Fiction
Prahara [5]

13 May 2012


Air mata Wulan mengalir deras. Menjelang pagi, ia tak bisa tidur. Kejadian-kejadian dan kabar datang silih-berganti dalam beberapa hari ini. Semuanya sangat mengejutkan. Tak cukup enak didengar oleh telinganya yang kian tua. 

Tanti. Pertama-tama gadis itu mengisyaratkan harapan terlalu tinggi. Ternyata, ia hanya dijadikan tempat berlindung. Tapi, ia tak menyesal karena berhasil melindungi gadis itu. Dadanya yang sempat sakit karena dibohongi Tanti, kini perlahan mulai lega. 

Pada akhirnya Wulan makin meyakini bahwa Bagas sampai saat ini masih menyisakan cinta pertamanya dan menutup pintu bagi gadis lain. Keyakinannya makin besar ketika beberapa perkenalannya dengan gadis lain berakhir dengan persahabatan biasa.

Cici, Citra, adalah orang berikut yang dipikirkan Wulan. ”Kalau benar rumah tangganya tidak bahagia, Tuhan, berilah mereka kebahagiaan. Kalau Bagas harus menanggung sakit hati berkepanjangan, bukalah mata hatinya. Berilah pasangan hidup yang rela menemaninya dalam suka dan duka.”

Suara langkah perlahan, yang terhenti di luar kamar, menghentikan doa Wulan. Ia usap mukanya, air matanya. Dadanya berguncang keras melihat jendela kamarnya dengan paksa dibuka dari luar. Lehernya seperti tersumbat. Tubuhnya tak bisa digerakkan, ketika muncul dua wajah pria bertopeng.

”Si... siapa...?”

Wulan tak sempat menyelesaikan kata-katanya. Dua sosok pria bergerak masuk dengan cepat. Dengan cekatan dan kekerasan, kedua pria itu meringkus tubuh Wulan. Secepat itu pula Wulan tak sadarkan diri.

Kedua pria itu bergerak dengan cepat, nyaris tanpa suara, mengaduk-aduk seisi lemari dan seisi kamar. Tapi, mereka kecewa karena tak mendapati barang yang dicari.

Sementara Wulan berada di rumah sakit karena shock, polisi, yang dipimpin perwira muda Ismono, memeriksa kamar Wulan dan seluruh penjuru rumah. Bagas dan kedua keponakannya menjadi penunjuk jalan di dalam rumah. Andini sibuk menjawab pertanyaan polisi. Sementara Bagas terlalu sibuk dengan pikirannya yang bercabang-cabang.

”Terima kasih karena Mas Bagas, Dik Ndini, dan Dik Ndana, telah membantu petugas. Kami akan menganalisis hasil penyidikan di kantor. Tapi, kami mohon bantuannya lagi jika petugas memerlukan,” kata Ismono, ketika mengakhiri penyidikan dan berniat pamit.

”Terima kasih banyak,” kata Bagas, sambil menutup pintu pagar.

Hari pertama Wulan masuk rumah sakit, ia menerima karangan bunga dari keluarga Wahono. Sekarang bunga itu sudah hampir kering. Namun, tak ada yang berani memindahkannya dari ruang tamu. Atas permintaan Wulan ketika di rumah sakit, karangan bunga itu dibawa pulang. Kini, ketika Wulan sudah sehat kembali, karangan bunga itu tak boleh disingkirkan.

”Bukan bunganya yang penting, tapi niatnya,” kata Wulan, ketika bersiap meninggalkan rumah sakit beberapa hari yang lalu. 
Baik Harini maupun Bagas keberatan. ”Siapa tahu pengiriman bunga ini cuma basa-basi?”

”Harini, siapa yang tahu apakah bunga itu dikirim dengan niat baik atau tidak? Kita kan tidak akan pernah tahu yang sesungguhnya. Tapi, apa pun niat di balik pengiriman bunga ini, kita harus menunjukkan kepada kerabat kita, kepada para tetangga, bahwa kita ini orang kecil yang berjiwa besar. Dengan menerima kiriman ini, dengan membawa pulang bunga ini, kita telah menunjukkan bahwa kita berjiwa besar.”

”Saya nggak ngerti, Bu.”

”Mungkin, karena jiwamu belum besar, Har. Mungkin. Aku tidak tahu. Tetapi, kalau kamu bisa bercermin, kiriman bunga dari keluarga Wahono ini menandakan pengakuan mereka bahwa kita berjiwa besar. Sebaliknya, kalau mereka menilai kita berjiwa kerdil, untuk apa mereka mengirim bunga?”

Harini, Bagas, Prasojo, dan si kembar, makin memahami jalan pikiran Wulan. Makin banyak mereka memetik pelajaran hidup. Bukan dengan menolak atau secepatnya menyingkirkan pemberian orang yang pernah menyakiti kita. Bukan memperpanjang permusuhan agar hati kita puas, melainkan dengan menerima dan menempatkan pemberian itu secara khusus.

