Fiction
Cerber: Sebatas Aurora [2]

3 Jun 2017


 
Rumah Sakit Telaga Hijau, 15.45 WIB
            BTARI BERLARI KECIL di koridor rumah sakit. Langkahnya terseret. Terlihat jelas ia sedang tergesa-gesa. Wajahnya tegang. Menyiratkan kecemasan yang dalam. Berkali-kali Btari menyembunyikan helaian rambut lurusnya yang tergerai di balik telinga dengan jari-jari tangan yang bergetar. Menggigit-gigiti bibir merahnya, membunuh keresahan. Tatapan matanya awas mencari sebuah ruangan.
            Di depan sebuah pintu yang tertutup rapat mendadak langkah Btari terhenti. Membaca tulisan yang tertera di hadapannya. CATLEYA. Dengan cepat Btari mendorong pintu itu dalam sekali gerakan. Sesaat Btari terpaku. Menatap tubuh penuh perban yang tergolek lemah di atas ranjang. Mengamati dengan cermat dan teliti. Sedetik kemudian tubuh Btari menghambur jatuh. Air matanya tumpah tak terbendung.
            “Hei, jangan cengeng begini, Btari!” bisik Bara lembut, tepat di telinga Btari. Btari mengangkat wajah. Menatap Bara pilu bersama isaknya yang kian meradang. Dengan menahan rasa sakit yang ditutupi, perlahan Bara membawa tubuhnya bangkit, bersandar di tepi ranjang.
          “Aku baik-baik saja,” jelas Bara kemudian. Melepas senyum getir yang dipaksakan. Kepala Btari langsung menggeleng lemah. Menatap Bara tak percaya.
          “Cuma kecelakaan kecil,” lanjut Bara lagi. Mencoba menenangkan Btari. Tapi… bukannya surut, tangis Btari malah pecah. Wajah Bara langsung berubah panik. Diusapnya air mata yang mengalir deras di pipi Btari dengan lembut. Reaksi Btari sungguh membuatnya bingung.
“Kamu benar-benar membuatku takut, Bara,” ucap Btari, di antara isaknya yang tertahan. Bara makin tak paham. “Aku… aku takut kehilanganmu!” Btari terbata. Menghambur jatuh dalam pelukan Bara kembali. Membenamkan wajahnya di dada Bara, lebih dalam. Tak ada kepura-puraan lagi seperti pertemuan di Café Gladiola tiga hari yang lalu. Terlalu sakit rasanya memendam perasaan ini sendirian. Btari ingin Bara tahu apa yang selama ini dirasakannya.
Bara benar-benar tak percaya. Kata-kata Btari seperti obat yang disesap nadinya. Melenyapkan sakit. Dipeluknya  Btari lebih erat. Sangat kuat. Seperti tak ingin melepaskannya lagi.
Detik-detik romantis itu pulang tanpa diduga-duga. Terlalu lama rindu di hati keduanya tertimbun dan membubung. Terbelenggu jaring waktu tanpa kunci yang membebaskan. Kini… semua rasa itu tumpah dengan jelas di kamar rumah sakit. Tak ada lagi yang ditutupi. Semua kerinduan itu lebur dan tuntas.
“Aku bahagia sekali, Btari, akhirnya bisa menemukan kamu yang dulu lagi,” bisik Bara, haru.
“Sampai kapan pun aku tetap Btari yang sama.”
“Tapi, sikapmu tiga hari yang lalu sangat berbeda.”
“Maafkan aku!” desah Btari menyesali.
“Harusnya dari awal kita bisa jujur tentang perasaan ini.”
“Kondisiku. Posisiku. Aku mohon… mengertilah!”
“Ya… ya… aku mengerti. Berusaha untuk mengerti.” Bara mengatup matanya kuat-kuat. Mendesah pelan.  “Walau rasanya sulit bagiku. Teramat sakit.”
“Tapi tolong!” Btari menarik perlahan tubuhnya dari pelukan Bara. Melepas pandangannya ke sekujur tubuh Bara. Menggeleng lemah. “Jangan lakukan tindakan bodoh seperti ini lagi!” pinta Btari dengan sangat. Menatap Bara dengan bias kecemasan yang terlihat jelas.
Wajah Bara langsung tertunduk dalam.
“Harusnya tidak seperti ini, Bara!” Ada penekanan yang tak kentara dalam suara Btari, tapi cukup terasa. Direngkuhnya pipi Bara dengan kedua tangan. Mengajak mata Bara untuk menatap  matanya lurus-lurus ke dalam. Bara mengelak. Dengan cepat dipalingkannya wajah, menatap ke luar jendela. Menutupi keresahannya.
“Bara yang kukenal adalah lelaki kuat, tangguh, dan penuh semangat menjalani hidup. Bukan rapuh seperti ini!”
Bara mendesah.
 “Kenapa Bara?” tanya Btari penuh tekanan. Merengkuh kembali wajah Bara dengan jemarinya kuat-kuat. Sementara mata sendu Btari menatap tajam. Tepat ke manik mata elang Bara yang merapuh.
Ok ok…,” Bara mengalah. Menarik tangan Btari dari wajahnya dengan cepat. Menggenggamnya dengan erat. “Aku akui, aku tidak sekuat yang terlihat. Tidak setegar yang kamu bayangkan. Kehilangan kamu, benar-benar membuatku hancur, Btari!” jelas Bara,dengan vibrasi yang terdengar jelas.
“Tapi, melarikan mobil dengan kecepatan tinggi setelah minum bukan jalan penyelesaian,” balas Btari tak kalah tajam.
“Lalu aku harus bagaimana?” Btari terdiam. “Apa yang harus kulakukan agar dapat keluar dari situasi ini!” suara bariton Bara menandak tajam. Wajah Btari langsung tertunduk dalam. “Ayo, jelaskan Btari, jangan hanya diam!” Bara menggoyang pundak Btari. Memohon jawaban. Mata Btari malah terpejam.
“Hari-hari berat yang kujalani di Alaska tak sebanding dengan rasa sakit karena kehilanganmu. Beberapa kali aku harus bertarung dengan beruang yang tiba-tiba muncul mengganggu ketenangan tidur malam kami di tenda, makan dari tanaman liar karena perbekalan yang makin menipis, berjalan ratusan mil dan kadang harus memutar arah karena musim panas membuat salju mencair dan sungai-sungai meluap tak dapat dilintasi. Tapi, tak sekali pun aku berkhianat, walau hanya di dalam pikiran. Hanya empat bulan saja aku meninggalkanmu, Btari. Empat bulan!!! Tapi, lihat dirimu sekarang!!!” Bara membuka tangannya lebar-lebar. Menatap Btari tajam dengan sinar mata yang berkecamuk. “Kamu sudah menjadi istri orang!” teriaknya. Sedetik kemudian tubuh Bara mengempas kuat ke sisi ranjang, sementara kepalan tangannya menghunjam bantal, hingga terdengar suara berdebam kencang. Tak ada lagi yang ditutupi. Kekecewaan yang terpendam selama tiga hari, kini menguap sudah.
Air mata Btari menitik jatuh.
 


Topic

#FiksiFemina

 


polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?