“Aku ingin menenangkan diri dulu. Itu sebabnya, aku tak menghubungimu. Aku memang sempat ingin melepaskanmu, tapi ternyata aku tidak bisa. Dua bulan setelah itu baru aku menghubungimu lagi, tapi teleponmu tak aktif. Aku ke rumahmu dan kudengar dari adikmu, kau sudah pergi. Kau juga melarang adikmu memberi tahu telepon dan alamatmu. Aku sangat sedih waktu itu. Kuhibur diriku dengan mengatakan, kalau kau memang jodohku, kau pasti akan kembali padaku. Tak peduli sejauh apa pun kau pergi,” panjang lebar dia menjelaskan. Selama itu, air mataku terus-menerus berguguran.
“Rian, aku ingin meminta maaf, sebab di saat kau membutuhkan dukungan, aku malah meninggalkanmu,” ucapnya, sambil menghampiriku. Dia duduk di sampingku. Menghapus lembut jejak-jejak air mataku dengan sapu tangannya.
Ucapannya sungguh menghiburku. Tapi, alangkah indahnya, jika itu dikatakannya setahun yang lalu.
Dengan lembut kutepiskan tangannya yang sibuk menghapus air mataku.
“Tigor, terima kasih karena kau memaafkanku. Aku pun sudah memaafkanmu. Tapi, kalau kau bermaksud untuk menyambung kembali hubungan kita, aku minta maaf. Aku tak bisa,” aku berbicara sambil memberanikan diri menatap lurus ke arah matanya.
Kulihat dia sangat terkejut. Perlahan-lahan, wajahnya dipenuhi kekecewaan dan kesedihan. Aku membuang pandang. Aku tak ingin hatiku luluh hanya karena melihat dia bersedih seperti itu.
“Apa sudah ada orang lain?” dia bertanya lemah.
“Bukan karena orang lain. Aku hanya merasa semuanya sudah berakhir,” kataku dengan suara gemetar.
“Tapi aku hanya sekali salah, mengapa kau langsung menutup hatimu seperti itu? Tadi katamu, kau sudah memaafkanku,” dia bertanya dengan kesal.
Aku jadi merasa sedih. Tigor merengkuh bahuku, dan menghapus air mataku dengan tangan kirinya.
“Aku dulu hanya cemburu, karena aku ingin dicintai seperti engkau mencintai Parulian. Aku hanya marah, karena aku ingin cintamu hanya untukku, bukan untuk orang lain lagi.”
Pengakuannya justru membuat air mataku mengalir deras. Aku sangat terharu, karena Tigor mencintaiku dan memaafkanku.
Tigor bangkit berdiri, lalu mengulurkan tangannya untuk meraih tanganku. Aku menengadah memandang wajahnya, wajah lelaki yang sudah kucintai sejak kelas satu SMA. Lelaki yang kucari selama sepuluh tahun, dan kerap muncul dalam doa-doaku. Kali ini, apakah aku akan kembali menampik uluran cintanya?
“Apa kau tak mau menerima tanganku?” suara Tigor memecah lamunanku.
Aku gemetar mengangkat tanganku, menyambut tangannya yang terulur. Tigor tersenyum lebar dan membantuku berdiri.
Sambil menghapus air mataku yang masih terus mengalir, dia berkata, “Mulai sekarang, aku akan membantumu agar tidak menangis lagi. Sebab, kulihat stok air matamu banyak sekali. Aku khawatir, kalau kita punya rumah nanti, kita tidak perlu langganan air untuk mengisi bak mandi.”
Aku yang menangis jadi terbahak dibuatnya. Dia ikut tertawa bersamaku.
“Kuanggap tawamu itu sebagai ‘ya’ untuk lamaranku barusan,” katanya, sambil memandangiku dengan mata bersinar-sinar.
Aku malu mendengar ucapannya.
“Aku tak mendengar kalau kau melamar. Yang ada hanya kalimat soal bak mandi.”
Dia tersenyum kecil.
“Aku belajar dari pengalaman. Dua kali mencoba serius untuk melamarmu, keduanya gagal total. Malah berakhir dengan kemarahan. Untuk yang ketiga ini, aku tak ingin salah lagi.”
Aku memandangnya dengan cinta dan juga gemas.
Dia tertawa senang sambil menatapku. Berdua kami berjalan dengan hati bahagia. Aku membalas memegang tangannya yang erat merengkuh jemariku. Dalam hati aku berdoa, agar perjalanan yang baru kami mulai kembali ini, menjadi perjalanan menuju kehidupan yang indah. Dan rengkuhan tangan kami ini, tetap terasa hangat dan penuh cinta, serta hanya dapat terlepas ketika kematian memisahkan kami. (Tamat)
Baca juga:
Cerber: Intan yang Kucari [1]
Cerber: Intan yang Kucari [2]
Cerber: Intan yang Kucari [3]
.****
Rewinta Tampubolon
Topic
#fiksifemina


