Menjaga
kesabaran nggak mudah dilakukan, terutama saat kita
berada di kantor. Kayaknya berbagai gangguan selalu 'siap' mempermainkan
emosi kita, dari atasan yang terus ngomel tanpa alasan hingga koneksi
internet yang super lelet.
Jangan mau, dong, dikalahkan emosi. Sebaliknya, kitalah yang seharusnya mengendalikan perasaan kita sebagai bentuk perwujudan profesionalisme kerja.
Tarik nafas sejenak dan berikan kesempatan pada otak kita untuk berpikir menggunakan logika. Yakinkan diri sendiri kalau bertindak menggunakan emosi sama sekali nggak ada gunanya!
Siapa bilang praktek lebih sulit daripada teori? Buktikan, deh, tip berikut ini yang bakal mempermudah kita dalam menghadapi situasi-situasi nggak menguntungkan! Contek, deh, masukan dari Wesmira Parastuti (Mia), M.Psi, konsultan karier dari Wesmira Psychological & Recruitment Services berikut ini....
Rekan kerja bossy
Bete terhadap rekan kerja yang hobi memerintah adalah suatu hal yang wajar. Masa kita disuruh mengerjakan sebagian besar tugas, sementara dia sendiri malah 'sibuk' mencari gosip terbaru para seleb di internet. Padahal, kan, kita dan dia bekerja sebagai satu tim!
Jangan sia-siakan tenaga kita untuk mengutuk si rekan kerja reseh. Mendingan, nih, ajak dia berdiskusi mengenai tugas-tugas yang harus dilakukan secara detail. Kita pun bisa melakukan pembagian tugas dengan adil tanpa ada seseorang yang merasa dirugikan.
Rekan kerja tetap bermalas-malasan mengerjakan tugasnya? Kita boleh, kok, menceritakan kendala kita pada salah satu atasan yang kita percaya jika sungkan menegur rekan secara langsung.
Yang nggak kalah pentingnya, nih, kita harus tetap fokus mengerjakan tugas bagian kita secara maksimal. Pada akhirnya atasan bisa menilai, kok, kemampuan dan kesungguhan masing-masing karyawannya!
Miss Gossip
Nggak bisa dipungkiri kalau kantor adalah salah satu tempat yang rawan gosip. Jangankan atasan, kita yang ngobrol akrab dengan karyawan dari divisi lain pun bisa jadi bahan gosip. Gimana nggak bete!
Berita selentingan yang nggak jelas sebaiknya nggak usah dipikirkan. Anggap saja diri kita sebagai seleb yang nggak perlu memberikan klarifikasi apapun.
Jangan terpancing emosi dan cukup tanggapi rekan kerja dengan senyuman saat mereka mengkonfirmasi beritanya ke kita. Suatu hari nanti kebenaran akan terungkap,kok!
Jawab segala kasak-kusuk negatif melalui hasil kerja maksimal. Selain itu kurangi waktu kita untuk ngumpul dengan para penggosip supaya nggak lagi jadi bahan gosip.
Lebih baik gunakan waktu istirahat siang untuk melakukan hal-hal yang lebih positif, misalnya membalas email dari teman lama!
Faktor luar
Masalah pribadi ada kalanya mengganggu mood kita di kantor. Saat bertengkar dengan si dia, misalnya, kita jadi nggak semangat untuk bekerja. Begitu juga saat kita punya masalah di rumah. Kita pun jadi super sensitif dan gampang kesal!
Sebelum meratapi nasib sebagai orang yang paling menderita sedunia, kita kudu menyadari kalau tiap orang pasti memiliki masalah.
Jangan tertipu, deh, saat melihat rekan kerja yang tampak sempurna. Dari luar mungkin saja dia seperti nggak ada masalah, tapi kenyataan bisa jadi kebalikannya! Hanya saja, nih, dia bisa menyembunyikannya saat berada di kantor!
Langkah inilah yang harus kita tiru. Jika masalah yang kita hadapi belum beres dan masih mengganggu pikiran, ingatlah kalau kita juga punya tanggungjawab pada perusahaan.
