Survei femina terhadap 138 wanita usia 25-35 tahun pada akhir Agustus lalu mengungkap fakta bahwa dalam penggunaan kontrasepsi, jumlah wanita yang menginginkan pria menggunakan kontrasepsi sebanding, bahkan sedikit lebih banyak dari jumah wanita yang menginginkan dirinya sendiri menggunakan kontrasepsi. Ternyata, dalam hal merencanakan keahiran dan jumlah anak, wanita ingin pria turut berperan aktif. Di sisi lain, ada penolakan dari pria untuk berperan aktif dalam kontrasepsi karena berbagai alasan.“Kontrasepsi pada dasarnya hanya perlu dilakukan oleh salah satu pihak, istri saja atau suami saja. Selama ini fokus kontrasepsi memang masih pada wanita. Alasannya, selain karena wanita yang nantinya akan hamil, mencegah satu telur matang dan dibuahi sebulan sekali tentu lebih mudah daripada mencegah jutaan sperma yang dihasilkan tiap hari,” ujar Dr. dr. Indra G. Mansur DHES Sp.And dari Departemen Biologi Kedokteran, Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.
Kini, karena berbagai alasan, terutama kesehatan wanita seperti efek samping kontrasepsi, pria pun diharapkan untuk ikut berperan lebih. Tak dipungkiri, alat kontrasepsi wanita yang menggunakan hormon bisa menimbulkan efek seperti peningkatan berat badan dan perdarahan. Di sisi lain, ada pula wanita yang berisiko terancam kesehatan dan jiwanya jika hamil, misalnya memiliki gangguan jantung atau rahim.
Hingga saat ini, perkara kontrasepsi bagi pria memang tidak banyak pilihan yang bisa ditawarkan. Selama ini yang paling awam digunakan adalah kondom. Sayangnya, banyak orang, baik pria maupun wanita, yang merasa tidak nyaman menggunakannya.
Pilihan lain adalah vasektomi, yaitu mencegah keluarnya sperma dari testis dengan memotong saluran sperma. Sehingga, saat ejakulasi hanya air mani saja yang keluar namun tidak ada spermanya. Efektivitas kontrasepsi jenis ini hampir 100%, namun prosedur ini sifatnya permanen. Selain adanya kepercayaan yang melarang kontrasepsi permanen, jika pasien ingin memiliki keturunan lagi di kemudian hari, sangat sulit memperbaiki saluran sperma. Kelemahan-kelemahan itu membuat vasektomi menjadi pilihan terakhir untuk kontrasepsi.
Selain alasan tidak nyaman, menurut dr. Indra, kekhawatiran lain yang kerap membuat para suami enggan menggunakan kontrasepsi adalah pengaruhnya terhadap libido dan mengurangi kenikmatan saat berhubungan seks.
“Sebenarnya, para suami tidak perlu khawatir untuk menggunakan alat kontrasepsi untuk pria, baik yang sudah lazim saat ini, maupun metode yang mungkin diizinkan oleh lembaga pengendali obat seperti FDA. Karena untuk mendapat izin, metode kontrasepsi itu harus memenuhi beberapa syarat mutlak yaitu; aman, reversible, tidak mengurangi libido, efektif, dan tidak ada efek samping,” jelasnya.
Selain tak memengaruhi libido, menurut dr. Indra, penggunaan kontrasepsi justru bisa menambah kenikmatan seks. “Terbebas dari rasa khawatir akan terjadi kehamilan yang tidak diinginkan akan membuat suami-istri lebih nyaman dan dapat menikmati hubungan seks,” ujarnya. (f)


