Fiction
Matahari Bupalo [2]

16 Mar 2012

<<< Cerita Sebelumnya

Tiga bulan lalu sebetulnya sudah ada beberapa partai yang bersedia mengusung Tante. Tapi, beberapa pihak yang tidak suka, kemudian meniup-niupkan isu jelek tentang performa almarhum suami Tante selama jadi wakil bupati. Spontan partai-partai yang awalnya mendukung, mencabut dukungan mereka. Kalaupun ada yang bertahan, jumlah kursi mereka di DPRD tidak memenuhi kuota. Padahal, deadline di KPUD tinggal tiga bulan lagi. Tante sempat stres. Akhirnya, lewat lobi sana-sini di Jakarta, dua partai besar di pusat bersedia membelokkan dukungan mereka ke Tante. Tapi, dengan syarat, Tante harus menang. Ini deal politik yang tidak bisa diganggu-gugat.

”Harus menang?” Aku meringis, tanpa berani melirik Hajah Nur. ”Tapi, ini kan politik. Mana ada yang serba harus dan serba pasti di politik?”

”Setuju. Itu sebabnya saya butuh Anda,” suara Hajah Nur terdengar lunak ketika menyela. Ada semacam kekuatan yang tampaknya akan sulit kutolak. Tapi, memang bukan tugasku untuk menjamin kemenangan padanya, dan ia harus tahu itu. Jujur di awal, buatku, jauh lebih baik.

”Mohon maaf, Ibu.” Akhirnya aku berani menatap matanya yang adem. Mata yang seketika kutahu tak akan mungkin kukecewakan. ”Mungkin Ibu perlu tahu dan paham lebih dulu bidang pekerjaan saya. Sebagai PR Consultant, bukan kapasitas saya untuk menyulap yang tidak ada menjadi pasti ada.

”Dalam kaitan kerja sama kita nanti, tugas saya adalah memberi pemahaman kepada masyarakat pemilih akan nilai lebih dari Ibu. Mengedukasi mereka, menyosialisasikan eksistensi Ibu, baik secara langsung maupun melalui media massa, sehingga mereka mengetahui dan merasa yakin bahwa Ibu adalah calon pemimpin yang mereka cari. Tapi, apakah kemudian Ibu otomatis akan terpilih, kembali berpulang pada Ibu sendiri. Sehebat dan sebagus apa pun saya memoles Ibu, kalau Ibu sendiri tidak siap mengantisipasi aspirasi masyarakat pemilih, mustahil Ibu akan menang.”

”Saya tahu. Kalau begitu saya ralat, saya butuh Anda untuk membantu saya meraih kemenangan.”

Senyumku mengembang. Ia ternyata lebih cerdas dari yang aku kira. Hanya dengan sekali bicara, ia bisa menangkap seluruh makna yang kumaksud, dan mengompromikan dengan keinginan-keinginannya. Kupikir, mestinya ia bisa menjadi klien yang bersahabat.

“Tapi, masih ada satu lagi. Posisi saya adalah konsultan. Dalam bekerja sama nanti, kedudukan kita harus sejajar. Saya adalah partner Ibu, penasehat Ibu, tempat Ibu berkonsultasi dan meminta advis; bukan karyawan yang, maaf, bisa Ibu suruh-suruh atau Ibu perlakukan kasar.”

“Saya mengerti.”

”Oke,” Harvey menyela. ”Kalau begitu, kita bisa langsung ke MOU?”

Hajah Nur mengangkat alis, sementara kakiku di bawah meja spontan menginjak sepatunya.

”Kenapa?” Dia malah membeliak heran. ”Tante kan perlu tahu juga berapa fee kamu!”

”Nanti dulu, nanti dulu,” Hajah Nur balik menyela, seperti tak terusik. ”Biar adil, saya perlu tahu juga bagaimana cara saya meyakini diri bahwa Anda adalah orang yang tepat.”

”Sederhana.” Aku menyodorkan kedua ponselku ke hadapannya. ”Di dalam sini ada banyak nomor telepon kolega, teman, orang tua, bahkan musuh-musuh saya. Ibu bisa menghubungi mereka satu per satu dan mencaritahu seperti apa saya dan kapasitas saya sesungguhnya.” Aku melirik Harvey. ”Maksud saya, Ibu jangan cuma percaya pada keponakan Ibu. Dia sengaja mempomosikan saya habis-habisan karena dia akan menodong jatah fee pada saya nanti. Justru itu tidak obyektif.”

Harvey menjerit sambil menyepak tungkai kakiku.

Aku menyeringai tak peduli. Tapi, Hajah Nur tersenyum lebar. Senyum yang kukira semacam rasa lega dan senang. Baru pertama kali kulihat, namun tampaknya senyum itu mampu menghapus kemuraman yang semula melingkupi wajahnya.

”Tak perlu kalau begitu. Spontanitas dan keterbukaan sikap Anda tadi sudah cukup meyakinkan saya.” Hajah Nur menyorongkan kembali kedua ponsel tadi ke hadapanku. ”Kalau akhirnya kita bekerja sama, percayalah, itu bukan karena kecap dapur Harvey yang penuh pesan sponsor....”

Harvey kembali menjerit dan menjedukkan kepalanya dengan manja ke lengan Hajah Nur. ”Belum apa-apa sudah berkoalisi! Dasar politikus!”

Umpatan itu memaksa Hajah Nur kembali tertawa geli. ”Jadi, kita sudah bisa mulai bekerja?”

