Trending Topic
Kota-kota Tangguh di Indonesia

19 Jan 2016

“Resilient cities adalah kota-kota yang infrastrukturnya telah dibangun atau dipersiapkan untuk menghadapi dampak negatif dari perubahan iklim,” ujar Sekretaris Badan Perencana Pembangunan Daerah (Bappeda) Kota Semarang, Purnomo Dwi Sasongko. Dampak perubahan iklim itu antara lain gempa bumi, longsor, banjir, wabah penyakit, dan kelangkaan air bersih dan suplai makanan. Berikut ini beberapa kota di Indonesia yang membangun diri untuk menjadi kota yang tangguh.

1. Semarang
Pernah dilanda banjir bandang, erosi pesisir, rob akibat kenaikan air laut, penurunan tanah dan tanah longsor, Kota Semarang yang berada di pesisir Jawa baru-baru ini berhasil lolos seleksi masuk dalam daftar 100 kota tangguh yang digagas oleh The Rockfeller Foundation.
Semarang merupakan satu-satunya kota terpilih menjadi perwakilan Indonesia dan juga Asia dalam program pengembangkan ketangguhan kota. Sebelumnya, Kota Semarang merupakan bagian dari program Asian Cities Climate Change Resilience Network (ACCCRN) yang dikelola oleh Mercy Corps Indonesia sejak tahun 2009. 
    Kelompok Siaga Bencana yang dibentuk di sana menjadi model untuk daerah lain yang melakukan studi pembelajaran di sana. Selain itu, strategi adaptasi perubahan iklim lainnya, yaitu di bidang mangrove dan kesehatan (pengendalian demam berdarah). Dengan melibatkan komunitas, dilakukan pembibitan mangrove, pengolahan hasil mangrove, dan kegiatan ekonomi lokal lain sebagai alternatif penghasilan tambahan masyarakat. Kawasan mangrove ini ke depannya akan dipersiapkan sebagai kawasan eko eduwisata. 
     
2. Blitar
Kelompok Kerja Perubahan Iklim Kota Blitar bersama BKM Kridhasari selama Mei 2014-April 2015 telah melaksanakan aksi peningkatan pendapatan masyarakat dengan menghasilkan 800 lubang biopori, 12 sumur resapan, dan 1 instalasi pemanenan air hujan dengan metode ground reservoir di kawasan agrowisata belimbing Kelurahan Karangsari.
    Perubahan iklim telah menurunkan produktivitas belimbing di musim kemarau hingga 25% di seluruh Kota Blitar. Diharapkan, dengan infrastruktur sederhana itu dapat membantu meningkatkan cadangan air tanah dan bisa menampung air hujan sebagai cadangan air di musim kemarau.

3. Tarakan, Kalimantan Utara
Sebagai kota pulau, Tarakan cukup rentan terhadap ancaman menjadi wilayah endemik demam berdarah dengue (DBD). Telur-telur nyamuk pembawa virus DBD ini dapat berkembang biak lebih cepat akibat peningkatan temperatur udara. Sebagai salah satu strategi adaptasi, dilaksanakan kegiatan ‘Topi Anti-DBD’ atau menutupi semua bak penampungan air untuk  mencegah nyamuk hinggap dan   bertelur di permukaan air.
    Penutup ‘topi’ dibuat berpori  sehingga bisa tetap menadah air hujan. Dinas Kesehatan Kota Tarakan mengimplementasikan ‘Topi Anti-DBD’ ini di kawasan permukiman pesisir Kelurahan Selumit Pantai yang rentan terhadap DBD tersebut. (f)



 


polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?