Sex & Relationship
Pisah Ranjang Solusi untuk Atasi Konflik? Ini Jawabannya

19 Jan 2017


Foto: 123RF
 

Suami-istri berkonflik itu sudah biasa. Ibaratnya, hubungan cinta tanpa konflik itu seperti laut tanpa ombak. Namun, ketika konflik yang meruncing juga menjadi lampu merah, apalagi ketika sudah tidak tahan lagi mengatasi rasa marah, salah satu pihak ‘mengusir’ yang lain untuk keluar kamar, bahkan keluar rumah. Mengapa konselor pernikahan tidak merekomendasikan cara ini untuk menyelesaikan persoalan?

Menurut konselor pernikahan dari www.konselingkeluarga.com, Elly Nagasaputra, M.K., CHt, ada dua pencetusnya. Pertama adalah konflik ‘biasa’ yang tidak  diselesaikan sehingga menumpuk-numpuk dan akhirnya meledak. Yang termasuk kategori biasa ini misalnya perbedaan soal pendidikan anak, hubungan dengan orang tua, cara pengasuhan anak, dan soal keuangan. “Kalau ada persoalan yang membuat ribut melulu, bila tidak diselesaikan lama-kelamaan bisa memicu pertengkaran yang besar, bahkan sampai meminta pisah ranjang,” ujar Elly.

Berdasarkan pengalaman Elly selama ini, perselingkuhan menjadi penyebab paling besar ketika pasangan suami-istri memutuskan untuk pisah ranjang. Biasanya yang bisa memicu keputusan besar itu bukan perselingkuhan yang pertama. Pada perselingkuhan pertama, pihak yang diselingkuhi biasanya lebih bisa memaafkan, untuk kemudian saling membalut luka demi keutuhan keluarga. “Sebagian besar pasangan memilih untuk pisah ranjang jika perselingkuhan itu terjadi untuk yang kesekian kali.”

Seperti  yang dialami Lolita. Ketika pertama kali mengetahui Rahadian selingkuh, dunia seperti kiamat. “Ketika Rahadian mengakuinya saat saya konfrontasi, kepala saya langsung pusing, mata berkunang-kunang, hingga hampir pingsan. Namun, mengingat nasib kedua anak kami, saya pun menguatkan diri dan meyakinkan diri sendiri untuk bisa memaafkannya,” ujarnya. Ketika perselingkuhan itu ternyata tidak diakhirinya juga, barulah Lolita meminta Rahadian pergi.

Meski masih berharap Rahadian sadar kembali bahwa keutuhan keluarga adalah hal utama dan harus dia perjuangkan, toh, Lolita akhirnya harus merelakan harapannya itu kandas. Setelah hampir 5 bulan mereka on a break, Rahadian memutuskan mengajukan gugatan cerai.

“Ternyata keputusan pisah ranjang itu bak dua keping mata uang. Di satu sisi, kami memang bisa berpikir masak-masak tanpa ada faktor intervensi. Tapi di sisi lain, berpisah sementara justru memberi Rahadian kesempatan lebih bebas berhubungan dengan selingkuhannya,” ujar Lolita. Ia memang tidak menyesali keputusannya bercerai, tapi  ia menarik pelajaran, ketika pasangan memang ingin menyelesaikan masalah dengan cara pisah ranjang, maka komunikasi dan perhatian harus tetap dilakukan.

Karena hal inilah, Elly tidak pernah menyarankan kepada pasangan suami-istri yang berkonflik –terutama karena perselingkuhan-- untuk pisah ranjang. “Berpisah, baik masih satu rumah maupun benar-benar keluar dari rumah, efeknya jauh lebih buruk,” ujarnya. Jadi, walaupun hati sedang sepanas bara api saat mengetahui orang yang kita cintai berkhianat, sebaiknya berpikir panjang dulu sebelum membuang baju-baju dan barang-barang pasangan ke jalan dan menyuruhnya pergi dari rumah.

“Ketika seseorang berselingkuh,  hati orang tersebut sedang berbunga-bunga dengan cinta barunya. Maka, pisah ranjang akan membuatnya makin bebas,” ujar Elly. Harapan mulia bahwa ketika berpisah sementara itu membuat pasangan menyesali perbuatannya dan membayangkan dirinya harus berjauhan dengan anak, sering kali tidak tercapai.

Orang  yang berselingkuh itu bukannya tidak sadar. “Mungkin awalnya khilaf, tapi  bila diteruskan sebetulnya ia melakukannya dengan sadar. Berselingkuh kan membutuhkan rencana-rencana, bagaimana dia harus bohong kepada pasangan dan keluarganya agar tidak ketahuan,” papar Elly.

Sebetulnya, sejak awal, orang yang berselingkuh itu sadar bahwa  ada risiko untuk kehilangan anak.  Jadi, apabila perselingkuhan itu tetap dijalani, berarti ia sudah tidak lagi peduli dengan risiko itu. Alasan-alasan inilah yang membuat Elly tidak setuju pisah ranjang sebagai cara untuk menyelesaikan konflik.
            
Lantas, apa yang harus dilakukan pasangan yang sedang menghadapi konflik? “Sebagai dua orang dewasa yang hidup dalam rumah tangga, konflik tajam harus tetap dihadapi dengan kepala tegak. Memang benar, pasti ada fase marah-marah, tapi  setelah itu harus bisa duduk tenang untuk memikirkan solusi jangka panjang yang terbaik yang bisa diambil,” kata Elly. (f)

Baca juga:
7 Hal yang Diperhatikan Pria untuk Mendukung Suasana Bercinta
Suami Menjadi Bapak Rumah Tangga, Apakah Ini Pilihan Tepat?
Pernikahan Jarak Jauh, Siapkah Anda?


Topic

#konflikpasangan

 


polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?