Cinta, sih....
Tahu, kan, rasanya jatuh cinta, semua terasa indah! Begitu juga dalam bekerja. Ketertarikan kita pada pekerjaan besar pengaruhnya terhadap tekanan yang kita rasakan.
Misalnya, nih, kita sama sekali nggak berminat di bidang pemasaran, tapi terpaksa menjalani demi gaji besar atau yang penting kerja. Buntutnya kita bekerja setengah hati.
Di sinilah pentingnya mengenal pekerjaan yang kita inginkan dan apa tujuan karier kita. Jika tujuan karier kita panjang dan kita selalu ingin berprestasi, pasti kita menjadikan target dan tugas sebagai tantangan alih-alih tekanan.
Sedia payung sebelum hujan
Perasaan tertekan oleh pekerjaan sebenarnya, sih, sifatnya individual banget. Ada orang yang pekerjaannya selalu banyak, namun asyik-asyik saja, tuh. Pekerjaannya pun selalu selesai tepat waktu. Sebaliknya, ada yang baru dapat tugas sedikit saja sudah mengeluh seperti disuruh menarik truk.
Jika kita sejak awal sudah tertarik dengan tantangan pekerjaan, seharusnya nggak merasa tertekan lagi saat bekerja. Perusahaan pasti sudah menyebutkan kalau mereka butuh karyawan yang siap bekerja di bawah tekanan.
Kesiapan kita sangat besar pengaruhnya. Karena itu, tanyakanlah deskripsi pekerjaan kita sejelas-jelasnya saat wawancara. Setiap hari buat rencana kerja, agar tugas nggak menumpuk belakangan. Masukkan juga pekerjaan tambahan atau yang dadakan dalam daftar tersebut.
Nggak nyambung
Beban kerja bisa ditanggulangi, deadline mampu dipenuhi, tapi lingkungan kerja kita nggak asyik. Tenang, banyak cara bisa kita coba untuk mengatasinya. Salah satunya membuat meja kerja kita senyaman mungkin. Pilih warna yang meningkatkan semangat kerja lebih ceria, atau dengarkan musik lewat earphone (jika boleh).
Menyamankan diri itu mudah. Paling gampang, tarik napas panjang dan dalam. Aliran oksigen akan menekan rasa panik. Kita bisa berpikir jernih, deh! CC
Tahu, kan, rasanya jatuh cinta, semua terasa indah! Begitu juga dalam bekerja. Ketertarikan kita pada pekerjaan besar pengaruhnya terhadap tekanan yang kita rasakan.
Misalnya, nih, kita sama sekali nggak berminat di bidang pemasaran, tapi terpaksa menjalani demi gaji besar atau yang penting kerja. Buntutnya kita bekerja setengah hati.
Di sinilah pentingnya mengenal pekerjaan yang kita inginkan dan apa tujuan karier kita. Jika tujuan karier kita panjang dan kita selalu ingin berprestasi, pasti kita menjadikan target dan tugas sebagai tantangan alih-alih tekanan.
Sedia payung sebelum hujan
Perasaan tertekan oleh pekerjaan sebenarnya, sih, sifatnya individual banget. Ada orang yang pekerjaannya selalu banyak, namun asyik-asyik saja, tuh. Pekerjaannya pun selalu selesai tepat waktu. Sebaliknya, ada yang baru dapat tugas sedikit saja sudah mengeluh seperti disuruh menarik truk.
Jika kita sejak awal sudah tertarik dengan tantangan pekerjaan, seharusnya nggak merasa tertekan lagi saat bekerja. Perusahaan pasti sudah menyebutkan kalau mereka butuh karyawan yang siap bekerja di bawah tekanan.
Kesiapan kita sangat besar pengaruhnya. Karena itu, tanyakanlah deskripsi pekerjaan kita sejelas-jelasnya saat wawancara. Setiap hari buat rencana kerja, agar tugas nggak menumpuk belakangan. Masukkan juga pekerjaan tambahan atau yang dadakan dalam daftar tersebut.
Nggak nyambung
Beban kerja bisa ditanggulangi, deadline mampu dipenuhi, tapi lingkungan kerja kita nggak asyik. Tenang, banyak cara bisa kita coba untuk mengatasinya. Salah satunya membuat meja kerja kita senyaman mungkin. Pilih warna yang meningkatkan semangat kerja lebih ceria, atau dengarkan musik lewat earphone (jika boleh).
Menyamankan diri itu mudah. Paling gampang, tarik napas panjang dan dalam. Aliran oksigen akan menekan rasa panik. Kita bisa berpikir jernih, deh! CC


