Tanpa sadar, putaran roda mobil telah memasuki halaman rumah tropis dengan jendela-jendela besar yang terpasang hampir di tiap dindingnya. Rumah yang ditempatinya bersama Btari sejak tiga bulan yang lalu. Radit menginjak rem dengan cepat. Bergegas keluar dari dalam mobil. Melangkah setengah berlari, melintasi hamparan rumput di halaman, menjejak di lantai keramik teras depan yang dingin, memutar handle pintu dengan cepat, mendorong daun pintu itu ke dalam.
Rumah yang dimasukinya begitu gelap dan sepi, bahkan lampu-lampu belum juga dinyalakan, padahal malam telah menjelang sejak setengah jam yang lalu, membuat jantung Radit bergemuruh kencang. Jangan-jangan!!! Sebuah pikiran melintas cepat di benak Radit. Dengan cepat ia berlari, memasuki ruang tamu, singgah sebentar di ruang tengah, kemudian menuju kamar Btari yang berada tepat di samping kamarnya, dengan sorot mata tajam dan awas, diterangi lampu jalan dan bulan yang mengintip samar lewat celah jendela yang masih terbuka lebar. Tapi, tak ditemukan wajah Btari di sana.
Pencarian Radit beralih, menuju lantai dua rumahnya dengan perasaan cemas dan harapan yang kian pudar dan tak jelas. Tepat di anak tangga terakhir yang diinjaknya, akhirnya Radit sedikit bernapas lega. Samar-samar ia melihat seberkas cahaya, menerobos lembut lewat celah pintu kamar yang tak tertutup rapat. Ruang kerja Btari.
Dengan cepat Radit mendekat, mendorong pintu kayu yang tak tertutup rapat itu dengan jantung bergemuruh kencang. Berharap kali ini ia dapat menemukan Btari di dalam sana. Tapi… baru setengah pintu didorongnya ke dalam, mendadak napas Radit tercekat. Langkahnya tertahan. Apa yang ditemukannya di pojok ruangan benar-benar membuatnya tak percaya. Btari, dia ada di sana. Tubuh itu tertunduk lemas, membenamkan wajah di kedua lengan yang dipangku di atas meja. Sementara sebuah pigura yang membingkai wajah Bunda tergenggam di tangannya. Sangat pelan, nyaris tak terdengar, suara tangisan Btari terdengar bagai sayatan pisau yang mengiris gendang telinga Radit. Isak kesedihan yang sudah lama sekali tidak pernah didengarnya sejak 12 tahun yang lalu, di bulan-bulan awal Bunda membawa Btari dari Yogyakarta ke rumah mereka di Jakarta. Radit benar-benar trenyuh. Begitu tersiksakah Btari? Begitu jahatkah dirinya selama ini?
Topic
#FiksiFemina


