
Demam selfie memang luar biasa dahsyat. Sedang melakukan apa pun – digarisbawahi: apa pun– selfie jalan terus, termasuk ketika sedang orgasme! Sedahsyat itukah demam selfie hingga kemudian ada yang menciptakan selfie stick alias tongsis yang berbentuk dildo (sex toy untuk wanita yang bentuk dan rupanya menyerupai penis).
Bukan, kok… kameranya bukan disangkutkan di ujung tongkat yang berupa dildo, melainkan di ujung tongkat lainnya yang bentuknya normal. Tujuannya adalah menangkap ekspresi wajah pengguna saat ia mengalami orgasme, ketika memasukkan dildo ke dalam vagina. Cara kerjanya begini: saat meraih orgasme ketika menggunakan dildo, tekan tombol shutter (kalau sempat dan kalau ingat) untuk merekam wajah penggunanya.
Ribut-ribut soal tongsis dildo ini mulai merebak ketika video tentang produk tersebut beredar di YouTube. Sebagian menganggap penemuan itu sangat kocak dan berguna, sebagian lagi memandangnya sebagai penemuan yang sangat tidak penting.
Namun, setelah ditelisik lebih jauh, produk tersebut dibuat bukan untuk diperdagangkan. Di video pun tidak disebutkan di mana calon pembeli bisa memperoleh benda itu. Rupanya, penciptanya hanya ingin melihat reaksi dunia, jika ia membuat produk yang kontroversial.
Kata pakar:
Kalaupun benda tersebut nantinya beredar, kenapa ada orang yang merasa ingin mengabadikan ekspresi wajahnya ketika sedang orgasme? Jawabannya sederhana: karena ia ingin melihat ekspresi wajahnya sendiri. Dan hal tersebut normal-normal saja. Mereka melihatnya sebagai sebuah sensasi baru.
Sebenarnya dildo serupa dengan robot seks. Fungsinya sama, yaitu menggantikan organ kelamin pada kondisi ketika tidak ada pasangan seksual. Di satu sisi, tidak sedikit yang menggunakan dildo karena merasa tidak puas dengan pasangannya. Di sisi lain, sebagian orang justru menggunakan dildo untuk membantu memuaskan pasangannya.
Berita bagusnya, dildo tidak memiliki efek samping apa pun. Namun, yang pasti, penggunaan dildo menghapus keterlibatan emosional yang seharusnya terjadi ketika pasangan berhubungan seksual.(f)
Konsultan: Prof. Dr. dr. Wimpie Pangkahila, SpAnd, androlog dan seksolog.


