Foto: Canva
Salah satu tantangan yang kita hadapi di dunia modern saat ini adalah sebuah keadaan yang sering disebut sebagai ‘nirempati’, yaitu saat kita berbicara mengenai ketidakpedulian seseorang untuk memahami, merasakan atau merespons perasaan dan kebutuhan emosi orang lain.
Dampaknya, orang-orang yang mengalami nirempati ini cenderung akan berperilaku acuh tak acuh, egois dan tidak peduli dengan tata krama dan etika sosial.
Menariknya, dalam studi neuroscience, individu yang menunjukkan tingkat empati rendah sering kali mengalami keterbatasan dalam keterampilan bernalar sosial, yang pada akhirnya berdampak pada buruknya etika dan sensitivitas sosial mereka.
Ketika kita perhatikan, ada banyak masalah hubungan manusia zaman sekarang berawal dari satu hal sederhana: Ketika seseorang berhenti berusaha memahami satu sama lain. Orang sibuk dengan pendapatnya sendiri, cepat tersinggung dan semakin sulit menahan diri untuk tidak bereaksi.
Padahal, empati bukan sekadar soal perasaan lembut. Empati juga melibatkan cara kita bernalar–bagaimana otak kita memproses apa yang orang lain rasakan, lalu menimbang apa yang sebaiknya kita lakukan.
Jadi sebenarnya ketika seseorang kehilangan empati, itu bukan hanya tanda bahwa hatinya ‘menebal’, tetapi juga peringatan bahwa nalar sosialnya melemah. Ia mungkin pintar secara akademis, tapi tidak lagi bijak dalam berhubungan.
Akal sehat, gabungan antara logika dan rasa
Kita sering mendengar istilah akal sehat atau common sense. Sebenarnya, akal sehat adalah kemampuan untuk berpikir logis, tapi juga tetap peka terhadap situasi dan perasaan orang lain.
Orang yang memiliki akal sehat tidak hanya bertanya, “Apakah ini benar menurut aturan?” tapi juga, “Apakah ini pantas dilakukan dalam keadaan ini?”.
Akal sehat membantu kita untuk tahu kapan harus berbicara dan kapan sebaiknya diam, serta bagaimana menyampaikan sesuatu tanpa menyakiti. Dengan kata lain, akal sehat adalah jembatan antara logika dan nurani.
Etika sehat dimulai dari cara kita bernalar
Etika tidak hanya berasal dari ajaran moral atau nilai agama. Etika tumbuh dari keterampilan kita menimbang akibat dari setiap tindakan–bukan hanya bagi diri sendiri, tapi juga bagi orang lain.
Ketika seseorang terbiasa berpikir sebelum bertindak, ia otomatis akan lebih berhati-hati dalam bersikap. Ia tidak akan mudah menyinggung atau menghakimi, dan dia juga akan tahu kapan harus mengambil keputusan untuk mundur selangkah demi menjaga hubungan baik.
Sebaliknya, ketika nalar berhenti berfungsi–ketika seseorang hanya mengikuti emosi atau kepentingan pribadi–maka etika pun ikut hilang. Orang seperti ini mungkin tampak berani dan “to-the-point”, tapi ia justru sering kali lupa bahwa keberanian tanpa empati hanyalah bentuk lain dari keegoisan.
Keseimbangan antara kepala dan hati
Penelitian tentang otak menunjukkan bahwa logika dan emosi sebenarnya bekerja beriringan. Bagian otak yang bertanggung jawab untuk berpikir rasional akan bekerja lebih baik jika selaras dengan bagian yang mengatur emosi.
Maka dari itu, orang yang disebut bijaksana bukanlah yang berpikir tanpa perasaan, melainkan yang mampu mengelola perasaannya agar tidak menutupi kejernihan berpikir. Ia tahu kapan harus lembut dan kapan harus tegas; menasihati tanpa merendahkan, menegur tanpa melukai.
Sayangnya, di zaman yang ‘bising’, serba cepat dan penuh opini seperti saat ini, kita menjadi sangat rentan untuk terseret arus emosi dan reaksi spontan. Satu komentar di media sosial saja bisa memicu kemarahan atau perpecahan.
Di sinilah pentingnya kita melatih diri untuk berhenti sejenak sebelum bereaksi. Menenangkan pikiran, lalu bertanya dalam hati, “Apakah cara saya merespons ini mencerminkan akal sehat saya? Apakah ini akan membangun, atau justru melukai?”. Karena sebenarnya nalar yang sehat bukan tentang seberapa cepat kita berpikir, melainkan seberapa dalam kita memahami sebelum menilai.
Bila ada satu hal yang selalu perlu kita tekankan pada diri sendiri secara konsisten, hal tersebut adalah etika yang sehat lahir dari nalar yang sehat–nalar yang tidak hanya tajam, tapi juga hangat. Ketika pikiran dan perasaan berjalan beriringan, kita menjadi manusia yang bukan hanya cerdas, tapi juga beradab.
Bagi para profesional perempuan yang berambisi menjadi pemimpin sejati, krisis nirempati bisa menjadi peluang terbesar. Kepemimpinan yang utuh–kepemimpinan yang mampu membangun dan mempertahankan tim yang loyal–dimulai dari kemampuan untuk tidak hanya mengelola proyek dan angka, tetapi juga mengelola hati.
Sebagai seorang pemimpin, kemampuan untuk menyeimbangkan logika dan rasa, untuk menegur tanpa merendahkan, dan untuk mengambil keputusan berdasarkan akal sehat yang peduli, adalah aset karier yang tak ternilai. Ini adalah kekuatan yang membedakan manajer yang cerdas dari pemimpin yang bijak.
Maka, marilah melatih diri secara konsisten. Di tengah dunia yang bising oleh ego, jadilah pemimpin yang memilih untuk berhenti sejenak, bertanya dalam hati, dan merespons dengan nalar yang terasah dan empati yang mendalam. Karena pada akhirnya, warisan kepemimpinan yang paling abadi bukanlah tentang seberapa tinggi posisi, tetapi tentang seberapa besar kontribusi kita menjadikan lingkungan kerja lebih manusiawi, beradab, dan bermakna.
Semua ini dimulai dengan satu langkah kecil: Memilih empati sebagai wujud tertinggi dari kecerdasan dalam memimpin. (f)
Penulis: Andrew Ardianto, Direktur Utama John Robert Powers Indonesia
Baca juga:
Bangun Kepribadian Kuat dan Profesional, Kunci Sukses di Modeling
5 Faktor Penting yang Menentukan Keberhasilan dalam Karier
Lakukan 5 Hal Ini di Kantor Sebelum Lunch Break
Topic
#karier, #tipskarier




