
Foto: Dok. Pribadi
Laksmi Larastiti (27), Peneliti Perikanan, Bali
Fenomena Islamophobia yang banyak dibicarakan di media, sempat membuat saya khawatir ketika akan melanjutkan kuliah ke Wageningen, Belanda, pada tahun 2012. Terlebih, saya satu-satunya orang Indonesia di jurusan yang saya ambil, dan berhijab pula. Namun, kekhawatiran tersebut tak terbukti!
Justru, karena berbeda, saya kerap mendapatkan perlakuan istimewa, dalam arti positif, ya. Ketika saya makan di restoran misalnya, pelayan dan pengunjung restoran tersebut akan menginformasikan, jika makanannya mengandung babi atau rhum.
Sebenarnya, pengalaman tersebut tidak berbeda jauh ketika saya tinggal di Assilulu, desa terpencil di Maluku. Awalnya, saya sempat takut karena menilai karakter orang Indonesia timur cenderung kasar. Tapi, warga setempat memperlakukan saya dengan baik. Di sini lah saya belajar toleransi, berusaha menerima budaya masyarakat lokal.
Sebagai minoritas, saya berusaha berbaur dengan masyarakat sekitar dan mempelajari bahasa lokal, agar tidak ada jurang antara kaum pendatang dan penduduk asli.
Ketika ada orang yang penasaran dengan agama, suku, atau ras saya, akan saya jawab dengan cara yang mudah dimengerti. Karena saya percaya, komunikasi adalah kunci utama.
Tinggal di lingkungan yang baru dan menjadi minoritas adalah kesempatan yang tepat untuk belajar menghargai. (f)
Topic
#intoleransi, #toleransi


