
Foto: Zaki Muhammad
Istri dari Agus Marsudi yang berprofesi sebagai arsitek ini mengakui, dukungan dan komunikasi dengan keluarga adalah salah satu rahasia sukses kariernya. Ibu dua anak, Dyota Marsudi dan Bagas Marsudi, ini kini bisa bernapas lega karena anak-anaknya sudah tumbuh dewasa dan mandiri. Dyota sudah menikah dan mendirikan start up di Singapura. Sementara Bagas, lulusan kedokteran dan sedang magang di rumah sakit di Jakarta. “Empat anggota keluarga bisa berada di empat tempat berbeda. Tapi, kami tenang, karena tahu masing-masing melakukan tugasnya dengan baik,” ujar wanita kelahiran Semarang, 27 November 1962, ini.
Sebagai seorang ibu, value apa yang Anda terapkan untuk kedua anak Anda?
Saya berusaha menjadikan anak-anak mandiri dari kecil. Mereka saya terapkan jadwal, jam berapa bisa nonton TV, belajar, dan tidur. Dalam situasi apa pun, misalnya, saat saya ada tamu, pukul 8 malam anak-anak bersiap tidur. Mereka datang menemui saya, lalu salim dan bilang, “Mami, good nite!” Itu yang membuat saya bersyukur. Saya tidak bisa bersama mereka 24 jam, tapi mereka bisa mandiri dan melaporkan kepada saya apa yang mereka lakukan.
Anak-anak saya tipe anak yang betah di rumah. Saya selalu berusaha membuat rumah itu nyaman. Kebiasaan kami sejak dulu hingga sekarang adalah keruntelan di kamar. Nonton televisi bareng, ngobrol… itulah dunia kami. Kalau bosan, makan di luar, lalu balik lagi.
Saya tidak pernah punya pengalaman kebingungan menanyakan mereka, “Kamu di mana?” Mereka selalu pulang. Bisa dibilang, bonding kami kuat. Rumah adalah tempat kembali yang paling mengasyikkan.
Masa-masa terberat sebagai ibu yang berprofesi sebagai diplomat?
Saat penempatan pertama saya di Australia, anak pertama masih berusia 1,5 tahun. Dubes saya waktu itu adalah (alm) Sabam Siagian. Tuntutan beliau tinggi sekali.
Saat anak saya usia 3,5 tahun, saya hamil lagi. Kehamilan kedua mengalami masalah karena sering perdarahan. Belum lagi, tantangan hidup di luar negeri, segala sesuatu dilakukan sendiri. Saya menyiapkan makanan, menyetir, antar-jemput anak, bertemu tamu, dan sebagainya. Suami tidak selalu bisa menemani. Saat di Australia, suami ikut untuk sekolah. Pokoknya diatur sehingga tidak ada pihak yang dirugikan.
Sebagai wanita, apa pertimbangan Anda dalam memilih busana acara resmi?
Saya penggemar fashion Indonesia. Saya senang belanja, terutama kalau sedang ada pameran kain Nusantara ataupun desainer Indonesia, seperti di Jakarta Fashion Week tahun lalu.
Yang sering ditanyakan oleh para wanita Menlu negara lain adalah bros yang saya kenakan. Sebab, saya memang sering ‘bermain’ dengan bros. Pertimbangannya, acara resmi kebanyakan mengenakan warna hitam dan gelap, jadi, supaya lebih ‘terangkat’ saya mengenakan bros. Saya punya banyak koleksi bros, sebanyak koleksi baju, tas, dan sepatu, ha… ha… ha….
Semua itu selalu saya siapkan dari malamnya. Biasanya semalam apa pun saya pulang, saya sudah mikir besok bajunya apa. Saya sudah siapkan dari baju, tas, dan padanan aksesori, di atas tempat tidur. Selarut apa pun itu. Saya tidak mau baru cari pagi harinya, karena biasanya runyam. (f)
Ficky Yusrini (Kontributor)
Simak profil Wanita Hebat lainnya di:
Tisye Diah Retnojati, Sukses Melesatkan Karier Dari Posisi Customer Service Officer ke Jajaran Direksi
6 Wanita Inspiratif Bicara Soal Perjuangan Mereka dalam Semangat Kartini
Pendeta Merry Kolimon, Memimpin dengan Semangat Feminisme di Kupang
Topic
#wanitahebat



