Bagi beberapa perusahaan, menyelenggarakan office party merupakan salah satu cara untuk mengapresiasi karyawan mereka. Inilah wadah bagi para karyawan untuk bercengkerama dan menjadi lebih akrab di luar rutinitas sehari-hari. Dalam suasana yang kental sosialisasi dan jauh dari komputer ini, office party membuka kesempatan bagi siapa saja untuk mengenal rekan kerja, bawahan, serta atasan. Bahkan, menurut Ratih Pramanik, konselor dari Personal Growth, acara ini bisa menjadi tempat untuk menjual personal branding.
Membaur dalam Pesta
Office party adalah waktu yang tepat untuk mengenal karyawan lain yang mungkin selama ini jarang Anda temui, apalagi bertegur sapa. “Jadi, mingle itu wajib hukumnya. Buatlah diri Anda senyaman mungkin dan buka kemungkinan untuk bisa masuk dalam tiap kelompok yang hadir di pesta tersebut,” kata Ratih.
Lalu, bagaimana memulai sebuah percakapan? Tersenyum dan menyapa adalah pintu masuk untuk berbaur. Bekali diri dengan wawasan yang luas sehingga ada banyak topik pembicaraan yang bisa Anda lontarkan. Yang terpenting, jadilah diri sendiri, tidak perlu bersikap terlalu berlebihan. Norma utama yang harus Anda pegang adalah menjadi pribadi yang santun dan beretika serta berwawasan. Inilah kuncinya.
Anda bisa memulai pembicaraan tentang suasana pesta atau mungkin makanan dan minuman yang disajikan. Tapi ingat, bicarakan hal yang positif. Hal-hal yang sifatnya confidential sehubungan dengan pekerjaan sebaiknya tidak menjadi topik pembicaraan. Jangan sampai ‘dapur’ divisi Anda terekam orang lain.
Hal lain yang perlu dicermati adalah menjaga sikap. “Saat di pesta, besar kemungkinan Anda untuk bertemu dengan atasan. Tidak ada salahnya jika Anda menyapa atasan. Tapi ingatlah, jangan sampai Anda sengaja dan melakukan segala cara untuk mendekati atasan dengan tujuan untuk dipromosikan,” kata Ratih.
Lebih lanjut Ratih mengingatkan tentang penolakan yang mungkin saja datang dari sekelompok teman yang tak ingin berbaur dengan tamu lain. Dalam kondisi seperti ini, Anda harus mengevaluasi kembali hubungan ini. Bisa saja teman tersebut merasa minder sehingga hanya memilih untuk berada di zona nyamannya. Saatnya Anda untuk berani keluar dan membuka diri serta membaur.
Do:
Bersenang-senang sah-sah saja, tapi jangan lepas kendali. Biar bagaimanapun, reputasi Anda di kalangan kolega harus tetap dijaga.
Don’t:
Menggerutu atau berkomentar negatif tentang makanan atau suasana pesta kepada tiap orang yang Anda ajak ngobrol.
Datang Solo atau Plus One
Terkadang, karena undangannya pesta, rasanya mengajak pasangan adalah hal yang wajar saja. Padahal, tidak semua pesta yang diadakan oleh perusahaan itu memungkinkan Anda untuk membawa pasangan.
Memang, ada office party yang sengaja dibuat untuk keluarga besar perusahaan, sehingga kita bisa membawa pasangan dan anak. Tapi, ada pula yang khusus untuk internal perusahaan. Untuk yang satu ini, sebaiknya kita tak membawa pasangan, kecuali jika tercantum sebaliknya dalam undangan.
Menurut Ratih, lihat kembali tema acara pestanya. Jika office party tersebut memang turut mengundang pasangan, maka ajaklah pasangan. Jika pasangan berhalangan hadir, sampaikan permintaan maaf serta alasannya kepada atasan atau panitia pesta. Ini merupakan bagian dari etika pergaulan.
Bagi pasangan, menghadiri pesta kantor bisa saja menimbulkan rasa tidak nyaman. Bertemu dengan orang yang baru, apalagi ini adalah teman sekantor pasangan, tentu membebani dirinya agar bisa bersikap sempurna. “Di sinilah peran Anda sangat dibutuhkan, untuk membuat pasangan menjadi lebih nyaman,” jelas Ratih.
Sebelum acara, sampaikan tentang tema pesta, alasan diadakan, hingga siapa saja yang akan hadir. Sebutkan beberapa nama dan beri penjelasan siapa mereka, sehingga sebelum bertemu, pasangan sudah mendapatkan sekilas gambaran tentang orang-orang tersebut.
Saat pesta berlangsung, perkenalkan pasangan Anda dengan para tamu. Sampaikan sedikit pengantar mengenai siapa orang yang diajak berkenalan dan siapa pasangan kita. Dengan demikian, mereka dapat lebih mudah berbincang-bincang dan pasangan tak lagi merasa canggung. Meskipun terlihat sederhana, bagaimana cara Anda memperlakukan pasangan akan membentuk personal branding Anda di antara teman sekerja dan atasan.
Do:
Carilah teman yang bisa akrab dengan pasangan untuk Anda perkenalkan pertama kali. Hal ini akan membantu pasangan untuk lebih santai saat pesta.
