<< cerita sebelumnyaBaloi Centre, Agustus 2008
Ponselnya memekik nyaring. Rianty menepikan motornya di pelataran parkir, tepat di sayap kanan gedung bercat kuning muda yang baru selesai dibangun dengan sebuah plang nama ’Kursus Bahasa Inggris dan Ketrampilan Puan Kelana’ terpancang di depannya.
”Neng Rianty, ini saya, Bi Parni.”
Senyum Rianty kontan mengembang. ”Halo, Bi. Apa kabar?”
”Baik-baik aja, Neng. Neng gimana?”
”Alhamdulillah sehat, Bi.”
”Bibi mau ngabarin berita gembira, Tary mah udah ingat sama Bibi. Lainnya emang dia masih lupa, Neng. Tary udah mau manggil Bibi ’ibu’, sekarang dia rajin bantuin Bibi ngurus kebun sama bikin tape.”
”Saya turut senang mendengarnya.” Tak dapat ia bayangkan bagaimana bahagianya Bik Parni saat ini. Dari nada suaranya yang meloncat-loncat dan tarikan napasnya yang megap, ia yakin kegembiraan Bi Parni lebih dari yang bisa diungkapkannya lewat kata-kata.
Betapa awal yang menyenangkan pagi ini. Mendapat kabar kemajuan tentang Tary setelah setahun berlalu, serasa meneguk suplemen penyuplai semangat dan stamina dosis tinggi sebelum ia memulai aktivitasnya pagi ini.
“Teacher, where should I put your book?” seorang gadis berlesung pipit berseragam SMU menyapanya. Tangannya menggenggam erat beberapa modul tebal berbahasa Inggris.
“Just put it on my table, Surti. What time will you go up for school?”
Gadis itu tersenyum. “I still have ten minutes to help you, Teacher.”
Rianty menggerakkan telunjuknya dan menggeleng pelan. “No, no. Left my books and go now. Otherwise you could be late.”
Lesung pipit Surti kembali tersembul. Senyum ceria gadis itu tambah memompa semangat Rianty. Tary dan Surti, dua kuntum bunga yang masih sempat terselamatkan, walaupun harus melalui liku-liku dan nasib tragis. Entah berapa banyak pula kuntum bunga yang baru merekah dan gagal diselamatkan di luar sana. Menjadi korban dari lemahnya perlindungan hukum, ketidakberdayaan ekonomi dan jaringan sindikat yang terorganisasi rapi. Entah sampai kapan pula, kuntum-kuntum bunga itu harus terus berjatuhan dan menjadi layu tanpa ada kekuatan yang sanggup untuk mencegah atau paling tidak meminimalkan jumlahnya.
Rianty menatap sekilas plang nama itu. Lalu melayangkan matanya pada dua buah ruang kelas yang masih baru, bahkan bau catnya pun masih jelas tercium. Satu ruang lagi yang terletak paling ujung baru delapan puluh persen selesai. Ruang yang rencananya akan dijadikan kelas keterampilan memasak dan menjahit. Mungkin juga ke depan ruang itu akan ditambah, mengingat dua ruang kelas keterampilan dan bahasa Inggris yang telah ada sekarang telah ramai peminat, dengan ibu-ibu rumah tangga dari golongan kurang mampu yang tinggal di sekitar rumah singgah.
Rianty menarik napas dalam-dalam. Mensyukuri karunia yang tak putus mencucurinya. Apa yang tengah ia perjuangkan saat ini, masih berupa embrio, masih terlalu dini untuk dapat memutus rantai panjang dilema itu. Paling tidak, dengan berdirinya kursus keterampilan ini, ia sudah merintis jalan pembuka.
Semua yang telah dicapainya dalam waktu relatif singkat itu, tak lantas membuatnya berpuas diri, apalagi berbangga hati. Masih berpuluh mimpi-mimpinya yang antre untuk diwujudkan. Salah satunya adalah rencananya untuk merintis usaha yang kelak dapat menampung para wanita berpendidikan rendah dan kemampuan ekonominya lemah untuk membantu mengepulkan asap dapur mereka dengan memiliki mata pencaharian.
Menurutnya, mata rantai utama penyebab muncul dan berkembangnya kasus-kasus yang menimpa kaum wanita, selain faktor rendahnya tingkat pendidikan, adalah faktor minimnya kesejahteraan. Seandainya saja perekonomian masyarakat golongan marginal membaik, dan kesempatan kerja terbuka lebih luas. Paling tidak, wanita di persada ini tak lagi tergiur mereguk dolar, ringgit, dan riyal di negeri orang, yang justru tak jarang berbuah pada derita panjang.
Namun, seperti kata Zokh, dinamitnya memang telah meledak. Namun, ia memerlukan cadangan energi yang berlimpah untuk memperjuangkan sederet obsesinya itu untuk terus meroket.
Sebuah mobil sedan berhenti di depan ruang tunggu rumah singgah, yang terletak persis bersebelahan dengan gedung kursus pendidikan itu. Seorang gadis jangkung keluar dari dalam mobil, dan seperti biasa, melangkah dengan bergegas.
