Kabar pisah ranjang sering kali melanda para selebritas dan pasangannya. Seperti gosip terbaru tentang pasangan Beyonce dan Jay-Z, yang dikabarkan pisah ranjang lantaran keduanya makin sibuk dengan album terbaru mereka. Memang, bagi banyak pasangan, ketika hubungan kian memburuk, pisah ranjang menjadi jalan untuk mencari solusi masalah. Sayangnya, tak sedikit pula pasangan yang digosipkan pisah ranjang ini akhirnya berujung pada perceraian.
Pisah ranjang memang bisa menjadi ‘gencatan senjata’ sementara untuk mendinginkan situasi yang memanas antara Anda dan pasangan. Tapi, jika masalah yang ada dibiarkan berlanjut tanpa penyelesaian, bisa jadi bukannya kedekatan yang didapatkan kembali, tapi justru keinginan untuk benar-benar berpisah. Lantas perlukah pisah ranjang bagi pasangan yang tengah menghadapi pertengkaran?
Memilih untuk pisah ranjang saat menghadapi konflik dengan pasangan, menurut Monty Satiadarma, psikolog, merupakan wujud dari perilaku menghindar (avoidance behavior). Biasanya, seseorang mengambil langkah menghindar ini sebagai antisipasi konflik yang lebih lanjut. Berikut ini adalah beberapa tip dari Monty:
>>Untuk menyelesaikan sejumlah masalah yang sederhana, menghindar sementara boleh jadi bisa menjadi solusi. Tinggal menunggu waktu agar konflik mereda dan suasana hati lebih tenang. Tapi, jika pertengkaran yang terjadi akibat masalah yang prinsip, pisah ranjang hanya akan menunda bangkitnya kembali masalah lama yang belum tuntas. Cara sehat adalah dengan membicarakan langsung serta mencari solusi bersama.
>>Biasakan diri untuk tidak menghindar ketika sedang konflik. Sebaiknya pasangan duduk bersama untuk mencari solusi dan mengupayakan penyelesaian masalah. Menghindar hanya akan menambah jarak di antara pasangan, karena menghindar sama halnya dengan memisahkan diri satu sama lain.
>>Memang, tak bisa dipungkiri, ketika menghadapi masalah dengan pasangan, kita kerap kali menjadi lebih emosional saat berhadapan dengannya. Anda pun kerap memilih untuk menjauh, agar masalah tak makin meruncing. Di sinilah dibutuhkan kedewasaan Anda saat berkomunikasi dengan pasangan. Anda berdua memang harus belajar mengendalikan emosi. Sadari bahwa rumah adalah tempat bernaung bersama. Jangan jadikan rumah sebagai medan pertempuran, melainkan sebagai tempat bersama-sama.
>>Ketika membicarakan tentang sebuah masalah, jangan lakukan di sembarang tempat. Pilihlah satu tempat yang nyaman, seperti ruang tamu, untuk Anda dan pasangan berdiskusi santai. Sebaiknya hindari berdebat di meja makan, tempat tidur, dan ruang keluarga. Ketika Anda sedang membicarakan masalah dengan pasangan di ruang tamu, hentikan diskusi jika sudah pindah ke ruangan yang lain. Melokalisasi wilayah konflik ini penting agar tidak ada ketegangan yang besar di area rumah.
>>Ketika Anda dan pasangan tak menemukan solusi di pembicaraan pertama, bukan berarti masalah tersebut selesai. Jangan dipaksakan, berikan waktu bagi Anda dan pasangan untuk melanjutkan diskusi di waktu yang lain. Tapi ingatlah, diskusi haruslah dilakukan di ruangan yang memang sudah Anda berdua putuskan sebagai tempat diskusi. Di luar itu, jangan dilanjutkan.
>>Untuk menghindari keributan karena salah satu pihak emosional, hal pertama yang harus dilakukan adalah membatasi masalah yang hendak diatasi bersama. Karena masalah yang ada tidak bisa diselesaikan secara serentak, tetapi harus bertahap satu demi satu, mulai dari yang paling sederhana. Pasangan juga harus saling mendengarkan. Agar komunikasi berjalan lancar, sebaiknya jangan potong pembicaraan ketika pasangan Anda tengah menyampaikan pendapatnya. Dengarkan pendapatnya.
>>Daripada berdebat tentang siapa yang salah, sebaiknya tekankan pembicaraan Anda berdua pada alternatif solusi yang diinginkan. Bicarakan alternatif solusi itu satu per satu dengan mempertimbangkan keunggulan dan kelemahannya. Tahan ego Anda berdua, karena belum tentu solusi yang Anda sampaikan lebih baik dari pasangan. Sebaliknya, mendengarkan solusi yang ditawarkan pasangan akan membuat Anda berdua menemukan penyelesaian masalah dengan kelemahan yang paling minim untuk disepakati bersama.
>>Agar penyelesaian bisa tercapai, jangan cepat-cepat beralih ke hal yang lebih kompleks sebelum yang sederhana teratasi. Jika memang Anda berdua sudah tak bisa lagi menemukan solusi bersama, cobalah meminta bantuan pihak ketiga, dalam hal ini tenaga profesional seperti couple counselor.
Faunda Liswijayanti



