Fiction
Mad Man Show [6]

16 May 2012


Troy lebih mengkhawatirkan reaksi pers. Dia sudah membayangkan judul-judul di halaman depan tabloid gosip. Dia juga tak bisa menyetop pikiran buruknya, membayangkan ekspresi pembawa acara infotainment yang memberitakan kejadian ini. “Troy, si mulut pedas, musuh semua wanita di Indonesia, berusaha menyuap polisi setelah melakukan pelanggaran lalu lintas. Ini bisa menjadi kiamat kecil.


Troy buru-buru merogoh kantong jasnya, mengambil ponsel. Setelah menemukan satu nama di display ponsel, dia segera menempelkan alat komunikasi itu ke telinganya.

“Galih… Galih… Galih… angkat! Jelas terdengar nada geram pada kalimat Troy. Nada sambung pribadi di seberang telepon memutar lagu SMS-nya Trio Macan. Dalam kondisi biasa saja, lagu itu sanggup mengaduk perut Troy. Sekarang, ’kekuatan aduk’ lagu itu sampai ke ambang batas. Berkali-kali dia meminta Galih mengganti lagu nada sambungnya. Namun, setiap kali mata Troy melotot, Galih hanya tersenyum tak serius.

Sekarang, Troy merasakan betul rasa kesalnya berlipat ganda. Sudah tidak jelas arahnya. Terhadap Galih atau terhadap lagu jip-lakan India itu. Sesekali dia melirik polisi berhelm di luar mobil. Petugas itu masih saja berdiri dengan ekspresi mengancam. Jemari kiri Troy mengetuk-ngetuk setir. Terlihat betul dia gelisah bukan main. Adegan itu terus berlangsung, sementara hujan di luar tidak menunjukkan tanda-tanda hendak berhenti.

“Buka gerbangnya, Iroh!

Troy berteriak-teriak menjiplak orang kesurupan. Dia masih duduk di jok depan, di samping Galih yang mengemudikan mobilnya. Mobil Troy tertahan di kantor polisi, karena segala macam surat-suratnya belum juga ketemu. Galih yang terus-menerus ditelepon Troy, rupanya sudah sampai di rumahnya, ketika kolega yang juga kawan karibnya itu digelandang ke kantor polisi.

Menjelang magrib, Galih sampai di Mapolresta Bandung Selatan setelah sebelumnya mampir lebih dahulu ke studio Extreme TV untuk mencari dompet kulit berisi SIM, STNK, dan beberapa surat penting milik Troy. Hasilnya nihil. 

Seharusnya, selain mobil merah itu, Troy pun menginap di sel Mapolresta, jika Galih tidak memberikan kesaksian bahwa mobil mengilap itu memang benar-benar milik Troy. Sekarang, sementara benaknya sudah membayangkan kondisi relaks saat menenggelamkan badannya ke bathtub air hangat, Troy justru tertahan di luar gerbang rumahnya. 

Berkali-kali dia menjorokkan badannya, menggapai tombol klakson di kemudi yang dipegang Galih, dan menekannya dengan heboh. Tetap saja tidak ada hasil. Gusar, Troy melepas sabuk pengaman, membuka pintu mobil, lalu memburu bel di balik pintu gerbang yang menjulang melewati kepalanya. 

Troy merogohkan tangannya hingga menyentuh tombol bel, lalu menekannya setengah histeris. Dia sudah demikian kesal. Namun, seheboh apa pun dia memencet bel, tetap saja tidak ada reaksi dari dalam rumah. 

“Nggak ada orang, mungkin, Troy.

“Aku bisa gila hari ini.

Troy tidak menanggapi kalimat Galih. Dia justru makin heboh memenceti bel yang menempel di dinding di balik pagar gerbang. 

“Kosong mungkin, Troy. Kamu ke rumahku saja dulu.

“Aku tidak menggaji mereka untuk berbuat seenaknya seperti ini!

Galih memilih diam di belakang kemudi. Troy masih berteriak-teriak, sembari berkali-kali memenceti bel. Hari telah gelap betul. Lewat pukul 21.00. Entah bagaimana, Troy serta-merta menghentikan gerakannya. Dia teringat Atlantis. Teringat wajah dan kata-katanya. “Tidak usah terlalu emosi juga, kalau nanti kamu kesulitan masuk ke rumahmu sendiri. 

Troy terpaku di tempatnya berdiri. Satu ramalan lagi.

Tiba-tiba Troy histeris, menggebrak-gebrak pintu gerbang, sambil terus berteriak-teriak kasar. Iroh, Atmo, sudah gila kalian!

Beberapa orang, tetangga kanan dan kiri rumah Troy, keluar ke jalan. Mereka penasaran oleh suara heboh di depan gerbang rumah Troy. Galih yang melihat gelagat tidak mengenakkan, segera keluar mobil. Dia menghampiri Troy, memegang bahunya perlahan. Sesekali dia menoleh ke kanan dan kiri. Troy, nggak enak dengan tetangga-tetangga kamu. Sudah, ke rumahku saja dulu. Besok pagi kamu balik ke sini. Besok nggak ada rekaman, ’kan? Kamu santai-santai saja.