Don’t:
Membiarkan pasangan duduk seorang diri, sedangkan Anda sibuk menyapa semua orang di dalam ruangan.
Tidak Berlebihan
Seharian bergelut dengan pekerjaan, apa yang Anda lihat dari rekan kerja atau atasan hanya sebagian kecil dari kepribadiannya. Hal serupa terjadi pula pada penilaian mereka terhadap Anda. Maka, kepercayaan diri dan cara Anda bergaul dalam lingkungan yang sifatnya lebih informal, seperti pesta kantor, akan memperkuat personal branding Anda di hadapan mereka.
Saat berada di pesta, bersikap yang wajar dan jadilah diri Anda yang terbaik. Tidak perlu mencari muka atau berpura-pura di depan atasan. Karena, kepura-puraan yang Anda lakukan pada akhirnya akan terlihat. “Jika memang bukan bagian Anda untuk mengecek katering atau kelengkapannya, tak perlu menyibukkan diri dengan hal tersebut. Biarkan panitia yang bertanggung jawab yang melakukannya. Jika ia membutuhkan pertolongan, Anda boleh membantunya,” jelas Ratih.
Menjaga sikap berarti juga bersikap ramah kepada tiap orang yang Anda temui. Bahkan, jika Anda secara tak sengaja berpapasan dengan seseorang yang tidak Anda sukai. Tak ada salahnya jika di pesta ini Anda menegur dan menyapanya. Tanyakan kabarnya, siapa tahu di akhir pembicaraan Anda bisa menemukan hal yang menarik tentangnya. Ia pun akan mengingat Anda dan memasukkan Anda dalam daftar teman dari divisi lain, miliknya. Menyenangkan, bukan!
Sayangnya, memang tidak tiap orang yang kita temui di acara pesta kantor adalah orang-orang yang menarik untuk kita ajak bicara. Jika menghadapi situasi seperti ini, saran Ratih, jangan terburu-buru mengambil langkah seribu dan meninggalkan lawan bicara begitu saja. Katakan, Anda izin ke toilet, atau cukup katakana, “Daaah… sampai nanti.”
Do:
Datang tepat waktu dan sebaiknya pulang setelah atasan meninggalkan pesta.
Don’t:
Terus mengikuti dengan siapa pun atasan mengobrol, dengan tujuan untuk menarik perhatiannya.
Curi Perhatian lewat Penampilan
‘Jualan’ yang paling halus tentang siapa kita saat berada di tengah keramaian, seperti pesta kantor, adalah melalui penampilan. Coba perhatikan hal-hal ini. Sudah serasikah penampilan Anda? Bersihkah pakaian yang Anda kenakan? Sesuaikah tataan rambut Anda?
Sekarang ini sering kita menemui dress code untuk berbagai acara. Menurut Ratih, sebagai tamu, sudah sepatutnya Anda memenuhi dress code yang diminta oleh penyelenggara acara. Ini merupakan bagian dari cara Anda menghormati tuan rumah. Apalagi jika yang menjadi host pesta adalah atasan sendiri.
Meski pesta kantor diadakan dalam suasana informal, tetap penting bagi Anda untuk memperhatikan busana yang Anda kenakan. Yang paling aman, pilih busana sesuai tema, kasual namun tetap sopan. Jangan sampai Anda salah kostum. “Penampilan juga harus ditunjang dengan tubuh yang bersih dan wangi. Badan yang wangi dan mulut yang segar akan membuat kepercayaan diri Anda meningkat,” kata Ratih.
Do:
Luangkan waktu untuk menata rambut Anda di salon langganan.
Don’t:
Mengenakan rok yang terlalu mini atau belahan yang terlalu tinggi serta atasan yang terlalu rendah.
Hindari Bergosip
Memulai pembicaraan dengan sebuah gosip memang paling bisa menarik perhatian orang di sekitar. Tapi, menurut Ratih, ini bukanlah langkah yang bijaksana. Ia menyarankan agar tidak terjebak dalam lingkaran gosip di perusahaan. Mengapa? Pertama, Anda tidak tahu duduk permasalahan yang sebenarnya. Kedua, kita tidak tahu siapa orang yang kita ajak bicara. Bisa jadi, apa yang Anda sampaikan bisa ‘dipakai’ untuk kepentingannya atau orang tersebut ternyata ‘CCTV’ perusahaan sehingga apa yang dia lihat atau dia dengar bisa sampai ke manajemen.
Bagaimana jika rekan bicara Anda di sebuah pesta yang melemparkan gosip tersebut? Dalam situasi ini, sebaiknya tunjukkan senyuman Anda, tapi jangan berikan komentar apa pun. Terkadang kita boleh saja mendengarkan gosip, tapi juga harus bisa menjaga objektivitas dan tentu saja wawas diri.
Saran Ratih, sebaiknya mencari cara yang sopan dan baik untuk menghindar dan tidak meneruskan pembicaraan tersebut. “Pamit saja. Katakan ingin cari minum atau mau menyapa teman lain, atau keluar sebentar untuk menelepon,” jelas Ratih.
Do:
Ngobrol tentang topik-topik ringan di luar urusan pekerjaan.
Don’t:
Menambahkan cerita pada gosip yang sedang disampaikan seseorang yang baru saja Anda temui.
FAUNDA LISWIJAYANTI


