Sex & Relationship
Kau Bukan yang Dulu Lagi

22 Jul 2015


Ada faktor-faktor penentu yang menyebabkan seseorang berubah perlahan-lahan, atau berubah drastis. Ketika orang berubah perlahan-lahan, biasanya ada pendahuluan atau preambule-nya. Kalau perubahannya adalah soal gaya hidup, misalnya jadi lebih sehat, pasti sebelumnya ia memang sudah terekspos oleh banyak hal tentang gaya hidup sehat.  “Mudah atau tidaknya untuk berubah ini biasanya akan dipertimbangkan dulu untuk beberapa waktu, dipikir-pikir dulu, patut atau tidak untuk dicoba,” jelas Nadya Pramesrani, psikolog dari Klinik Bingkai.
   
Sedangkan perubahan secara drastis yang tanpa pendahuluan, menurut Nadya, biasanya bisa terjadi karena orang tersebut mengalami suatu life event yang cukup signifikan. Misalnya, dari yang tadinya merokok tiba-tiba saja berhenti total karena ada orang yang dicintai meninggal akibat kanker paru-paru.
   
“Perubahan drastis seperti itu memang harus ada motivasi atau pemicunya yang mengena langsung psikologi seseorang, sebab logika saja tidak cukup. Misalnya dalam kasus perokok, kebanyakan orang sudah tahu bahayanya. Tapi, mereka masih bisa ngeles, berkelit, dan menunda-nunda untuk berhenti, kalau memang tidak ada pemicunya,” papar Nadya.
   
Dari berbagai sesi konseling yang ia lakukan, setahun belakangan ini Nadya juga menemui banyak sekali pasangan yang bertikai gara-gara membela partai atau kandidat presiden yang berbeda. Menurutnya, ini bukan hanya masalah politik, tapi masalah interest pasangan yang memang berjalan ke arah yang berlawanan. “Pasangan yang belum menikah mungkin mudah saja untuk putus hubungan. Yang sudah menikah, akan lebih sulit untuk menengahinya,” ujar Nadya.

Nadya menyarankan kepada mereka yang pasangannya berubah  untuk melihat kembali apakah dampak perubahan itu negatif atau positif. Lalu, seperti apakah dampaknya terhadap kualitas hubungan, terhadap keluarga dan relasi sosial lainnya. Namun, ia tidak menyangkal bahwa perubahan yang dampaknya positif pun, seperti yang dialami Onny, bisa juga membuat pasangan mereka jadi tidak nyaman. Dalam hal ini, Sarie tidak bisa juga sepenuhnya disalahkan karena merasa kehilangan atau tidak nyaman.
   
“Perasaan sebal atau jengkel karena pasangan berubah biasanya disebabkan oleh rasa malas untuk beradaptasi. Kalau memang perubahannya positif, berarti kita harus suportif dan memberikan effort lebih untuk mau berkompromi atau mencari jalan tengah,” katanya.
  
Perubahan yang terjadi pada pasangan juga harus dilihat apakah kira-kira sifatnya hanya temporer atau permanen. Tapi, ia juga mengingatkan bahwa selama perubahan itu membuat kita tidak nyaman, seharusnya kita tetap mengutarakannya pada pasangan. Dengan catatan, masalah ini dibicarakan ketika kita tidak sedang emosional dan suasana atau situasi dengan pasangan sedang positif.

“Sering kali wanita mendiskreditkan perasaannya sendiri sebagai sesuatu yang tidak penting. Tapi, kalau masalah ini lain waktu terungkit kembali, bisa jadi perasaan itu muncul lagi dan justru meledak-ledak. Jadi prinsipnya, begitu kita merasa bimbang apakah masalah ini penting atau tidak, artinya masalah ini sebetulnya cukup penting dan harus langsung dikomunikasikan dan dicari jalan tengahnya,” ujar Nadya.

PRIMARITA S. SMITA




 


polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?