Troy memegang lembaran tabloid itu, tanpa menyadari bahwa seluruh sendinya ikut bergetar. Matanya bergerak-gerak gelisah. Dia duduk di belakang meja kerjanya. Judul besar Pembuktian Ramalan-Ramalan Atlantis di halaman depan saja sudah membuat jantung Troy berdegup jauh lebih kencang daripada biasa.
Sekarang laporan utama tabloid Triple Check itu satu per satu mengupas ramalan-ramalan Atlantis dalam siaran langsung Mad Man Show edisi akhir tahun.
Mad Man Show akan memulai siaran tunda.
Sikap sinis Troy akan berkurang drastis.
Banyak selebriti wanita yang menolak tampil di Mad Man Show.
Tiga judul ini saja sudah membuat Troy merasa kehilangan gravitasi bumi. Seakan-akan berat badannya lenyap dan dia sekarang melayang-layang di udara. Bagaimana mungkin ramalan-ramalannya bisa begini tepat? Ah, ini kebetulan saja. Tapi, apakah mungkin terjadi begini banyak kebetulan?
Troy buru-buru meraih ponsel di depannya.
“Galih!”
“Ya.”
“Kamu punya nomor kontak Atlantis selain yang aku punya?”
“Dia tidak bisa dihubungi?”
“Aku mati-matian menghubunginya sejak kemarin. Nihil.”
“Kamu ingin mengundangnya lagi, Troy?”
Troy terdiam beberapa detik. Kata-kata Atlantis kembali berputar di kepalanya. Riwayatmu akan berakhir bulan depan. Itu persisnya yang aku katakan.
”Troy!”
”So... sorry. Bukan.... aku tidak berencana mengundangnya.”
”Lalu?”
”Ah, kamu bisa ke ruanganku sekarang?”
”Kamu yakin, Troy?”
”Setengah mati aku ingin tidak percaya. Tapi, semua yang dia katakan benar-benar terjadi. Bahkan, dia juga sudah tahu bahwa waktu-waktu sekarang aku akan mencari dia. Karena itu, dia mengatakan bahwa aku akan sulit menemuinya.”
”Mungkin saja dia sengaja menghindar.”
”Lalu, bagaimana dia bisa tahu, beberapa jam setelah siaran itu aku akan berurusan dengan polisi, akan bermasalah ketika hendak masuk ke rumahku sendiri. Bagamaina dia bisa tahu Mad Man kemudian menjadi siaran tunda, tidak live lagi? Terlalu banyak kebetulan, Galih.”
Galih diam, berpikir keras. Dia berusaha untuk tetap santai. Baru kali ini dia melihat Troy berperilaku sepanik ini. Seakan-akan dia hendak kehilangan segala hal yang dia miliki saat itu juga.
”Oke, kalaupun ramalan-ramalannya benar, lalu kenapa?”
Troy menoleh dengan gaya tersentak. Matanya melebar dengan kelopak bergetar. ”Lalu kenapa? Dia meramalkan hidupku tinggal sebulan lagi, Galih. Itu sepekan lalu. Berarti, waktuku tinggal dua atau tiga minggu lagi.”
”No... no...! Kamu tidak sedang bercanda, kan, Troy? Kita bicara soal mati, sesuatu yang tak seorang pun manusia di bumi mengetahui.”
Troy menjambaki rambutnya. Seolah-olah dengan cara itu beban pikirannya akan berkurang. ”Aku sudah gila.”
”Tidak. Kamu hanya kecapekan.”
”Atlantis. Di mana dia?”
”Menurutku, kamu pulang saja, Troy. Rekaman kita undur besok. Aku antar kalau kamu mau.”
Troy tidak menjawab. Pandangannya menerawang kosong. Sebagian besar karakter khasnya tercabut dari sana.
Garut, sepekan kemudian
Troy duduk gelisah. Dia kehilangan sebagian besar kemampuannya bicara. Atmo duduk diam di sampingnya. Mereka berdua baru saja sampai di rumah keluarga Ujang di pinggiran Garut. Hari itu, Troy mengajak Atmo dan Iroh menemui Ujang tanpa alasan pasti.
Sambil menunggu Ujang yang sedang narik angkot, Troy merasakan pergantian detik begitu percuma. Seolah-olah, setiap embusan napas begitu boros dia keluarkan. Dia tidak mau kehilangan sekejap pun. Gila, hidupku tinggal dua pekan lagi. Troy menatap sekeliling. Apa yang disebut sebagai ruang tamu di rumah itu hanyalah jajaran kursi kayu kualitas rendah yang dipasang di teras. Itu jika tanah tak seberapa di luar bangunan utama itu memang layak disebut teras.
Seluruh lantai rumah kecil itu masih berupa tanah. Tidak ada pelester semen, apalagi keramik. Dinding-dindingnya setengah semen, setengah anyaman bambu. Troy merasa sedang berada di alam antah berantah. Sesuatu di luar jangkauan imajinasinya. Semua serba kumuh dan sekadarnya.
Renungan kecil Troy terputus, ketika Iroh keluar rumah bersama seorang wanita tua berumur 60 atau sedikit lebih muda dari itu.
”Ini ibu mertua saya, Mas Troy. Ibunya Kang Ujang.”
