Fiction
Cinta Seorang Copellia [8]

15 May 2012


Putri tersenyum, lalu melanjutkan, “Kau tahu, aku pernah jadi pembantu, pengasuh anak, penjaga tempat biliar, tukang cuci piring di restoran. Pokoknya, jadi apa saja yang ada uangnya. Aku tak ingat, apa lagi yang pernah kukerjakan. Karena, waktuku ketika itu kuhabiskan untuk bekerja dan kuliah. Tak ada waktu untuk bersenang, tak ada waktu untuk bermain. Bahkan, aku tak ingat apakah aku pernah tertawa lagi saat itu. Aku nyaris tak punya kawan. Ini bukan sesuatu yang membanggakan untuk diceritakan. Bayangkan, berapa banyak orang yang mau anaknya diasuh orang asing, juga kesalahan-kesalahan yang kau buat akibat perbedaan budaya dan kesenjangan teknologi, belum lagi kemarahan dan makian yang harus kutanggung sendiri. Tak bisa dibagi karena kamu tak punya siapa-siapa.


“Di sini orang tuaku tak pernah tahu apa yang kulakukan di sana. Mereka hanya berpikir bahwa aku belajar dan sedikit-sedikit bekerja untuk menambah uang saku. Aku tinggal di apartemen kecil yang jorok, nyaris kosong. Hanya ada koper, buku-buku, tempat tidur, dan kompor untuk memasak. Untungnya, aku tak perlu berlama-lama di tempat sumpek itu, karena hampir seluruh waktuku kuhabiskan di luar.”

Putri menerawang makin jauh ke masa lalunya. Dia seperti bisa melihat seorang gadis dengan rambut dikucir kuda, celana jeans lusuh, T-shirt, dan kemeja kotak-kotak yang warnanya sudah pudar, berlari mengejar bus atau berdesakan di kereta bawah tanah.

Hari hanya diam, memandang ke layar televisi yang sudah dimatikan.

“Kota itu seperti tertawa dan menungguku untuk jatuh. Yah, aku hanya sebagian kecil dari mereka yang terseok-seok berjalan ke arah impian mereka di kota itu. Yang membuatku tetap bertahan hanyalah rasa malu akan dihina orang jika aku pulang tanpa hasil. Sampai suatu hari aku sakit. Aku berusaha bertahan terus untuk kuliah sambil bekerja.

Malam itu, sepulang kerja, aku yang sedang sangat pusing, berjalan tanpa sadar. Semestinya sampai di rumah dalam beberapa menit, tapi malah berputar-putar dan tersesat. Kulihat, jalan-jalan gelap dan kotor, juga beberapa pelacur yang melenggang, mungkin menuju tempat mereka biasa mangkal. Beberapa orang bergerombol, seperti sedang bertransaksi ganja. Tempat itu menyeramkan, bahkan di siang hari aku tak pernah bermimpi berada di sana. Aku tidak ingat bagaimana ceritanya, tapi kemudian aku berlari, berlari dari kejaran beberapa lelaki yang tak kukenal. Aku pun tidak tahu mengapa mereka mengejarku. Sekeliling tampak gelap dan aku hanya tahu bahwa aku harus berlari sekuat tenaga, karena di belakangku tangan-tangan kematian tengah mengejar. Tenagaku mulai berkurang, sampai akhirnya semua menjadi benar-benar gelap dan aku terjatuh.”

Putri merasa tubuhnya menggigil, tenggorokannya gatal, dan matanya pedas. “Sungguh sebuah pengalaman yang sampai sekarang pun masih menjadi mimpi buruk.”

Hari menunduk, menatap lantai kosong.

Putri tersenyum pahit. “Mungkin, harus seperti itu dululah ceritanya, baru hidupku bisa berubah. Karena, hari itu aku menyadari benar bahwa di balik awan mendung selalu ada sinar. Saat itu aku pertama kali berjumpa dengan Sarah. Dia yang menemukan aku pingsan di jalan dan menolongku. Badanku sakit, hatiku sakit, dan kupikir semuanya sudah hancur. Orang-orang itu telah mengambil hal yang paling berharga dalam hidupku. Namun, berkat Sarah, aku dapat menyusuri jalan yang lebih baik dan sedikit demi sedikit mulai melupakan kejadian mengerikan itu. Aku tidak mengerti, mengapa dia mau menolong dan peduli padaku. Yang kumengerti, Sarah adalah bidadari cantik yang berhati emas.”

Putri mengambil napas lagi. Dia sudah bicara terlalu panjang dan terbuka, dan sekarang ia merasa lelah. “Jadi, kumohon, kamu mengerti. Aku orang yang terjatuh, tidak suci, yang tidak bisa kau pilih sebagai istri. Aku sungguh-sungguh minta maaf.”