”Hi, Teacher Rianty! Ready to start? Look very fresh of you this morning,” sapa sebuah suara bariton yang melongokkan kepalanya dari balik kaca mobil. Suara yang tak asing di telinganya.
“Ri, kami pergi dulu, ya. Mau nyoba kedai bubur ayam yang baru buka. Mau ikut?” ajak Meinar dari teras rumah singgah.
“Aku sudah sarapan. Lain kali saja.”
Pria di balik setir itu lalu membukakan pintu, dan Meinar menyambutnya dengan mengecup mesra dahinya. Sedan itu perlahan menjauh. Bunyi klakson terdengar dua kali sebelum akhirnya berlalu dari pandangan Rianty. Meninggalkan asap halus dari knalpot yang langsung menguap tertelan udara pagi.
Rianty mengukir senyum. Enam bulan lalu pemandangan semacam itu masih memunculkan rasa perih, gemuruh, bahkan gejolak yang membakar. Sekarang, semuanya terlihat amat biasa. Sama datarnya dengan rutinitas lalu-lalang aktivitas kendaraan di jalan raya yang saling beradu kencang. Hampir tak ada lagi gejolak yang tersisa. Ah, betapa waktu begitu singkat. Kini Rianty tak lagi meyakini kata pepatah bahwa waktulah yang mengubah segalanya. Waktu tak lebih dari suatu dimensi abstrak yang tak dapat ditarik mundur, karunia Tuhan pada hambaNya untuk berproses menjadikan diri mereka berguna, dan manusialah yang sesungguhnya bebas mengisi warna-warni yang diinginkannya pada dimensi itu.
Ia tak ingat persis awalnya dan bagaimana jalinan itu bermula. Semuanya terasa samar. Atau, mungkinkah dirinya yang terlalu naif, sehingga tak menangkap sinyal-sinyal halus yang telah sejak lama terkirim oleh genderang jiwa mereka masing-masing? Mungkin saja, segala pendapat Zokh tentang Meinar itu hanya basa-basi. Sesungguhnya dia telah lama menyimpan kekaguman pada Meinar. Kekaguman yang perlahan bertunas menjadi cinta?
Ah, apa pedulinya dengan semua itu? Toh, Meinar tak pernah memedulikan perasaannya yang selama ini hanya mengukir nama Zokh di dalamnya. Bagi Rianty, persahabatan sama agungnya dengan meletakkan kepercayaan pada posisinya yang tertinggi.
Sekali lagi, apa pedulinya? Karena hari ini, berdiri di depan sebuah kursus pendidikan dan keterampilan bermisi sosial yang dimotorinya, dengan segudang rencana-rencana masa depan yang telah tertata rapi di kepalanya dan kapan saja siap untuk diluncurkan, ia, toh, merasa tak kalah ’perkasa’ dibanding Meinar. Bahkan, barangkali saja, dirinyalah yang justru lebih tangguh! Merelakan pria yang ia cintai ke dalam pelukan sahabat karib sendiri, harus pula menyaksikan dan mencium hawa kemesraan mereka hampir setiap saat di depan mata. Bukankah itu semua adalah porsi tersulit dari keikhlasan dan kekuatan jiwa seorang wanita?
Hatimu belum akan hidup kalau belum mengalami rasa sakit. Dan sakit karena cinta akan membukakan hati, walau hati itu sekeras batu. Sebait kata bijak musisi Timur Tengah itu, barangkali benar adanya. Paling tidak, itulah yang ia rasakan kini. Kekecewaannya yang dulu pernah melesak dan menggumpal, makin lama justru makin membentuk kumparan energi yang meletupkan semangat dan obsesinya. Membuatnya selalu merasa tertantang dan penuh antusias mewujudkan mimpi-mimpinya, bahkan serpih-serpih luka lama itu pun kini telah tersapu bersih dari relung hatinya.
”Good morning, Teacher,” suara murid-muridnya serentak menyapa, ketika langkahnya tiba di pintu kelas.
”Good morning, Teacher.”
Ha? Siapa pula yang terlambat pagi ini? Bukankah ia selalu menoleransi hampir seperempat jam sebelum kelas dimulai? Tetapi, tunggu! Kerlingan jail disertai dehem sebagian muridnya yang semuanya wanita itu, juga suara yang menyusul belakangan yang terdengar dibuat-buat itu, mengisyaratkan bahwa sapa itu sama sekali bukan dari seorang muridnya yang terlambat.
Rianty menoleh. Sesosok pria dalam balutan seragam polisi berdiri bersandar pada tiang. Kedua tangannya yang dimasukkan ke saku celananya dengan sikap relaks, makin memperkuat aura ketampanan pria itu. Namun, yang terlihat pagi ini bukan hanya raut tampan itu yang telah memaku matanya, memesonanya, tetapi juga senyum tulus pada wajah bening itu, telah membangkitkan kembali spiritnya yang sejenak terusik oleh kehadiran sepasang kekasih tadi.
Rianty balas tersenyum, senyum terindahnya pagi ini. ”Good morning, Mr. Alan....” (tamat)
Penulis : Riawani Elyta
Pemenang II Sayembara Mengarang Cerber femina 2008


