Deru motor dan asap pekat tiba-tiba memasuki gerbang Salihara. Pemandangan jalanan
sarat polusi udara dan suara layaknya
pemandangan sehari-hari di ibukota ini menjadi pembuka pertunjukan volution/groove
space pada akhir November 2015 lalu di Teater Salihara, Jakarta.
Tak lama penonton digiring mengikuti para penari yang bergerak menuju
ruang terbuka, hingga akhirnya memasuki ruang berkabut yang mengantar ke sebuah
taman buatan. Para penari berolah tubuh di antara penonton, sesekali mengajak
menari bersama atau sekadar berfoto bersama. Interaktif dan tanpa jarak,
sekaligus mengajak kita mengamati tubuh penonton menanggapi hal-hal yang
terjadi dalam keseharian di lingkungannya.
Kekhasan budaya klub yang membebaskan setiap orang bergerak sesuka hati dan menjadi bagian aktif dalam pesta itulah yang diadaptasi ke dalam pertunjukan tari. Bagaimana jika kesuksesan sebuah pertunjukan ditentukan oleh penonton? Inilah yang ingin dijawab oleh koreografer & peneliti tari kontemporer Sebastian Matthias dalam pertunjukan yang dipersiapkan dengan riset di ruang-ruang urban selama sekitar tiga pekan. “Peran penonton tetap sebagai pihak yang mengamati estetika, tetapi pada tataran yang berbeda, tanpa perlu menjadi penampil.”
Pertunjukan tari yang menjadi bagian dari perhelatan Jerman Fest di Jakarta itu merupakan hasil kolaborasi seniman seperti Irwan Ahmett dan Tita Salina, Iswanto Hartono, Cut & Rescue, dan Didiet Maulana. Setelah di Jakarta, proyek kolaborasi di Berlin ini juga rencananya akan ditampilkan di Dusseldorf, Tokyo, dan Hamburg.
(RW/FOTO: DOK. Komunitas Salihara/Witjak Widhi Cahya)


