabut bening air mata mendadak nanar. Sedetik kemudian Renata mengembuskan napas. “Karena aku… sudah tidak memiliki cukup kekuatan untuk itu,” tandas Renata, dengan suara berat.
Radit mendekatkan wajah. Menatap lebih dalam. Memohon penjelasan.
“Dulu… kami adalah sepasang kekasih,” jelas Renata kemudian, dengan suara getir nyaris tertelan. Kembali menatap lelaki di dalam mobil yang terparkir di ujung jalan taman kota itu. Bagai gas helium tatapan itu tak berpijak, sulit ditangkap.
“Saling mencintai! Menderu dengan semangat yang sama, menjelajahi semua tempat. Tapi, satu kesalahan yang kubuat menghancurkan semuanya.” Renata mendesah kuat, terdengar begitu berat dan menyayat. “Sejak saat itu, Bara tidak pernah mau mendengar tiap kuajak bicara.”
“Kalau begitu, berusahalah untuk mendapatkan hatinya kembali.”
“Sudah!!! Aku sudah melakukan banyak usaha untuk itu.” Nada suara Renata kini meninggi. “Kamu lihat ini!” Renata menunjuk kursi roda yang didudukinya. “Kecelakaan ini terjadi karena pengorbananku untuk menolong Bara dari amukan buaya yang hampir menewaskannya di Sungai Amazon setahun yang lalu. Kulakukan semuanya demi mendapatkan kembali hatinya. Tadinya aku hampir berhasil. Tapi….” Renata melirik Radit dengan tatapan sinis. “Karena Btarimu itu, atau siapalah namanya, Bidadari, begitu biasa kudengar Bara menyebutnya, hadir di kehidupan Bara, dia benar-benar melupakanku,” tandas Renata dengan mata menyala terbakar kemarahan.
Topic
#FiksiFemina


