Shan Sa/Gramedia
Ibuku tak pernah menggendongku. Matanya tak berhasil menyembunyikan kekecewaannya. Ia menginginkan bayi laki-laki. Demikian Shan Sa menggambarkan suara hati Maharani Wu, seorang putri kaisar di abad ketujuh di Cina. Novel ini mengajak Anda melongok ke balik tembok Kota Terlarang, saat kecerdasan wanita menjadi ancaman, dan kemampuan mewujudkan cita-cita dilihat sebagai bencana. Tutur bahasa yang indah serta penceritaan dari sudut pandang orang pertama membuat cerita novel ini terasa lebih memukau, sekaligus pilu dan mengharukan. Dengan berani berjuang menjadi kaisar, Wu membawa pembebasan untuk kaumnya melalui pertentangan dan penderitaan.(f)


