
Dok: Shutterstock
Mindset dan Jiwa Entrepreneurship
Banyak orang penasaran bagaimana orang tua Mark Zuckerberg dulu mendidik Mark hingga menjadi sosok entrepreneur sukses seperti saat ini. Bukan rahasia kalau Mark, pendiri Facebook yang kini juga merambah ke Instagram dan Whatsapp, dianggap salah satu hero, panutan banyak orang muda di dunia.
Dalam beberapa kesempatan wawancara dengan media, ayah Mark, Edward Zuckerberg, yang berprofesi sebagai dokter mengatakan, tidak ada rahasia atau formula yang pasti untuk membentuk karakter anak. Namun, jika dipikirkan, ada beberapa hal yang menurutnya membentuk karakter Mark.
Menurut Edward, seorang anak akan berani mengambil risiko jika memiliki latar belakang keluarga yang lebih stabil, seperti yang ia berikan untuk Mark. Ia juga memilih untuk bekerja di rumah, sehingga dapat meluangkan waktu lebih banyak dengan anak-anaknya. Meki begitu ia memberi batasan jelas, ada area untuk ia bekerja dan tempat untuk anak-anak bermain.
“Nasihat terbaik yang bisa saya berikan untuk para orang tua adalah ketimbang menyetir hidup anak, lebih baik kenali kelebihan dan kekuatan anak dan dukung perkembangannya pada hal-hal yang mereka minati,” ujarnya.
Mark seperti ayahnya juga berusaha dekat dengan anak-anaknya, setidaknya di awal kehidupan kedua putri hasil pernikahannya dengan Priscilla Chan, Max dan August. Saat mereka lahir, pada tahun 2015 dan 2017, Mark mengambil cuti dua bulan penuh. Meski menurut pengakuan Priscilla pada acara Ted, Mark mencoba mengajari Max melakukan coding pada usia dua tahun, Mark justru mendorong kedua anaknya untuk lebih banyak beraktivitas di luar ruangan, menikmati keindahan bunga, dan mengumpulkan daun di kebun. Seperti surat untuk sang anak August, yang ditulis Mark di akun tulis Facebook-nya. Seperti ayahnya, Mark juga ingin memberikan kestabilan dalam keluarga, sehingga tak perlu khawatir akan masa depan.
Konsep serupa yang juga diterapkan Diajeng Lestari, founder dari HIJup dalam membesarkan anak-anaknya. Sejak usia belia, Diajeng sudah mulai dari mengajarkan hal dasar yang akan membentuk mindset. “Saat ini Laiqa sudah mulai saya kenalkan pada konsep creating. Kebetulan dia suka seni. Misalnya apa yang bisa dibuat dari barang bekas. Sekarang pengenalannya dari menemukan ide-ide baru seperti itu,” ujarnya.
Kondisi dunia yang terus bergerak dan serba tak pasti, juga menjadi perhatian Anthony dalam memberikan bekal hidup untuk anaknya. “Saya akan dorong mereka agar tidak terjebak pada kotak tertentu. Pendidikan itu penting dan bagaimana membentuk mindset bahwa hidup itu ditentukan oleh usaha kita,” ujar Antonny.
Menurut Yuswohady, menjadi seorang entrepreneur ada hard skill seperti ilmu bisnis, keuangan perusahaan, dan marketing, serta soft skill yang harus dipersiapkan. “Terpenting adalah soft skill-nya, terutama mental. Ketahanan yang tidak terlihat oleh banyak orang, padahal itu bagian yang tersulit seperti kreativitas, inovasi, dan tahan banting,” jelasnya.
Sebagai orang tua sangat penting untuk membangun lingkungan, iklim dan role model. Ketimbang bilang ini itu, seorang anak akan lebih mudah menyerap apa yang mereka lihat. Sebagai orang tua, ada tiga hal yang bisa dilakukan untuk menumbuhkan jiwa entrepreneur, menurut Yuswohady, yaitu pertama membangun rasa percaya diri bahwa jualan itu bukan sesuatu yang posisinya di bawah. Ini untuk membentuk mindset bahwa jualan itu tidak memalukan. “Karena hambatan pertama itu adalah malu. Kalau dia sudah gengsi dan enggak percaya diri maka jualan juga enggak natural,” katanya.
Kedua, adalah melatih anak untuk meyakinkan orang. Ketiga adalah melatih kemampuan anak untuk menjalin dan menjaga relationship. Membangun jejaring. menjaga konsumen dalam jangka panjang. Jika anak-anak sudah diajarkan itu, setelah anak besar, ia sudah memiliki dasar entrepreneurship-nya yang kuat.
“Kalau sudah besar, dia bikin produknya, itu hard skill. Tapi kalau untuk di usia dini yang terpenting adalah tiga hal tadi. Entrepreneurship itu tidak bisa dipelajari di sekolah, harus praktek,” tukasnya. (f)
Baca Juga:
Pria Juga Ingin Berperan Mengasuh Anak
Merayakan Hari Anak, Terungkap Fakta Bahwa Remaja Indonesia Masih Takut Bicara Soal Seks Pada Orang Tua
Topic
#family , #pengusaha


