Ekspektasi apa yang ingin kita dapatkan saat mengembara dalam karya dari desainer couture yang selama ini dikenal sering mengedepankan kekayaan warisan budaya Asia?
Gaya Gothic dengan sentuhan Nusantara. Foto: Dok. Adrian Gan/The Leonardi
Yang pasti, saat menonton presentasi koleksi couture terbaru Adrian Gan bertajuk Séance pada 2 Desember lalu di Hotel Mulia Senayan, Jakarta, detak jantung jadi tak menentu. Euforia terselip perlahan, menyaksikan keindahan satu per satu koleksi yang melintasi runway dengan dekorasi termasuk jam dinding meleleh.
Séance, yang artinya duduk melingkar bersama memanggil arwah, jadi simbol bersatunya memori, imajinasi, dan identitas kreatif yang dibangun sang desainer selama 4 dekade.
Saat meyaksikan koleksi ini, para penonton seakan ikut jadi bagian dari ritual, ingatan, dan jiwa yang Adrian hadirkan. Mirip ikut dalam petualangan Alice in Wonderland namun dalam versi surealisme.
Adrian mempertemukan kembali fragmen masa lalu—karya, klien, pengalaman, dan mimpi—yang kemudian ia rancang ulang dalam bentuk visual baru.
Koleksi pertama dan terakhir, yang menggabungkan memori, imajinasi dan identitas sang desainer. Foto: Dok. Adrian Gan/The Leonardi
Sentuhan surealisme hadir dalam siluet tak beraturan dan motif-motif unik, termasuk wayang, peralatan makan, hingga reinterpretasi batik, yang semuanya menyorot estetika khas Indonesia versi Adrian Gan.
Dalam pengembaraan visual ini, craftsmanship mumpuni ia tunjukkan dalam beragam detail yang mengundang kagum, seperti crinoline, korset, dan bordir mewah.
“Koleksi ini adalah ekspresi emosi saya dalam 40 tahun berkarya,” ujar Adrian Gan, seusai show.
Ada 40 looks yang menggabungkan inspirasi dari berbagai sumber; kekangan elegan era Victorian, atmosfer Gothic, kebebasan surealisme, romantisme, serta kekuatan akar budaya Indonesia. Karya-karya ini mengeksplorasi struktur desain, layering, permainan tekstur, dan pertemuan bahan antik dengan material modern.
Koleksi ini memang menegaskan kecintaan Adrian pada material vintage yang sarat makna dan sejarah. Ia kembali melakukan perburuan dan restorasi bahan antik, mulai dari lace, hingga patchwork era Victorian.
“Ada bahan yang sudah disimpan dari 20 tahun silam,” ungkap Adrian, yang mengaku mencari bahan untuk koleksi couture di Tanah Air adalah salah satu tantangan terbesarnya menyiapkan koleksi ini.
Adrian Gan menyumbangkan sebagian keuntungan dari show ini untuk korban bencana banjir di Sumatra. Foto: Dok. Adrian Gan/The Leonardi
Menurut Adrian, menyenangkannya dari bahan antik adalah sebagian besar terbuat dari natural resources, sehingga mudah dieksplorasi dan menghasilkan efek yang ia inginkan untuk busana couture.
Tampilan keseluruhan koleksi yang benar-benar memanjakan mata ini disempurnakan aksesori karya Rinaldy Yunardi yang menyatu dengan cerita tiap busana, dan sepatu Yongki Komaladi yang menginjeksikan elemen playful. Selebrasi visual dari perjalanan kreatif 4 dekade yang mengesankan!
Baca juga:
Cerita tentang Ketangguhan dan Keindahan di Koleksi Terbaru Studio 133 Biyan
12 Inspirasi Gaya dalam Warna Utama 2025
Masker Adibusana Adrian Gan
Zornia Harisantoso



