Fiction
Cerpen: Musim Dingin yang Berat

29 Dec 2017


SETELAH STUART menandaskan kopinya. Charles menemui mereka. Charles dan Stuart terlibat pembicaraan. Charles menanyakan kabar seseorang bernama Bibi Billie, lalu dijawab Stuart, “Dia sehat dan menyewakan kuda-kudanya.”

Stuart dan Nina kemudian keluar dari kedai Charles. Dia membantu Nina dengan membawakan koper gadis itu. Mereka menuju mobil Stuart. Nina masuk ke dalam mobil Stuart. Mobil itu berbau, seperti bau pakaian yang tidak mendapat  cukup sinar matahari. Seekor kecoak melintasi boneka anjing pit bull.

“Ini mobil lamaku. Jarang kupakai, jadi kondisinya begini. Aku baru saja bangkrut. Toko buahku sekarat. Tuan Burroughs mempekerjakan aku sebagai asistennya, aku mencarikan dia perawat, membayar pajaknya, membayar tagihannya, dan sebagainya. Ini musim dingin yang berat. Kau menyukai Colorado?”

“Kurasa begitu. Tapi, seperti kata Anda, musim dingin ini sungguh berat.”

Setelah dua setengah jam berkendara, mobil memasuki sebuah properti luas. Di kanan kiri, pagar-pagar putih memanjang. Stuart menjelaskan, properti seluas 12 hektare itu milik Tuan Burroughs. Setelah Tuan Burroughs pensiun dari bankir investasi, dia memilih menjual rumah utamanya di Selatan Denver. Dia membeli properti ini karena ada danaunya.

“Dia membangun rumah ini untuk hari-hari pensiunnya bersama istri dan putranya, tapi kecelakaan itu telah mengubah segalanya. Tugasmu adalah memandikannya, mengganti pakaiannya, mencuci pakaian kotornya, menyiapkan makanannya yang telah diresepkan perawat, meminumkan pilnya, membawanya jalan-jalan di sekitar rumah jika dia menginginkan, asalkan tidak di musim dingin ini.”

Mobil kemudian berhenti di depan rumah kayu berlantai ganda. Di lantai bawah, berdinding batu-batu alam dan di atasnya berdinding papan pernis yang mengilap. Rumah itu berwarna cokelat, baik batu-batunya maupun papannya. Jendela di lantai bawah tampak kuning bercahaya dari luar sini. Di salah satu jendela besar, Nina melihat seorang wanita berseragam perawat duduk di meja dapur. Perawat itu tengah merokok sendirian.

“Itu Suster Suzan, yang datang mengontrol tekanan darah, meresepkan makanan dan melakukan terapi bicara pada Tuan Burroughs. Dia hanya bisa datang seminggu sekali.”

Tuan Burroughs tengah duduk di kursi rodanya. Bibirnya mengatup tidak seimbang. Di sudut bibirnya, air ludah turun ke dagunya. Tapi sorot matanya tampak baik. “Ini Nina, Tuan Burroughs. Dia akan bekerja uji coba selama musim dingin ini, dia sepakat, jika kau tidak bermasalah dengannya, kau bisa memperpanjang kontrak kerjanya hingga musim semi dan seterusnya.”

Nina menyalami Tuan Burroughs. Susah payah pria tua mengangkat tangannya. Sepasang mata Tuan Burroughs mengarah ke kanan bawah. Sementara sepasang bibirnya mengarah ke kiri atas. Dan alis kirinya tampak bengkok. “Dia teman Charles, sepupuku,” ujar Stuart.

Tuan Burroughs hanya menatap Nina dengan mimik yang sulit dijelaskan.  

Nina kemudian mengikuti Stuart. Stuart menunjukkan kamar Nina. Nina tertegun, kamarnya sungguh indah. Di luar sana, tampak danau yang tenang.  Nina tiba-tiba merasa kasihan pada Tuan Burroughs yang belum apa-apa menikmati rumah danaunya, musibah menimpanya, lalu stroke datang menyerang. Stuart meninggalkan Nina untuk beres-beres.

“Istirahatlah dulu,” ujar Stuart sambil berlalu.
 


Topic

#fiksifemina

 


MORE ARTICLE
polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?