Rafiq mendeham, membersihkan kerongkongannya. Setelah yakin ia dapat bicara, ia mulai bicara, “Berapa umurmu, Sari?”
“Tujuh belas.”
“Ya, Allah! Mengapa kamu berada di sini?”
“Saya dijual!”
“Apa? Dijual? Bagaimana mungkin? Bagaimana sampai di sini?”
“Diajak teman.”
“Diajak apa?”
“Bekerja. Katanya, bekerja di toko.”
“Siapa teman itu?”
“Tetangga di kampung.”
“Lalu?”
“Saya dijual ke bosnya.” Wajah Sari seperti kesakitan. “Keperawanan saya dijual dua juta rupiah.”
Rafiq merasa suatu kemarahan mulai membakar dadanya. Tanpa terasa ia telah menghabiskan birnya. “Mengapa kamu tidak pulang saja?”
“Tidak bisa.”
“Mengapa tidak bisa?”
“Saya utang pada Iwan, pemilik tempat ini.”
“Kamu dijebak dan dijual, tapi masih merasa berutang? Tinggalkan tempat ini. Kembalilah ke tempat orang tuamu.”
“Tidak bisa.”
“Mengapa tidak bisa?”
“Orang tua saya punya utang pada tetangga yang membawa saya ke sini. Saya di sini cari uang. Bapak saya sakit dan meminjam uang untuk obat.”
Rafiq mengangkat tangannya dengan gerakan putus asa. “Kamu pasti bohong. Ini lebih gila daripada cerita sinetron!”
Sari memandang wajah Rafiq yang merah padam. Tiba-tiba Sari merasakan kesakitan yang amat menusuk hati. Tubuhnya gemetar dan wajahnya bagaikan kertas yang diremas. Air matanya mengalir deras, badannya terguncang oleh isakan tertahan. Ia memegang rambutnya dengan kedua tangan dan dengan sekuat tenaga berusaha untuk tidak berteriak.
Rafiq kaget bukan main. Tanpa sadar, nalurinya menembus segala ajaran yang ia dapatkan tentang tata cara pergaulan sesuai ajaran agama. Ia menangkap gadis histeris itu dalam dekapannya, membuainya dalam suatu gerakan yang naluriah, bagai membuai anak kecil yang sedih. Ia meletakkan wajah Sari ke bahunya. Serta-merta Sari memeluknya dan menangis dalam pelukan pemuda yang baru ia kenal, sampai air matanya tak bersisa.
“Maaf, maaf, Sari,” gumam Rafiq. “Maafkan saya karena tidak percaya padamu. Seharusnya, saya terima bahwa kehidupan nyata melebihi cerita sinetron mana pun. Saya memang hanya tahu sinetron. Tapi, tempat ini nyata. Dan, kurasa, ceritamu juga nyata. Maafkan saya.”
Isak Sari berhenti sesaat. Kemudian ia menyadari sedang didekap seorang pemuda tampan, seperti yang sering ia mimpikan. Tidak di sini, tidak sekarang. Pemuda itu akan pergi, hanya meninggalkan kenangan yang menyakitkan. Ia melepaskan diri dari pelukan Rafiq, mengambil tisu basah, dan mulai mengompres matanya.
“Sari,” Rafiq berkata lembut, “mengapa tidak ke polisi?”
Sari memandangnya sedih. Tetap cantik dengan mata sembap.
“Saya tidak bisa keluar. Kalau malam, pintu kamar saya dikunci dari luar. Pintu terali di tangga dikunci. Pintu kamar depan dikunci. Penjaga tidur di sana! Lagi pula, saya belum pegang cukup banyak uang. Tetangga saya akan datang menagih karena Bapak masih berutang.”
“Berapa?”
“Lima juta.”
“Tuhanku, lima juta itu kan harga motor bekas, harga televisi di masa krisis, gaji sebulan eksekutif papan bawah di Jakarta. Hanya untuk itu kamu di sini? Saya bisa memberi kamu lima juta!”
Sari memandangnya dalam diam, tidak berani beharap.
“Sari, saya akan tebus kamu! Saya pulang dulu dan besok akan ke sini lagi membawa uang. Ini, kartu nama saya. Kalau ada apa-apa, telepon saya!”
Rafiq melirik jam tangannya dan terkejut. Hampir dua jam lewat sejak ia ditinggal Wahyudi. “Sari, saya harus turun, ditunggu teman. Pokoknya, kamu akan saya tebus!” Lalu, Rafiq berdiri dengan bersemangat.
“Mas,” kata Sari tersipu-sipu, “bayar kamarnya dulu.”
Rafiq mengernyit. “Berapa?”
“Saya disuruh minta tiga ratus. Biasanya, sih, lima puluh.”
“Kenapa saya dimintai tiga ratus?”
“Iwan bilang, Mas anak orang kaya,” Sari menunduk malu.
Rafiq tertegun, tapi memahaminya. Ia mengeluarkan dompet. Di dalamnya hanya ada seratus ribu dan uang kecil. Tapi, ada dua kartu kredit. Ia mengangkat bahu, memberikan lembaran seratus itu pada Sari. ”Biar saya bicara pada Iwan,” katanya, lalu membuka pintu dan melangkah keluar.
Ketika menemukan Iwan, Rafiq langsung meradang, “Kamu perusak masyarakat, penjajah dalam arti yang sebenarnya. Di luar sana sedang terjadi reformasi, di sini saya lihat orang seperti kamu....”
Kata-katanya terpotong karena Iwan menarik bajunya. “Sudah, jangan berkhotbah disini. Bayar saja, lalu silakan pergi!”
Rafiq mencoba melepaskan diri, tapi cengkeraman lawannya begitu kuat. Setelah Rafiq diam, ia baru dilepaskan. “Bayar!” kata Iwan.
Rafiq mengeluarkan kartu kreditnya. “Pakai ini saja dulu. Besok saya tebus Sari. Akan kubawa pulang ke rumah orang tuanya. Lima juta, ‘kan?”
“Jangan macam-macam, saya tidak terima kartu. Tunai! Dan, jangan pikir kamu bisa membeli Sari. Seratus juta pun tidak saya berikan!”
Kedua orang itu kini menjadi pusat perhatian. Sejumlah wanita bergerombol menonton. Beberapa tamu segera membayar minuman dan pergi.
“Cepat bayar. Atau, berikan arlojimu. Atau, kalungmu!”
“Tidak bisa. Arloji ini pemberian orang tua. Kalung ini bertuliskan nama Allah dan Nabi-Nya. Saya tidak akan biarkan kamu mengotorinya! Saya akan bayar segera. Dan, saya punya uang untuk mendapatkan Sari. Kamu akan dapatkan uang lima juta milikmu!”
cerita selanjutnya >>
Penulis: Iwan Cipto


