Hal ini disebabkan orang yang berkepribadian ramah dianggap lemah dan mudah diatur oleh bawahan. Mereka juga dinilai mudah tertipu sehingga kurang cocok menjadi pemimpin. Bahkan, mereka nggak pernah punya pikiran negatif terhadap orang lain yang membuat mereka gampang dikalahkan pesaing.
Sebaliknya, karyawan yang memiliki perilaku egois dinilai lebih dominan sehingga cocok menjadi pemimpin. Mereka dianggap lebih percaya diri ketika menghadapi kompetisi. Mereka juga lebih agresif tinggi karena nggak mau kalah dari yang lain. Perilaku inilah yang membuat mereka terlihat lebih tepat memimpin sebuah perusahaan karena nggak akan mudah kalah dari perusahaan saingan.
Menurut Dr. Robert Livingston dari Kellog School of Management, efek buruk dari anggapan ini adalah terjadinya pergeseran nilai moral karena kebaikan dianggap sebagai tanda kelemahan. Jika berkembang terus di banyak perusahaan, dikhawatirkan hal ini bisa membuat karyawan menjadi tidak peduli satu sama lain demi kenaikan jabatan. Yap, bakal makin banyak yang sikut-sikutan, nih! (FAI/FOTO:FOTOSEARCH)


