True Story
Wanda Ponika, 7 Kali Berhadapan dengan Kanker

11 Apr 2016


 
GILIRAN SUAMI TERCINTA
Tahun 2008 menjadi tahun sukacita bagi keluarga kami. Setelah lama dirundung kesedihan akibat kanker yang mendera adik berkali-kali, ia masih diberi kekuatan untuk menjalani kehidupan. Di tahun ini pula saya bersama suami mulai merintis usaha sendiri, setelah sebelumnya kami bekerja di sebuah perusahaan perhiasan bereputasi internasional.

Saya ingin menyalurkan kreativitas dalam mendesain perhiasan. Sementara suami memang dari dulu jagonya menangani pembukuan usaha. Tim yang lengkap dan kompak. Dalam waktu singkat usaha kami sudah menunjukkan kemajuan yang cukup berarti. Namun, memasuki tahun 2009, cobaan itu datang lagi. Kanker kembali menghantui kehidupan saya.

Siapa sangka, kali ini suami saya tercintalah yang harus menghadapi penyakit itu. Seperti adik, kanker suami tidak menunjukkan gejala spesifik, bahkan jauh dari kentara. Suami  hanya mengeluhkan telinganya seperti kemasukan air, yang setelah diobati sembuh dalam waktu dua minggu.

Namun, kesembuhan ini diikuti dengan kemunculan bintil berisi air. Meski telah diobati dan dipecahkan oleh dokter, bintil itu timbul lagi. Hingga akhirnya hasil biopsi mengungkap bahwa bintil tersebut pertanda kanker nasofaring pada stadium 3A.

Kali ini jiwa saya benar-benar goyah! Sewaktu adik saya sakit, saya punya tempat untuk bersandar. Saya bisa menangis dan mencurahkan kesedihan di hadapan suami. Dia pun menjadi sandaran untuk perekonomian selama saya bolak-balik menemani adik berobat. Tapi, kalau suami sakit, lantas bagaimana hidup saya? Bagaimana nasib anak-anak kami, padahal mereka masih kecil-kecil?

Saya sungguh tak siap dengan kenyataan ini. Saya tahu terapi kanker memakan biaya yang tidak sedikit. Sementara dalam kondisi baru memulai usaha, ekonomi kami belum kuat. Saya juga tidak mau menyusahkan orang tua dalam hal pembiayaan. Sewaktu adik sakit saja mereka sudah mengeluarkan biaya begitu besar. Dan, adik masih perlu biaya untuk cek rutin ke dokter.

Kemarahan mulai berkecamuk di pikiran saya. Saya merasa Tuhan tak adil. Apa salah kami, sehingga kanker selalu membayangi kehidupan saya dan keluarga. Sempat terlintas dalam pikiran saya, mengapa kami yang selalu menjalani hidup sehat malah terkena kanker, sedangkan banyak orang lain di luar sana yang gaya hidupnya buruk, tapi sehat-sehat saja.

Saking putus asanya, ucapan ngawur meluncur dari bibir saya, “Lebih baik suami saya selingkuh asalkan sehat, daripada melihat dia sakit.” Malu rasanya jika mengingat pernah bicara seperti itu kepada kakak ipar sendiri.
 


 


polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?