Health & Diet
Mengenal 4 Gejala COVID-19, Yang Tidak Awam Didengar

7 Feb 2021


Foto: Shutterstock


2/ Parosmia 

Parosmia menjadi salah satu gejala long Covid yang ditemukan pada pasien COVID-19. Dilansir dari laman ugm.ac.id, Dokter Spesialis Telinga, Hidung, Tenggorokan dan kepala Leher (THT-KL) Rumah Sakit Akademik (RSA) UGM, dr Anton Sony Wibowo Sp.T.H.T.K.L.,M.Sc., FICS., menyebutkan parosmia adalah gejala gangguan penghidu atau penciuman yang membuat seseorang merasa membau secara berbeda dari yang seharusnya.

"Pasien dengan parosmia mempersepsikan bau yang tidak sesuai dengan kenyataannya," jelas dr Anton. 

Misalnya, membau bunga mawar seharusnya harum, tetapi pasien mempersepsikan dengan bau yang lain seperti bau tidak enak atau bau lainnya. Persepi bau yang muncul akibat parosmia ini bisa beragam.

Dosen FKKMK UGM ini menjelaskan bahwa gejala parosmia cukup banyak dijumpai pada pasien COVID-19 di luar negeri. Dalam beberapa penelitian di luar negeri diketahui kemunculan parosmia cukup banyak berkisar antara 50,3-70 persen. Sementara di Indonesia penelitian terkait parosmia belum banyak dilakukan.

Parosmia dapat terjadi pada pasien COVID-19 karena virus SARS Cov 2 memengaruhi jalur proses penciuman seseorang. Selain akibat virus, kemunculan parosmia juga bisa disebabkan oleh infeksi saluran pernapasan atas, cidera kepala, atau kelainan otak seperti tumor otak.

Lebih lajut dr Anton menjelaskan bahwa gangguan penciuman akibat infeksi virus COVID-19 tidak hanya berupa hilangnya kemampuan membau atau anosmia yang telah muncul di awal pandemi dan kini parosmia. Namun, terdapat beberapa gangguan penciuman lain salah satunya hyposmia berupa menurunnya kemampuan mendeteksi bau. Lalu, cacosmia yang menjadikan seseorang secara terus menerus mencium bau yang tidak menyenangkan.

"Pada infeksi Covid-19 terdapat gangguan penciuman atau yang dikenal dengan dysosmia yang bisa berupa anosmia, parosmia, hyposmia maupun cacosmia," terangnya.

Lantas bagaimana pengobatan untuk parosmia? Menurut dr Sepriani Timurti Limbong, seperti dikutip dari klikdokter.com, bila pasien yang terkena parosmia tidak memiliki penyakit lain seperti kanker, parosmia dapat diatasi dengan beberapa terapi atau obat. 

Namun, penanganannya memerlukan pengawasan dokter. Karena, gejala parosmia bisa berbeda-beda pada setiap orang dan terapi yang diberikan juga berbeda-beda sesuai anjuran dokter. Pasalnya, parosmia bukan karena gangguan di hidung saja, tetapi karena penyakit sistemik.

“Terapinya personalized alias tergantung pasiennya. Jadi, harus berdasarkan pemeriksaan dokter dan keluhan pasien tersebut. Parosmia tidak bisa ditangani sendiri, harus secara keseluruhan,” terang dr. Sepriani.


Baca Selanjutnya: 3/ Phantosmia


Faunda Liswijayanti


Topic

#3m, #IngatPesanIbu, #covid19, #corona

 


polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?