Sebenarnya, Bagas makin tersiksa dengan adanya karangan bunga tersebut. Makin tersiksa karena bunga itu terus-menerus mengingatkannya pada Cici. Pesan Cici yang disampaikan melalui Bunga, keponakan Cici, juga terus menerornya.

Karangan bunga itu mengingatkannya pada kawin paksa yang dilakukan Wahono, yang secara sepihak memutus cintanya dengan Cici. Tapi, benarkah ucapan Cici yang disampaikan lewat Bunga?

”Selagi kalian tidak menunggu di rumah sakit, Pak Wahono dan Bu Wahono datang menjengukku,” kata Wulan.

Semua yang mendengar diam, ingin mendengar lanjutannya.

”Mereka diantar Ismono.”

”Mereka bilang apa, Bu?” tanya Bagas.

”Bagas... Bagas.... Kalau kamu tidak berada di depanku, aku tidak percaya bahwa kamulah yang menulis serial Bagasantara itu. Anakku ternyata tak sebijaksana, sesabar, dan sepintar Bagasantara. Atau, jangan-jangan, memang bukan kamu yang menulis?”

Harini dan Prasojo tersenyum. Andana dan Andini menutup mulut mereka dengan tangan agar tawanya tak terdengar. Bagas memelototi kedua keponakannya.

”Bunga sudah menyampaikan pesan Cici padamu kan, Bagas?”

Andini terkejut. Lebih-lebih Bagas. Yang lain tak mengerti arah pembicaraan itu. Bagaimana mungkin ibunya tahu peran Bunga?

”Tidak baik berbohong atau mengelak. Memang, ada kalanya berat untuk jujur. Contohnya, Tanti. Dia lebih memilih mengelak dan berpura-pura. Untuk sementara memang menyenangkan. Tapi, akibatnya kan kacau begini. Uren Brewok sampai masuk tahanan. Anak buahnya nekat ngobrak-ngabrik kamarku, cuma buat menemukan foto Tanti. Kamu harus belajar dari kesalahan orang lain, Bagas. Juga kalian yang lain.”

Tawa dan senyum mereka sirna. Semuanya mendengarkan dan memerhatikan ibu mereka dengan penuh perhatian. Mereka menanti kata-kata, keputusan, kabar, atau apa pun yang mengejutkan. 

”Cici boleh saja bangga berhasil mempertahankan diri selama sepuluh tahun dari jamahan suaminya. Itu haknya,” kata Wulan, lalu berhenti. Ia mengamati si kembar. ”Har, Pras, kalau kamu beranggapan si kembar belum waktunya mendengar omonganku, suruh mereka menyingkir. Tapi, kalau kalian menganggap mereka perlu memperoleh pelajaran hidup dari neneknya yang sudah tua ini, biarkan mereka di sini.”

Prasojo dan Harini saling pandang. Andini dan Andana khawatir sekali kalau harus meninggalkan pembicaraan yang menarik ini. Prasojo dan Harini kembali memerhatikan ke arah Wulan. Si kembar merasa lega boleh tinggal dan mendengarkan.

Wulan melanjutkan bicara, ”Ibu dan almarhum bapakmu tidak pernah memaksa anak-anaknya harus kawin dengan siapa. Bukan karena aku dan bapakmu merasakan sendiri dinikahkan oleh orang tua, tanpa meminta persetujuan kami lebih dulu. Aku dan bapakmu tidak mendendam karena kami nyatanya bahagia. Sudah ribuan kali orang bercerita, orang zaman dulu menikahkan anaknya tanpa harus bertanya kepada yang akan berumah tangga. Begitu juga yang dialami Wahono. Mereka merasakan menikah atas keinginan orang tua.

”Tidak sepenuhnya salah kalau mereka memaksa menikahkan Cici dan Ferdy, tanpa minta persetujuan calon pengantin. Kenapa mereka tidak sepenuhnya salah? Karena, sebagai orang tua, mereka punya cita-cita. Punya keinginan. Punya kekhawatiran. Cita-cita atau keinginan mereka adalah agar anak-anaknya bahagia dalam berumah tangga. Kekhawatiran mereka adalah kalau rumah tangga anaknya berantakan atau tidak bahagia. Karena itu, mereka mencari dan menentukan pilihan berdasarkan perhitungan-perhitungan.

”Menurut perhitungan, Ferdy dan Cici jelas akan bahagia. Yang satu tampan, lainnya cantik. Yang satu putra mantan bupati, lainnya putri pegawai kabupaten. Yang satu kaya, yang lain berada. Yang satu berpendidikan tinggi, yang lain lulusan SMA. Coba lihat, di mana kelemahannya sebelum kalian tahu rumah tangga mereka pada akhirnya berantakan?”