Troy tersenyum aneh. Berusaha untuk ramah, namun hasilnya malah aneh. Dia berdiri untuk menyalami perempuan tua itu.
”Punten, Den. Ya, namanya juga gubuk. Teu aya naon-naon. Tidak ada apa-apa.”
”Ah, tidak apa-apa.”
Basa-basi yang kaku. Toh, itu cukup menjadi pembuka obrolan yang baik. Empat orang itu duduk dengan gaya masing-masing.
”Setelah bapaknya Ujang pergi, ya, begini. Semua serba prihatin.”
Tanpa diminta, ibu Ujang membuka obrolan dengan informasi yang menurut ilmu etika yang diketahui Troy, sama sekali tak tepat tempat. Toh, Troy tetap mengangguk-angguk, sekadar merespons semangat wanita tua itu.
”Si Ujang, teh, baru satu tahun, waktu bapaknya pergi ke kota.”
Troy mengerutkan dahi. Oh, pergi? Bukan meninggal?
”Setelah itu tidak ada kabar. Ya, sampai hari ini, anak-anak besar tanpa bapak. Besar seadanya.” Senyum pasrah melintangi bibir wanita tua itu.
”Pernah berusaha mencarinya, Bu?” Tiba-tiba Troy punya satu kalimat untuk menyambung pembicaraan.
”Mencari ke mana, Den? Saya, mah, orang kampung. Tidak tahu apa-apa. Mungkin dia sudah kawin lagi,” jawab wanita itu, sembari terkekeh. Bukan gembira. Itu tawa sedih. Matanya mengatakan begitu. Sedih, tapi tidak menangis.
”Berapa saudara Ujang, Bu?”
”Banyak, Den. Ada delapan. Ujang itu anak bungsu.”
”Delapan. Semua Ibu urus sendiri?”
Wanita tua itu kembali tersenyum, sembari mengangguk, ”Namanya juga ibu, Den. Biar hidup prihatin, saya tidak mau kalau anak-anak pergi dari sini.”
Troy merasa ada yang menghantam dadanya. Tidak seperti ini profil wanita yang dia ketahui. Sekonyong-konyong berputar kembali adegan bertahun-tahun lalu, sewaktu dia meninggalkan Surabaya. Entah kapan terakhir dia menghubungi keluarganya, ibunya. Dia pergi dengan kemarahan, dan tidak pernah pulang setelah itu. Hanya ada satu wanita dalam keluarganya: Mama. Satu-satunya wanita yang kemudian juga hilang, ketika perceraian orang tuanya terjadi. Itu alasan, mengapa di benak Troy, tidak ada wanita berharga di dunia.
”Aku mau minta maaf, Jang.”
Formasi mereka yang duduk di ruang tamu rumah keluarga Ujang kini berubah. Hanya Troy dan Ujang. Atmo meminta izin untuk berkeliling, melihat-lihat kampung halaman Ujang. Iroh mengurus makan siang anak-anak bersama ibu mertuanya. Tentu saja tujuan utama mereka adalah memberi waktu kepada Troy untuk berbincang dengan Ujang.
Ujang terenyak mendengar kalimat Troy. Dia menatap tak percaya, ”Maaf untuk apa, Mas?”
Troy berdehem. Oke, tak apalah aku merendahkan diri. Toh, hidupku tak akan lama lagi. ”Ya, selama ini, aku banyak nyusahin kamu. Marah-marahin kamu.”
”Mas Troy, kok, bicara begitu. Saya tidak apa-apa, Mas. Benar-benar tidak apa-apa. Namanya juga kerja. Ditegur bos, mah, biasa.”
”Kamu maafin aku?”
Ujang bengong. Dia seperti balita yang sulit mencerna makanan liat. Kata-kata Troy, ia rasa seperti itu. Liat, tidak mudah dicerna.
Diam. Ujang tidak berani membuka percakapan, sementara Troy benar-benar kehabisan tema. “Eh..., Jang, kamu... kamu nggak pernah nyari bapakmu?”
“Buat apa, Mas? Dia juga nggak ingin tahu tentang kami, kok.”
Troy memasang ekspresi serius. ”Kamu benci dia?”
Ujang berekspresi lugu. ”Benci? Tidak juga, sih. Biasa saja.”
”Ibu kamu membesarkan kalian berdelapan, sementara bapak kamu entah ke mana, apa itu tidak menyakitkan?”
”Emak, mah, perempuan desa, Mas. Hidup dijalani saja, tidak banyak mengeluh.”
”Ibu kamu nggak benci, dendam, atau apa gitu pada bapakmu?”
Ujang menggeleng. ”Emak itu tidak pernah benci orang, Mas.”
Troy menatap Ujang dengan tatapan misterius. Seperti kamu, ya, Jang. Kamu juga tidak membenci aku, meski setiap hari aku maki-maki.
Hening lagi.
”Jang, kamu mau balik ke Bandung? Bawa, deh, anak-anak kamu, ibu kamu. Semua orang yang kamu mau. Ajak tinggal di rumahku.“
Ujang melongo. Menatap Troy dengan ketidakmengertian pekat. Sementara itu, Troy tidak mengubah ekspresi seriusnya.
cerita selanjutnya >>
Penulis: Taufiq Saptoto Rohadi
Pemenang Penghargaan Sayembara Mengarang Cerber femina 2006


