Nelayan Indonesia, garda depan penangkap ikan tuna terbaik. Foto: Dok. Tuna Talks
Sebagai salah satu produsen ikan tuna terbesar dan terbaik di dunia, Indonesia boleh sedikit bangga karena nilai ekspor tuna Indonesia telah melampaui 1 miliar dolar AS pada tahun 2025.
Menembus angka tersebut berarti industri tuna Indonesia memasuki fase baru transformasi. Sektor ini tidak lagi sekadar bertumpu pada volume produksi, tetapi mulai bergerak menuju industri bernilai tambah yang menggabungkan keberlanjutan, inovasi, dan pendekatan berbasis pasar.
Momentum ini menjadi sorotan dalam Tuna Talks 2026, yang diselenggarakan oleh Tuna Consortium di Jakarta memperingati World Tuna Day atau Hari Tuna Sedunia pada 2 Mei.
Tema From Ocean Science to (Pop) Culture: Reimagining Indonesia’s Tuna Future jadi semangat forum ini dalam mempertemukan pemangku kepentingan lintas sektor–mulai dari pemerintah, industri, akademisi, hingga pelaku ekonomi kreatif–untuk membahas arah masa depan industri tuna Indonesia.
“Dengan tekanan terhadap stok yang semakin nyata, kita perlu beralih ke pendekatan berbasis nilai, sehingga setiap ikan dimanfaatkan secara optimal,” ujar Thilma Komaling, Program Lead Indonesia Tuna Consortium.
Berdasarkan data Kementerian Perdagangan RI, nilai ekspor tuna Indonesia sebesar 1,038 miliar dolar pada 2025 sebagian besar datang dari pasar utama, yaitu Amerika Serikat, Thailand dan Jepang. Produk seperti tuna olahan dan filet kini mendominasi ekspor, menandakan pergeseran dari komoditas mentah menuju produk dengan nilai ekonomi lebih tinggi.
Seiring meningkatnya permintaan global terhadap produk seafood berkelanjutan, aspek tata kelola dan transparansi menjadi prinsip utamanya. Pemerintah terus memperkuat pengelolaan perikanan tuna melalui pendekatan berbasis kuota, pengawasan, serta sertifikasi internasional.
Di sisi lain, pemanfaatan teknologi dan data mulai memainkan peran penting dalam mendukung transformasi industri. Inisiatif berbasis digital dan kecerdasan buatan memungkinkan pengumpulan data perikanan lebih akurat dan transparan, sebagai fondasi penting dalam pengelolaan stok ikan dan peningkatan kepercayaan pasar.
Syarif Abd. Raup (Direktur Pengelolaan Sumber Daya Ikan KKP RI), Michella Irawan (Founder dan CEO Collabit), Thilma Komaling (Program Lead Indonesia Tuna Consortium), Retno Anindita (Head of Marketing Ocean Pure), Ari Satria (Direktur Pengembangan Ekspor Jasa dan Produk Kreatif Kemendag RI). Foto: Dok. Tuna Talks 2026
Inovasi memang kuncian dalam meningkatkan nilai tambah industri. Pendekatan pemanfaatan menyeluruh (100% utilization) mulai didorong untuk memastikan setiap bagian tuna dapat memberikan nilai ekonomi.
Dalam praktik konvensional, diperkirakan hingga 50% bagian tuna belum dimanfaatkan secara optimal, padahal bagian seperti kulit, tulang, dan sisik memiliki nilai ekonomi tinggi.
Kolagen dari kulit tuna, misalnya, berada dalam industri global yang diproyeksikan melampaui 9 miliar dolar AS pada 2030, sementara produk turunan seperti gelatin, biopeptida, dan bahan farmasi memiliki nilai jual lebih tinggi dibandingkan produk segar atau beku.
Pendekatan ini membuka peluang untuk menghasilkan nilai ekonomi berlipat dari satu ekor tuna tanpa meningkatkan tekanan terhadap stok, sekaligus memperkuat arah transformasi industri menuju model yang lebih efisien dan berkelanjutan.
Sebagai bagian dari upaya tersebut, Tuna Talks 2026 juga menampilkan peluncuran kolaborasi antara Collabit yang mengolah tuna di perairan Bitung, Sulawesi Utara, dengan restoran Padang Merdeka melalui menu inovatif Ayam Pop + Tuna Collagen.
Menu ini mengintegrasikan manfaat nutrisi tuna ke dalam hidangan popular, dan jadi makan siang para peserta Tuna Talks 2026. Rasa ayam pop yang lezat jadi makin gurih–tentunya dengan nutrisi ekstra.
Menu Ayam Pop + Tuna Collagen dari kolaborasi Padang Merdeka dan Collabit. Foto: Dok. Femina
Ocean Pure yang berpusat di Banda Aceh juga menciptakan nilai tambah dari tuna dengan mengolah bahan baku tuna menjadi produk kolagen berbasis ikan untuk kebutuhan kesehatan dan gaya hidup–dan halal. Produknya antara lain skincare untuk kulit sensitif.
“Dengan inovasi dan riset, kita dapat memperluas pemanfaatan tuna jauh melampaui konsumsi pangan. Ini bukan hanya soal nilai ekonomi, tetapi juga keberlanjutan dan resonansi kebudayaan kelautan,” ujar Prof. Budy Wiryawan, Science Advisor Tuna Consortium dan Chair Tuna Talks 2026.
Semakin berkembangnya permintaan terhadap produk turunan tuna bernilai tambah ikut membuka peluang bisnis baru di tingkat hulu. Hal ini bisa membantu mendorong peningkatan kualitas hasil tangkapan, sekaligus membangkitkan kembali gairah pelaku usaha perikanan dan komunitas nelayan untuk menjaga keberlanjutan sumber daya.
Nelayan bangga terhadap profesi mereka sebagai bagian penting dari rantai nilai industri tuna nasional, kita pun bangga karena tuna Indonesia makin diminati.... (f)
Zornia Harisantoso



