
Foto: Shutterstock
Namun yang menjadi inti masalah, apakah dengan terjaminnya kebutuhan sehari-hari seperti di negara-negara barat maupun dengan cara di Indonesia, apakah para lansia ini pasti akan terbebaskan dari rasa kesepian?
Sering kita menganggap bila kebutuhan makan, minum dan kesehatan para lansia ini sudah terpenuhi, maka kita telah memenuhi kewajiban secara penuh. Hal yang mendasar yang kita lupa adalah bagaimana kita bisa menjamin perasaan dicintai dan diperhatikan sebagai antitesa perasaan kesepian para lansia ini. Mereka bisa jadi kakek atau nenek kita. Bisa jadi pula ayah atau ibu kita.
Dalam konteks perubahan sosial yang terjadi di tengah masyarakat di Indonesia, bentuk kekerabatan juga mengalami pergeseran. Tradisi keluarga besar yang selalu dapat diandalkan untuk merawat dan memenuhi layanan kebutuhan bagi orang yang lanjut usia terkikis oleh kondisi sosial dan ekonomi. Kondisi yang menyebabkan masing-masing anggota keluarga disibukkan dengan kegiatan mencari nafkah dan aktivitas lainnya yang serba sibuk dan ‘meninggalkan’ (secara harafiah maupun kiasan) anggota keluarga yang sudah lanjut usia ini. Bisa saja berada dalam satu rumah, tapi kondisi merasa sendirian, tidak diperhatikan dan tidak dicintai muncul karena kurangnya perhatian dari anggota keluarga yang lain. Apalagi yang tinggal sendiri.
Pada akhirnya, sekalipun data statistik dan penelitian dapat mengindikasikan pola atau perubahan sikap, peluang bahwa interaksi sehari-hari antara generasi lanjut usia dengan yang lebih muda penting untuk selalu diadakan.
Adalah ALZI (Alzheimer’s Indonesia) organisasi non-profit yang salah satu perannya adalah mencoba menggugah lintas generasi untuk berperan melakukan beragam aktivitas bermakna bersama orangtua dan lansia. Antara lain melakukan Gerakan seribu pemuda #SayangOrtu melalui konten video maupun foto. Anda dapat melihat kegiatan organisasi ini melalui media sosial.
Seperti kata-kata di awal tulisan ini”…bagi orang berusia lanjut, cinta dieja dengan kata waktu”. Bagi lansia, meluangkan waktu secara konsisten walau sebentar adalah ungkapan perhatian bagi mereka. Itu artinya, pada generasi yang lebih muda perlu ditumbuhkan keinginan tulus dan aksi nyata untuk mencintai dan menaruh perhatian pada kebutuhan generasi lanjut usia yang ada di dekat mereka, dalam keluarga. Marilah kita, dimulai dari diri sendiri menciptakan gerakan memberi perhatian bagi para orang tua kita, mencintainya, selalu terhubung dengan mereka sepenuh hati. Selamat Hari Lansia Nasional 29 Mei 2021! (f)
(Penulis: Sita Aripurnami, Direktur Eksekutif Women Research Institute, Jakarta)
Baca Juga:
Rekatkan Keluarga, Yuk, Bikin Kegiatan Seru
Pandemi COVID-19 dapat Memperburuk Kondisi Jiwa Orang dengan Demensia. Ini Cara Tepat Merawatnya
Dampak Pandemi COVID-19 : Milenial Kembali Tinggal dengan Orang Tua
Topic
#lansia, #keluarga


