Dia memandangku bingung. Tapi aku mulai mengenalnya. Aku tahu, dia tak akan memaksa.
“Kupikir, akulah yang harus menjelaskan tentang diriku. Supaya kau bisa memutuskan, kau masih ingin bersamaku atau tidak,” sambungku.
Dia memandangku heran. Aku memutuskan membuat pengakuan. Kututup wajahku dengan kedua tangan. Kusandarkan kedua siku tanganku ke atas paha. Saat ini aku merasa ingin lenyap, supaya aku tak harus membuat pengakuan ini. Supaya aku tak usah melihatnya marah.
“Tadi aku menemui dia.” Kupaksakan diriku berbicara.
Tangannya terangkat dari bahuku.
Aku tak berani mengatakan, bahwa aku berpelukan dengan Parulian. Aku takut dia tahu bahwa akulah yang menggoda Parulian. Yang kulakukan cuma menangis dan mengharapkan dia tahu sendiri, bahwa aku bukan sekadar bertemu Parulian.
Pasti dia sangat sedih melihat aku masih menangisi Parulian.
Perlahan-lahan tangisku reda. Ketika aku berhenti menangis, kulihat dia sedang memandangiku. Apa yang dipikirkannya?
“Sebaiknya kau istirahat dulu. Aku juga agak capek, biarlah aku pulang dulu.” Dia berbicara memecah keheningan.
Aku mengangguk pasrah. Aku juga tak ingin dia di sini, hanya untuk melihatku menangisi lelaki lain.
Kami berjalan tanpa suara menuju motornya di luar pagar. Di atas motor dia berkata, “Kalau tidak ada halangan, hari Jumat aku datang.” (Bersambung)
Baca juga:
Cerber: Intan yang Kucari [1]
Cerber: Intan yang Kucari [2]
Cerber: Intan yang Kucari [4]
.****
Rewinta Tampubolon
Topic
#fiksifemina


