
Foto ilustrasi
Beredarnya video siswi SMA di Medan, Sonya Depari, sedang memarahi seorang polwan yang menilang dia dan teman-temannya menjadi bahan pembicaraan banyak orang. Bukan hanya karena cara bicara Sonya yang tidak menyenangkan, juga karena dirinya mengaku sebagai anak Irjen Arman Depari, Deputi Bidang Pemberantasan Badan Nasional Narkotika (BNN). Penyebutan nama pejabat tersebut dianggap sebagai tindakan arogan. Padahal Arman Depari bukan ayah kandungnya, melainkan pamannya. Lalu apa kata psikolog tentang kasus ini?
Tuti Indra Fauziansyah, psikolog dari Iradat Consultant mengatakan bahwa penyebutan nama pejabat untuk membela diri dilakukan ketika seseorang berada dalam keadaan tertekan. Secara spontan, mereka menyebutkan seseorang yang banyak dikenal dan punya pengaruh untuk menyelesaikan dalam masalah yang dihadapinya.
“Sebenarnya, situasi seperti Sonya sudah rahasia umum, sering dilakukan orang lain juga. Ketika berada dalam kondisi serupa, Sonya menggunakan senjata yang sama seperti orang lain tadi. Atau bisa juga berdasar dari pengalaman sebelumnya, ketika dia melanggar aturan tapi bisa selamat setelah menyebutkan nama keluarganya. Dia bercermin dari banyak kasus yang menang ketika 'ditolong' oleh kekuasaan,” tutur Tuti.

Foto: YouTube
Ketika video tersebut menjadi viral, banyak orang langsung menilai Sonya sebagai sosok yang angkuh. Apa yang terlihat saat itu langsung menjadi karakter dirinya bagi masyarakat luas, padahal belum tentu dia memiliki sifat tersebut. Hal terbaik adalah agar Sonya belajar dari pengalamannya.
“Hilangkan kebiasaan tadi ketika masuk dunia profesional. Pasalnya, orang akan menjauhi dan langsung menilai dirinya tidak memiliki kompetensi. Sekalipun dia punya kompetensi, orang-orang akan malas bergaul dengannya dan hanya berhubungan apabila perlu saja,” tutup Tuti. (f)
Topic
#SonyaDepari




