Curhat 2: Serasa Mengurus Rumah Sendirian
Saya menikah dengan pria asing (statusnya WNA). Masalah yang sering timbul dalam perkawinan kami adalah kebiasaan suami yang terlalu menyerahkan segala sesuatu ke saya. Dari urusan kebersihan rumah sampai urusan imigrasi. Pada titik tertentu saya merasa, tidak ada gunanya perkawinan saya karena toh saya sendiri yang mengerjakan semua fungsi kerumahtanggaan. Terkadang saya merindukan my single life. Biasanya, setelah saya marah- marah dan ngomel, baru suami turun membantu.
Saran:
Ada satu hal yang kerap dilupakan pasangan saat menikah: pembagian peran dalam mengatur dan mengelola rumah tangga. Terkesan sepele, tapi perlu dibicarakan. Tidak semua pasangan memiliki kesamaan pandangan tentang siapa yang membayar tagihan atau mencari asisten rumah tangga yang keluar masuk dan urusan tetek bengek pritilan rumah tangga. Umumnya, masing-masing akan mengadopsi apa yang terbiasa ia lihat sewaktu bersama orangtuanya dahulu. Tapi ada juga yang secara ekstrem sebaliknya, justru enggan menjadi seperti orang tua yang ia rasa dalam posisi “dirugikan”.
Pelajari dan bicarakan apa yang menjadi kecenderungan masing-masing. Sehingga bisa berkompromi tentang siapa yang akan melakukan bagian yang mana. Selalu mengalah atas nama cinta justru akan menghasilkan amarah kecil yang berkepanjangan yang kelak akan mendatangkan emosi negatif yang memudahkan muncul kemarahan-kemarahan besar yang secara perlahan memadamkan api cinta pada pasangan.
Topic
#relationship




