
Foto: Dok. Pribadi
Suara Glenn Marsalim (43) masih serak akibat batuk yang tak kunjung membaik. Namun, obrolan dengan femina sore itu tetap mengalir dengan cair, seperti tulisan-tulisannya di linimasa.com. Sejak tahun 2014, ia aktif menulis beragam artikel tiap satu minggu sekali di situs yang digawangi oleh Roy Sayur itu. “Gaya bahasa saya di tulisan memang sangat mirip dengan gaya saya berbicara,” ujar pemilik akun Twitter @glennmars ini.
Kemiripan gaya bahasa itu rupanya memang ia pertahankan agar pembaca bisa lebih mudah mengoneksikan tulisannya dengan kehidupan mereka, misalnya dalam tulisan berjudul Ada Kos di Ongkos. Tulisan yang di-share sebanyak 254 kali di Facebook itu mengangkat kehidupan pekerja kantor di ibu kota yang tinggal di rumah kos. Lewat observasi, Glenn menangkap bahwa biaya sewa kos di ibu kota sangat mahal, padahal kondisi bangunannya sering kali tidak kondusif untuk ditinggali. Pada akhir tulisan itu, ia membubuhkan tanya, siapa suruh tinggal di Jakarta?
Hasil observasi Glenn ternyata memicu reaksi pembaca di dunia maya. “Waktu itu sampai terjadi diskusi dengan pengguna media sosial, kami membahas tentang standar kehidupan masyarakat Jakarta,” ungkap Glenn, yang mengenyam pendidikan di Malaysian Institute of Art. Baginya, reaksi seperti itu justru lebih penting daripada sekadar membahas tulisan bagus atau tidak. Itu berarti, pengamatannya relevan dengan kehidupan masyarakat.
Pria yang gemar membaca buku resep ini mengaku senang mengamati lingkungan dan meniru cara bicara orang sejak kecil. Hasil pengamatan, menurut Glenn, bisa membantunya untuk memprediksi masa depan. “Bisa untuk bahan tulisan baru, membuat rencana marketing, atau membuat bujet bulanan. Itu kan semua harus melihat ke depan,” kata Glenn.
Selain itu, pengamatan yang dituangkan dalam tulisan juga bisa menjadi cermin untuk manusia. Seperti dalam tulisannya yang berjudul Lemesin Aja Tsaaay…. Pada tulisan yang sudah di-share lebih dari 6.800 kali itu, Glenn menganalisis perbedaan karakter Gen X seperti dirinya dengan generasi millennial. Berbeda dengan riset ‘serius’ yang dilakukan para pakar, ia menggunakan puisi populer sebagai alat ukurnya.
Puisi Tentang Seseorang yang dalam film AADC ditulis oleh Rangga, tokoh fiktif berusia millennial yang diciptakan oleh para gen X seperti Mira Lesmana dan Riri Riza. Hasilnya, Rangga jadi tokoh generasi millennial yang cenderung cool, tapi kurang paham cara menjadi seseorang yang fun. Sedangkan puisi tokoh Kambing Jantan, tokoh semi fiktif berusia millennial lahir dari pemikiran penulis yang juga dari generasi millennial, Raditya Dika. Hasilnya, Kambing Jantang jadi tokoh karakter millennial yang fun, tapi cenderung tidak cool. “Itu gambaran kecil saja. Tapi setidaknya bisa membuka wawasan orang untuk memahami situasi terkini,” ujar pemilik usaha homemade cooking ini.
Glenn menambahkan, hidup manusia saat ini mirip linimasa di Snapchat. Semuanya serba cepat, kemudian tergulung oleh berita baru. Lewat tulisan, ia cuma ingin membantu pembaca untuk berhenti sejenak dan lebih mengenal diri sendiri. “Dan, kalau mereka sedang merasa kesulitan, mereka bisa tahu bahwa mereka tidak mengalami itu sendirian. Ada banyak orang yang bisa membantu,” pungkas Glenn. (f)
Topic
#blogger