”Ya, setelah Ibu menjawab satu pertanyaan saya terakhir: kenapa Ibu membutuhkan saya?”

”Persis seperti yang Anda inginkan: karena saya butuh partner kerja. Perlu saya tambahkan: dia harus wanita. Kenapa harus wanita? Jawabannya akan Anda temukan sendiri di Buru nanti.”

Keningku mengedut. Cukup misterius dan kian menantang. ”Oke, untuk memulai kerja sama, saya memerlukan data-data Ibu.”

”Akan segera saya kirimkan.”

”Saya juga akan mewawancarai Ibu.”

”Tidak sekarang, kan? Saya masih ada rapat. Kita atur besok?”

“Deal!”

Keesokan siangnya cuma pesan suara dari Harvey yang masuk ke ponselku: Tante Nur mendadak harus terbang ke Ambon tadi malam, dipanggil gubernur. Minggu depan dia kembali ke Jakarta dan siap kamu wawancara. Data-data yang kamu butuhkan juga akan dikirim secepatnya.

Minggu depannya justru tiket pesawat Jakarta-Ambon yang tiba di tanganku, menyusul pesan suara dari Hajah Nur: Daripada buang waktu mempelajari data-data tentang saya, lebih baik Anda langsung terbang ke Buru dan inconigto ke masyarakat untuk mengetahui seperti apa saya sesungguhnya di mata mereka. Di Ambon sudah menunggu tim yang akan menemani Anda menyeberang ke Pulau Buru.

Maka, di sinilah aku sekarang, berdiri lepas sendirian ribuan kilometer dari Jakarta. Harvey pun enggan menemaniku. “Buru? Mana ada mal di sana!”

Dasar raja mal! Menjenguk tanah leluhur pun dia enggan!

Rumah besar itu seperti hendak berpesta. Di halamannya, puluhan orang tampak berlalu-lalang dan luber hingga ke luar pagar. Sebagian duduk lesehan memenuhi teras, sisanya tercecer antara pos satpam hingga melingkar ke belakang rumah. Berdiskusi bergerombol-gerombol, entah membahas apa.

Hajah Nur menjadikan rumah tiga hektar miliknya yang bak istana ini sekaligus sebagai posko sekretariat tim sukses. Seorang wartawan lokal yang tak sengaja kutemui di kapal cepat Ambon-Buru sempat membisiki, jika kemewahan rumah pribadi itulah yang pernah memancing isu korupsi mendiang suami Hajah Nur, saat menjabat wakil bupati. Kabar itulah yang akan kembali diembuskan kubu lawan, seandainya Hajah Nur bersikeras maju sebagai calon bupati dalam pilkada nanti. Satu cerita yang akan kucari tahu dari bibir cantik Hajah Nur sendiri, kelak.

Berada dalam rumah ini memang terasa nyaman. Meski tak setiap ruangan full AC, struktur bangunannya yang mengizinkan pasukan angin leluasa berlalu-lalang, menjadikan tubuh yang sebelumnya terpanggang matahari Buru seketika segar dan bersemangat.

Turun dari mobil yang dikendarai Aziz, aku masih bisa merasakan tatapan curiga dari orang-orang sekitar. Tak heran. Bahkan, cenderung aneh jika mereka bisa dengan gampang menerima begitu saja kehadiran wanita kota sepertiku di pulau ini. Tentu berbeda halnya jika aku muncul sebagai turis atau pengusaha.

“Tadinya, sewaktu Ibu menyebut-nyebut akan mendatangkan konsultan politik dari Jakarta, beta kira dia laki-laki!” celetuk seseorang di ruang rapat, saat malam harinya Hajah Nur memperkenalkan diriku pada koalisi partai dan tim sukses yang mendukungnya.

Aku meringis. Prakata awal yang jauh dari kesan ramah itu seakan mengisyaratkan seberat apa medan kerja yang harus kulalui.

“Mohon maaf kalau saya sudah mengecewakan Bapak. Tapi, mudah-mudahan penampilan fisik saya tidak akan sampai mengganggu rencana kerja sama kita nanti,” sahutku, mencoba ramah dan memulihkan suasana.

Gagal. Karena, orang yang belakangan kutahu seorang pendeta dan ketua salah satu partai kecil itu sudah siap dengan psywar yang akan menggoyahkan mentalku.

“Tapi, orang kota seperti Nona, tahu apa soal Buru?”

“Betul itu. Kalau Jakarta, bolehlah Nona tahu segala hal. Tapi, Buru? Sudah berapa kali Nona ke Buru sebelum ini?” seorang peserta lain menimpali, seakan sepakat menggojlok aku.

Situasi yang tak pernah kuduga. Bisa kupastikan, tanpa perlu bercermin, betapa merah mukaku. Tak sampai ke telinga, memang, tapi cukup membuat tubuhku sedikit bergetar.

“Semua yang Bapak-Bapak sampaikan benar belaka,” kullindas rasa marah dan ketersinggungan jauh-jauh ke dasar hati. Ketika menandatangani MOU dengan Hajah Nur tempo hari, tak ada klausul dikerjain serupa ini. Tapi, lari dan menarik diri, tentu sudah terlambat. Tinggal pada kesungguhan Hajah Nur aku bersandar.

Kulirik dia, ingin tahu apakah keyakinannya terhadapku ikut goyah saat ini.


Penulis: Djoenaedy Siswo Pratikno


 


polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?