Sanie B. Kuncoro/Gagas Media
Samara bersikap dingin pada Anom, suaminya, saat dirinya divonis tak bisa memiliki anak. “Aku mencintaimu karena apa yang kau miliki, bukan karena apa yang akan kau berikan kepadaku,” Anom menghiburnya. Meski demikian, Anom tak bisa menepis keinginan untuk memiliki keturunan. Ia sering bertanya-tanya, kepada siapakah dirinya akan terpajang sebagai kenangan? Dengan alur lambat namun memikat, novel ini menjadi drama yang tak tertebak akhirnya. (f)