Kita pasti nggak mau, kan, ditegur atasan karena performa kerja yang menurun atau dibenci rekan kerja karena sikap kita yang gampang marah? Malah menambah masalah, tuh! Ketika berada di kantor fokuskanlah seratus persen pikiran kita pada pekerjaan! CC
Jangan mau, dong, dikalahkan emosi. Sebaliknya, kitalah yang seharusnya mengendalikan perasaan kita sebagai bentuk perwujudan profesionalisme kerja.
Tarik nafas sejenak dan berikan kesempatan pada otak kita untuk berpikir menggunakan logika. Yakinkan diri sendiri kalau bertindak menggunakan emosi sama sekali nggak ada gunanya!
Siapa bilang praktek lebih sulit daripada teori? Buktikan, deh, tip berikut ini yang bakal mempermudah kita dalam menghadapi situasi-situasi nggak menguntungkan! Contek, deh, masukan dari Wesmira Parastuti (Mia), M.Psi, konsultan karier dari Wesmira Psychological & Recruitment Services berikut ini....
Rekan kerja bossy
Bete terhadap rekan kerja yang hobi memerintah adalah suatu hal yang wajar. Masa kita disuruh mengerjakan sebagian besar tugas, sementara dia sendiri malah 'sibuk' mencari gosip terbaru para seleb di internet. Padahal, kan, kita dan dia bekerja sebagai satu tim!
Jangan sia-siakan tenaga kita untuk mengutuk si rekan kerja reseh. Mendingan, nih, ajak dia berdiskusi mengenai tugas-tugas yang harus dilakukan secara detail. Kita pun bisa melakukan pembagian tugas dengan adil tanpa ada seseorang yang merasa dirugikan.
Rekan kerja tetap bermalas-malasan mengerjakan tugasnya? Kita boleh, kok, menceritakan kendala kita pada salah satu atasan yang kita percaya jika sungkan menegur rekan secara langsung.
Yang nggak kalah pentingnya, nih, kita harus tetap fokus mengerjakan tugas bagian kita secara maksimal. Pada akhirnya atasan bisa menilai, kok, kemampuan dan kesungguhan masing-masing karyawannya!
Miss Gossip
Nggak bisa dipungkiri kalau kantor adalah salah satu tempat yang rawan gosip. Jangankan atasan, kita yang ngobrol akrab dengan karyawan dari divisi lain pun bisa jadi bahan gosip. Gimana nggak bete!
Berita selentingan yang nggak jelas sebaiknya nggak usah dipikirkan. Anggap saja diri kita sebagai seleb yang nggak perlu memberikan klarifikasi apapun.
Jangan terpancing emosi dan cukup tanggapi rekan kerja dengan senyuman saat mereka mengkonfirmasi beritanya ke kita. Suatu hari nanti kebenaran akan terungkap,kok!
Jawab segala kasak-kusuk negatif melalui hasil kerja maksimal. Selain itu kurangi waktu kita untuk ngumpul dengan para penggosip supaya nggak lagi jadi bahan gosip.
Lebih baik gunakan waktu istirahat siang untuk melakukan hal-hal yang lebih positif, misalnya membalas email dari teman lama!
Faktor luar
Masalah pribadi ada kalanya mengganggu mood kita di kantor. Saat bertengkar dengan si dia, misalnya, kita jadi nggak semangat untuk bekerja. Begitu juga saat kita punya masalah di rumah. Kita pun jadi super sensitif dan gampang kesal!
Sebelum meratapi nasib sebagai orang yang paling menderita sedunia, kita kudu menyadari kalau tiap orang pasti memiliki masalah.
Jangan tertipu, deh, saat melihat rekan kerja yang tampak sempurna. Dari luar mungkin saja dia seperti nggak ada masalah, tapi kenyataan bisa jadi kebalikannya! Hanya saja, nih, dia bisa menyembunyikannya saat berada di kantor!
Langkah inilah yang harus kita tiru. Jika masalah yang kita hadapi belum beres dan masih mengganggu pikiran, ingatlah kalau kita juga punya tanggungjawab pada perusahaan.
Kita pasti nggak mau, kan, ditegur atasan karena performa kerja yang menurun atau dibenci rekan kerja karena sikap kita yang gampang marah? Malah menambah masalah, tuh! Ketika berada di kantor fokuskanlah seratus persen pikiran kita pada pekerjaan! CC