Mereka tidak bisa berbuat seenaknya begini.

Aku tahu. Aku juga tidak peduli, kalau kamu besok pagi memecat mereka. Tapi, sekarang kamu harus tenang. Kamu kecapekan dan butuh istirahat. Okay?

Mereka sudah aku pecat.

Oke. Sudah? Sekarang kamu ikut aku ke rumah.

Masih dengan badan menggigil oleh kemarahan, Troy menurut saja ketika Galih membimbingnya ke mobil. Beberapa saat kemudian, mobil metalik milik Galih bergerak meninggalkan halaman rumah Troy.

Di rumah Galih, satu jam kemudian
Kamu sudah aku pecat. Besok pagi, waktu aku sampai rumah, aku tidak mau melihat kamu dan rambut putihmu itu ada di rumahku.

Troy duduk di sofa ruang keluarga bersama Galih. Dia masih mengenakan piama setelah berendam di bathtub berair hangat. Wajahnya terlihat lebih segar dibanding beberapa saat sebelumnya. Namun, itu bukan alasan baginya untuk berkata-kata menyejukkan. Dia menempelkan ponselnya sedekat mungkin dengan telinga. Atmo di seberang telepon.“Tadi saya berkali-kali menghubungi Mas Toy, tapi mailbox terus.

“Aku tidak butuh alasan.

Galih yang duduk selonjor di sofa panjang, sembari membaca majalah, melirik ke arah Troy tanpa berkomentar apa pun. Sebelum-nya dia memencet tombol mute pada remote control. Gambar televisi layar datar besar di hadapannya pun bergerak tanpa suara.

“Mas, bapaknya Iroh meninggal. Dia tadi mau minta izin ke Mas Troy pulang ke Serang, tapi tidak bisa nyambung. Saya mengantar dia ke terminal. Kasihan, Mas. Dia ndak hafal jalan.

Troy diam sejenak. Kata ’meninggal’ seperti kampak yang memenggal emosinya. “Pak Atmo serius?

“Ya, ampun, Mas. Masak Iroh berbohong?

Troy mengembuskan napas berat. Emosinya meluruh. Pelan, pasti. “Ya, sudah. Pak Atmo jaga rumah dulu. Saya pulang besok pagi.

“Ya, Mas.

Diam sejenak.

“Pak Atmo.

“Ya, Mas?

“Tadi HP saya matiin. Saya ada sedikit masalah. Makanya, HP saya matiin.

“Saya paham, Mas.

“Oke. Sampai ketemu.

Troy belum menutup teleponnya. Seperti masih ada kata yang menggantung di benaknya. Mungkin kata maaf atau apa saja yang mewakili sebuah perasaan penyesalan. Namun, tidak satu kalimat pun keluar dari bibirnya. Bahkan, sampai Atmo menutup telepon rumah, dia masih tak melakukan apa pun.

Galih menoleh dengan ekspresi heran. “Kenapa?

“Aku sudah mulai gila, kali, ya?

“Maksudmu?

Troy meletakkan ponselnya di atas meja. Jemari tangan kanannya meremas rambut setengah basahnya. “Aku mulai berpikir, ramal-an-ramalan Atlantis bukan bualan.

“Troy?

“Ya…ya…ya. Aku tahu ini tidak masuk akal. Tapi, bagaimana mungkin dia tahu aku akan berurusan dengan polisi, lalu aku akan kesulitan masuk ke rumahku sendiri?

“Dia ngomong begitu?

“Di areal parkir. Tadi siang.

Galih bergerak sigap meraih ponselnya yang juga tergeletak di atas meja. “Aku telepon dia sekarang.

“Hei…hei… tidak perlu. Itu akan membuat dia makin besar kepala. Aku lebih percaya akalku mulai terganggu daripada benar-benar percaya pada ramalannya.

Galih mengempaskan punggungnya ke sofa. “Sudah aku bilang, kamu jangan main-main dengan improvisasi dia, Troy.

“Hei. Jangan dianggap serius. Aku baik-baik saja.

Galih tampak tidak puas dengan jawaban Troy. Sementara, di luar sepengetahuan Galih, Troy jauh lebih tidak puas. Dia mulai gelisah. Obrolan terakhir dengan Atlantis sekonyong-konyong muncul di benaknya.

“Kamu mau bilang bahwa ramalanmu tentang kematianku sebulan lagi adalah sungguh-sungguh?

“Riwayatmu akan berakhir bulan depan. Itu persisnya yang aku katakan. 

Troy merasakan darahnya berdesir aneh.


                                                    cerita selanjutnya >>


Penulis: Taufiq Saptoto Rohadi 
Pemenang Penghargaan Sayembara Mengarang Cerber femina 2006




 


polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?