Untuk pertama kali timbul keheningan yang panjang di antara mereka. Perlahan namun pasti isak Btari mulai terdengar lagi mengisi kelengangan kamar yang sunyi. Ditingkahi desau angin yang melintas cepat lewat jendela, membuat tirai tipis yang menutupinya bergoyang lembut seperti ikut merasa.
“Maafkan aku!” lirih Btari di antara isaknya. Bara tak bereaksi. “Semua begitu tiba-tiba,” lanjut Btari lagi. “Aku tidak bisa menolaknya.” Wajah Bara langsung mengeras. “Saat itu kondisi Tante Ve sangat parah.” Btari tersedu pilu. “Kanker itu telah menggerogoti hampir seluruh saraf otaknya. Satu-satunya keinginan Tante Ve yang tersisa sebelum dia pergi hanya untuk melihat kami menikah.” Ekspresi Bara masih bertahan sama. Perlahan Btari mengangkat wajah. Memberanikan diri menatap mata Bara yang memerah. “Bara…,” panggil Btari lirih. ”Kamu tahu, kan… bagaimana arti Tante Ve bagi hidupku?”
“Lalu… bagaimana dengan aku?” tanya Bara. “Aku yang mencintaimu mati-matian, mengapa tidak pernah kamu pikirkan?”
Btari menggeleng lemah. “Aku sudah berusaha menghubungimu, Bara! Untuk menunjukkan pada mereka bahwa aku memilikimu. Tapi, tidak pernah bisa. Aku terjebak dan tidak bisa berbuat apa-apa.”
“Huh…,” Bara mendesah kuat. Mengatup matanya rapat-rapat. Merutuki kealpaannya. Ya… andai saja ia tidak egoistis. Menyisakan sedikit waktu untuk terus menghubungi Btari, pasti semua tidak akan terjadi. Meninggalkan Btari tanpa kabar, demi obsesi petualangannya menjelajahi Alaska, menyisakan realitas yang sangat menyakitkan.
Hanya beberapa kali ia menghubungi Btari, saat ia dan timnya baru mendarat di Anchorage, kota terbesar di negara bagian Alaska. Sebelum keluar dari kota itu, menjelajahi tanah-tanah kasar dan liar Alaska yang hampir tak berpenghuni, ditutupi tundra beku tanpa pepohonon di bagian utara, yang hanya dapat dicapai dengan pesawat udara. Menganggap kekasihnya tak mungkin terenggut. Tanpa firasat. Perlahan Bara membuka mata. Menatap Btari dengan ekspresi yang sedikit melunak.
“Aku rela kamu salahkan, karena aku tidak bisa setia padamu, Bara. Tapi, aku mohon… mengertilah kondisiku saat itu,” kata Btari dengan tatapan memelas. Memohon pengertian Bara dengan sangat.
Mata Bara yang memerah menahan kemarahan, perlahan mencair. Diusapnya air mata yang mengalir deras di pipi Btari dengan lembut. Ia tak sanggup melihat Btari terluka lagi. Untuk sesuatu yang bukan sepenuhnya kesalahan Btari. Ya… selama hampir setahun mereka berpacaran, belum sekali pun ia memperkenalkan diri sebagai kekasih Btari kepada keluarganya. Hanya dua kali ia mengantar Btari pulang, itu juga sebatas pintu pagar rumahnya saja. Selebihnya, mereka selalu bertemu di pusat-pusat keramaian atau kedai kopi, di antara waktu break shooting yang singkat, untuk kemudian ia berangkat kembali, meningggalkan Btari dalam waktu yang lama. Perlahan Bara merengkuh tubuh Btari yang rapuh masuk ke dalam dekapannya.
Isak Btari pecah.
Rasa sakit itu meledak dengan cepat. Dari detik ke detik, menuju menit demi menit yang begitu menyiksa. Membeku dalam lorong ketidakberdayaan yang panjang, hingga sebuah jalan mendadak berkedip cepat dalam lokus pikiran Bara.
“Btari…,” panggil Bara tiba-tiba. Menarik tubuh Btari dari pelukannya. Menjauh beberapa senti ke belakang.
Btari tersentak. Isaknya seketika reda.
“Kamu mencintainya?”
Btari terenyak. Tak menyangka Bara akan menanyakan hal itu.
Bara menatap tajam. Tak sabar menunggu penjelasan. Sedetik, dua detik, satu menit berlalu. Tak ada jawaban. Bara segera mengambil kesimpulan.
“Bukan bermaksud untuk mengungkit-ungkit kembali luka itu, tapi sekarang Tante Ve telah tiada.”
Kening Btari langsung berkerut kencang.
“Ikutlah denganku!” pinta Bara.
Mata Btari langsung membulat tajam.
“Kita akan menjadi teman seperjalanan yang saling menguatkan.”
Tak ada jawaban.
“Tiap pagi aku bisa merasakan kopi buatanmu. Kapan pun kamu lelah, kamu bisa bersandar di bahuku.”
Masih tak ada jawaban.
“Tidak perlu lagi ada kesedihan. Tidak perlu lagi air mata ini.” Bara mengusap air mata di pipi Btari lembut.
Suasana tambah hening. Senyap.
“Masih banyak waktu untuk berpikir, sebelum aku dan tim berangkat seminggu lagi. Aku tidak akan memaksa, Btari. Tapi, aku dapat merasakan apa yang kamu inginkan, dan saat hari itu tiba, aku sangat yakin, kamu akan datang dan menggenggam tanganku.”
Kini kamar Catleya benar-benar sepi, dan hening. Hanya dua pasang mata saling menatap dan terus menatap. Bertukar rasa dalam tanya yang tak terjawab.
Topic
#FiksiFemina

![Cerber: Sebatas Aurora [1]](https://femina.co.id/images/images_article/da618399615da5519cbca3e962e29ee6.jpg)
![Cerber: Sebatas Aurora [3]](https://femina.co.id/images/images_article/1e61bd54b705225139ad10d15ee51fbb.jpg)