Bagas tak mengerti, bagaimana mungkin ibunya, yang selama beberapa hari berada di rumah sakit, dan setelah pulang hanya diam di rumah, bisa memperoleh banyak informasi?

”Aku tidak pernah memaksa kalian menikah dengan pilihanku. Tapi, wajar saja kan jika aku ingin punya menantu yang cocok dengan anakku? Tapi, siapa yang cocok jadi pendamping anakku, aku memang tidak pernah tahu sebelumnya. Karena itu, wajar kalau aku mau mengenalkan Bagas pada Tanti. Juga pada putrinya Pak Mantri Polisi, yang sarjana pertanian itu. Atau, pada Rini, yang masih kerabat jauh kita? Tapi, aku tidak pernah memaksa kan, Bagas?”

”Saya minta maaf karena belum memenuhi keinginan Ibu.”

”Aku ingatkan kalian semua, jodoh atau pasangan hidup itu boleh kita upayakan. Kalau zaman dulu orang mengadakan kawin paksa, itu termasuk upaya. Tetapi, yang paling menentukan kan Allah. Jadi, kalau kamu belum berjodoh sampai sekarang, jangan merasa bersalah dan menganggap perlu minta maaf sama Ibu.

”Kalau kamu tetap mencintai Cici, sedangkan Cici itu sudah menjadi istri orang, itu baru salah. Kecuali, kalau dia sudah tidak bersuami lagi.”

”Saya tidak paham arah pembicaraan Ibu,” kata Bagas.

”Sejak tadi kamu tidak paham. Itu karena pikiranmu terus terganggu. Kamu terganggu oleh berita tentang Cici, ‘kan? Mengaku sajalah. Tapi, kamu perlu mengakui bahwa dia itu istri orang lain. Setidaknya belum bercerai. Boleh saja dia merasa bangga bisa mempertahankan kesuciannya untuk menunjukkan cintanya padamu. Tapi, Ibu juga punya hak menilai. Makanya, dengarkan kata penghulu waktu menikahkan pasangan calon suami-istri.

”Coba simak dan pelajari. Penghulu memang hanya petugas dari kantor urusan agama. Tetapi, yang diucapkan adalah hukum. Artinya, kalau pernikahan telah disahkan, perempuan mempunyai hak dan kewajiban sebagai istri. Begitu juga dengan laki-laki. Nah, sekarang kamu pikir. Kalau ada perempuan yang sudah sah menikah dengan laki-laki, tetapi dia tidak menjalankan kewajibannya sebagai istri, apa yang terjadi?

”Bagas, kamu pintar, sukses, dan terpandang. Jangan melanggar hukum. Kamu bisa saja mencintai Cici dan Cici tetap mencintai kamu. Selama ini kalian mungkin tak pernah melakukan tindakan yang menurut kalian melanggar hukum. Kalian hanya bertemu untuk bicara. Tetapi, bagaimana pun, tetap ada yang tahu.

”Baik, Ibu sudah bicara panjang lebar. Semua ini bisa kalian jadikan bekal untuk masa depan atau bahkan kalian tolak sama sekali. Aku tidak memaksa. Kegagalan di masa lalu bisa jadi pelajaran yang baik, kalau kita bisa melihatnya dengan jernih. Untuk bisa melihat dengan jernih, caranya mudah saja. Sering-seringlah berkaca. Berkaca diri.”

Wulan berdiri, meninggalkan ruang tamu menuju kamarnya, tanpa bicara lagi. Harini bertanya, berbisik pada Bagas, ”Jadi, kamu akan kembali pada Cici?”

Bagas hanya menunduk. Tiba-tiba ibunya keluar dari kamarnya, di ambang pintu ia bicara, ”Ingat, Bagas, semua orang yang mengenal Cici sebagai Citra, sudah tahu bahwa ia berhubungan dengan Jacky. Ke mana-mana berdua. Ke Australia pun berdua. Ibu tahu itu. Ibu tidak habis pikir, masa ada wanita yang terus-menerus menyakiti hati suaminya, tapi wanita itu tidak bisa kamu lupakan.”

Semua tercengang. Bagas tercenung.

Tiara percaya pada intuisinya. Walaupun baru dua tahun menjadi reporter di majalah Cineast, walaupun tidak pernah mendapat penugasan yang berbahaya, dia telah terlatih menggunakan intuisinya sebagai kelengkapan berburu berita.

Sejak kemarin ia memaksa untuk menyusul Bagas supaya bisa menulis berita-berita di seputar Bagas. Untuk melengkapi berita Cineast yang akan menangkis tuduhan dan gosip bahwa majalah tersebut bekerja sama dengan produser dalam mempromosikan film Escape from Java, dengan jalan memuat tulisan Bagas mengenai kasus kematian artis Nila.

                                                                cerita selanjutnya >>

Penulis: Rangabehi Widisantosa


 


polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?