Health & Diet
Mengenal Badai Sitokin, Penyebab Kematian pada Pasien COVID-19

8 May 2021


Foto: Shutterstock


Kabar duka datang dari keluarga artis Joanna Alexandra yang baru saja kehilangan suami tercinta Raditya Oloan. Raditya dikabarkan meninggal dunia pada Kamis (6/5/2021) usai dinyatakan negatif COVID-19. 

Sebelumnya Raditya sempat dirawat di ICU karena positif COVID-19 hingga akhirnya ia dinyatakan negatif COVID-19. Namun kondisinya justru menurun sebelum menghembuskan nafas terakhirnya. 

Seperti diungkap Joanna lewat akun Instagramnya, sang suami sebelumnya sudah memiliki komorbid asma dan ginjalnya yang kurang berfungsi dengan baik. Joanna mengatakan bahwa penyebab utama kondisi pria berusia 36 tahun itu menurun adalah salah satunya karena hiperinflmasi yang disebabkan oleh badai sitokin (cytokine storm). 

Lantas, apa sebenarnya badai sitokin itu dan seberapa bahayanya hingga menyebabkan kematian pada pasien COVID-19? Seperti diketahui bersama, sampai saat ini penelitian mengenai virus corona dan dampaknya masih terus dilakukan. Salah satunya adalah sindrom badai sitokin yang muncul pada beebrapa kasus pasien COVID-19. 

Sindrom badai sitokin disebabkan oleh peningkatan respons imun. Sejatinya sistem kekebalan berfungsi untuk membantu kita melawan infeksi. Namun, terkadang sistem imunitas ini memberikan respons yang tidak semestinya dan justru memperparah kondisi penyakit. 

Menurut Carl Fichtenbaum, MD, profesor di divisi penyakit menular di Fakultas Kedokteran Universitas Cincinnati, seperti dikutip dari Halodoc, setiap kali tubuh yang sehat melawan infeksi, ada respons sistem kekebalan alami yang terjadi. Respon ini melibatkan pelepasan sitokin, yaitu bahan kimia biologis yang merangsang jalur sel dan memungkinkan komunikasi antar sel.

Data kesehatan yang dipublikasikan oleh American Cancer Society menyebutkan sitokin ini pada dasarnya memberi sinyal sistem kekebalan untuk mulai melakukan tugasnya. Ini adalah situasi yang wajar. Namun, ketika pelepasan sitokinnya terlalu banyak maka sistem kekebalan tubuh mulai menyebabkan kerusakan pada tubuh.

Secara medis, badai sitokin berarti jalur sel yang telah dihidupkan mengarah ke produksi sejumlah mediator biologis (yang merupakan sejenis pemancar sinyal) yang menyebabkan perubahan pada tubuh dan mengganggu fungsi sel normal. Badai sitokin ini juga dinilai lebih mematikan daripada virus asli yang sedang bercokol di tubuh.

Badai sitokin dapat dipicu oleh sejumlah infeksi, termasuk influenza, pneumonia, dan sepsis. Respons imun yang meningkat ini tidak terjadi pada semua pasien dengan infeksi parah, namun hingga saat ini para ahli belum menemukan apa yang membuat beberapa orang lebih rentan daripada yang lain.

Termasuk dalam kasus pasien COVID-19. Sebagian besar pasien COVID-19 dengan badai sitokin mengalami demam dan sesak napas, kemudian menjadi sulit bernapas sehingga akhirnya membutuhkan ventilator. Kondisi ini biasanya terjadi sekitar enam atau tujuh hari setelah timbulnya penyakit.

Respons sitokin dikombinasikan dengan menurunnya kemampuan/kapasitas dalam memompa oksigen ke seluruh tubuh, dapat menyebabkan kegagalan organ, antara lain paru paru atas bengkak, jantung mengalami miokarditis, ginjal mengalami acute kidney injury, hati mengalami acute ishemic liver, dan otak mengalami ensefalitis. Istilah ini kemudian dikenal dengan Multiple Organ Dysfunction Syndrom (MODS), yang dapat mengakibatkan kematian.

Tidak ada cara untuk menguji apakah seseorang mengalami badai sitokin atau tidak, meskipun pemeriksaan darah dapat memberikan petunjuk kepada dokter bahwa respons hiper-inflamasi sedang terjadi, tetapi belum cukup valid. Sejauh ini gejala yang sudah akurat adalah ketika seorang pasien terus mengalami kesulitan bernapas meskipun menerima oksigen. 

Meski belum diketahui secara pasti penyebab badai sitokin, namun pasien COVID-19 yang telah memiliki kondisi penyakit yang telah ada sebelumnya; seperti penyakit jantung, diabetes, gangguan ginjal dan kardiovaskular, maka kejadian kegagalan organ akan cenderung lebih rentan.

Badai sitokin adalah komplikasi umum yang tidak hanya terjadi pada pengidap COVID-19 melainkan juga pada pengidap flu dan penyakit pernapasan lainnya. Badai sitokin juga memiliki kaitan erat dengan penyakit non-infeksi seperti multiple sclerosis dan pankreatitis. (f) 


Baca Juga: 
4 Gejala Baru Mutasi Virus Corona
Waspada Penyebaran Virus Corona, Ini Lho Alasan Anda Harus Hindari Kerumunan
Ini Alasan Mengapa Test Swab Sendiri di Rumah Tidak Disarankan

 

 


Faunda Liswijayanti


Topic

#corona, #covid19

 


polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?