Fiction
Cerber: Intan yang Kucari [3]

2 Jul 2017


Tigor….
Bagaimana dia bisa salah menilaiku? Mengapa dia bisa jatuh cinta padaku? Aku bukan perempuan yang baik, sungguh tak pantas untuk laki-laki biasa, apalagi untuk seorang pendeta.

Aku menangis dengan perasaan merana di kamarku. Aku terombang-ambing oleh perasaanku. Bagaimana bisa aku mencintai Parulian dan Tigor di saat yang bersamaan? Bagaimana bisa, aku yang baru semalam mengatakan mencintai Tigor, hari ini membuat pengakuan bahwa aku merindukan Parulian?

Bagaimana kalau Tigor tahu, bahwa perempuan yang dicintainya, mencintai suami orang?  Perempuan itu memancing suami orang, untuk datang menemuinya di tempat sepi, lalu memeluk lelaki itu. Apa kata Tigor tentang perempuan seperti itu?

Entah jam berapa, ketika kudengar pintu kamarku diketuk. Rupanya aku tertidur.
“Ada Pak Pendeta,” kata adikku, setelah aku membuka pintu kamar.
Aku merasa lesu. Bagaimana aku menghadapinya?
“Temani dia dulu, ya. Aku mau mandi sebentar,” pintaku, sambil menyambar handuk.

Rupanya dia sudah di ruang tamu. Aku jadi malu dia melihatku acak-acakan sebangun tidur. Untunglah dia cuma tersenyum saja.

Di meja sudah terhidang dua gelas sirop dan sestoples kue.
“Apa kau sudah makan?” tanyanya lembut, setelah aku duduk di dekatnya.
Aku menggeleng. Makan apa? Aku bahkan tidak tahu, ini jam berapa. Kulongok pandang, di luar ternyata sudah gelap. Kulihat jam, sudah pukul tujuh rupanya. 
“Aku juga belum. Mau cari makan dulu?”
“Tidak usah. Kami memasak.”

Sebentar kemudian, kami sudah menikmati nasi, lalapan dan rendang. Hidangan khas keluarga kami di hari Natal.  Baru kusadari, aku sangat lapar. Terakhir kali aku makan adalah kemarin sore, sebelum berangkat ke gereja bersama Tigor.

Sambil makan, Tigor beberapa kali memandangiku. Aku pura-pura tak tahu. Aku tak berani membalas tatapannya, takut dia melihat dosa di mataku.

“Rendangnya enak,” pujinya sambil menambah nasi. Ucapannya malah membuatku  makin resah. Semua makanan yang kusuap, terasa hambar di mulutku.

Aku berulang-ulang meneleponmu. Tapi tidak bisa masuk,” dia memberi tahu.

Tentu saja, sebab sepulang bertemu Parulian, telepon itu sengaja kumatikan. Aku takut kalau Parulian atau Tigor menghubungiku. Aku tak berani.
“Tadi kepalaku agak pusing. Telepon sengaja kumatikan, biar aku bisa tidur.”
Dia memandangku prihatin.

 “Apa kita bisa membicarakan hal-hal yang serius sekarang?” tanyanya memecah keheningan.
Aku sudah bisa menduga ke mana pembicaraan ini menuju. Aku merasa tak bertenaga. Jantungku bagai berhenti berdetak. Mengapa harus malam ini?

“Aku juga perlu tahu, apakah setelah kau mengetahui tentang konsekuensi pekerjaanku, tentang penghasilanku, kau masih mantap untuk terus bersamaku atau tidak.” Dia masih terus bicara. Aku masih lemas juga. Tapi aku merasa harus bicara. Harus. Harus….

“Bisakah kita menunda bicara soal itu? Aku belum siap.”
 


Topic

#fiksifemina

 


polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?