Lama mereka terdiam dalam pikiran masing-masing.

Lalu, Hari berkata mantap. “Baik, aku mengerti. Tapi, jika aku tidak peduli pada masa lalumu, apakah kamu mau mempertimbangkannya?”

Putri memandang Hari dengan heran, lalu menjawab, “Maaf, jawabannya tetap sama. Cobalah pahami, hidupku ada di sana dan tak bisa kulepas semua yang telah diraih dengan banyak pengorbanan.”

“Itu berarti, alasan sesungguhnya adalah kamu tak cukup mencintaiku atau tak pernah mencintaiku. Dulu aku juga tak mengerti tentang ini, tapi aku sekarang sangat paham, hanya sesuatu atau seseorang yang kita cintailah yang bisa membuat kita mengambil keputusan.”

“Itu benar sekali,” balas Putri, “dan, kamu harus tahu alasan lainnya, yaitu aku juga menyukai Sarah dan ingin tetap berada di sisinya.”

Hari menoleh terkejut.

“Kau tahu cerita Copellia? Apa kau sudah membacanya? Copellia sebuah boneka yang dibuat oleh Copellius, yang selalu duduk di depan jendela lantai atas, membuat Frans yang sudah bertunangan dengan Swanilda, jatuh cinta kepadanya. Kukira, aku lebih suka tokoh Pinokio atau Barbie, yang dicintai banyak orang. Tapi, Copellia sangat malang. Dia merebut cinta orang, meski dia cuma boneka yang tak mengerti apa-apa. Kadang-kadang, aku berpikir, seandainya Copellia diberi kehidupan, apa dia juga akan jatuh cinta pada Frans yang tampan. Mungkin tidak, mungkin dia lebih memilih Swanilda yang baik dan berani. Swanilda, meski kesal karena cintanya direbut orang, tetap berusaha berteman dengan Copellia, sebelum dia sadar bahwa Copellia hanya boneka.

Atau, Copellia lebih memilih Copellius, karena dia berutang kehidupan darinya. Sarah sudah membuka jalan kedua untukku. Membawa kegembiraan yang telah lama hilang. Membagi semuanya denganku. Dia seperti pahlawan dan aku memujanya. Aku tak bisa memandang yang lain karena mataku hanya terarah padanya.”
“Apa dia tahu perasaanmu? Apa kau mengatakannya?” Hari bertanya dengan heran.

“Tidak, tak pernah sekali pun. Buat apa? Karena, aku tahu, jika kukatakan, aku akan kehilangan dirinya,” Putri tersenyum getir. “Jadi, kau tahu sekarang bahwa hidupku sangat kompleks.”

“Kalau begitu, kau tidak betul-betul mencintainya karena cinta membutuhkan pengakuan. Itu juga membuktikan kau tidak menyukai sesama jenis. Perasaanmu terhadapnya lebih seperti sister complex. Perasaan sangat memuja seorang adik kepada kakak yang menjadi pahlawan baginya,” kata Hari, dengan tegas.

Putri menoleh karena terkejut dengan analisis Hari. Matanya terbeliak lebar ketika Hari mendekatinya. “Kamu mau apa?”

“Akan kubuktikan perkiraanku,” jawab Hari.

Dan, ketika tangan Hari meraih tangannya, jantung Putri berdetak keras. Ketika pria itu memeluk dan mencium bibirnya, Putri merasa sesak. Ada yang menusuk-nusuk hatinya.

“Maaf,” bisik Hari.

Air mata mengalir di pipi Putri. Dia tak pernah dicium dan ciuman Hari seperti membawanya ke sebuah dunia lain.
“Maaf, maafkan aku. Tolong, jangan menangis.” Hari menggenggam tangan Putri erat-erat. “Aku hanya ingin memastikan, apa yang akan kulakukan nanti tidak akan sia-sia.”

Putri mendongak dengan mata yang berlinangan. “Apa? Apa yang akan kaulakukan nanti?”

Lalu, Hari berkata sungguh-sungguh, “Aku akan mengejarmu. Ke mana pun kau pergi, aku akan berlari mengejarmu. Selama ini aku selalu berusaha keras mendapatkan apa yang kuimpikan dan sekarang impianku adalah bersamamu. Aku tidak peduli pada masa lalu atau kesucian. Jadi, izinkan aku mengejarmu. Beri aku kesempatan sampai kau mengatakan ya atau sampai aku merasa lelah dan tak mampu lagi berlari.” Tangan itu terlepas, Hari menghapus air mata Putri.

“Kak, kenapa bagasiku jadi begitu banyak?” keluh Putri. “Untung Mama mau membayari kelebihannya. Jika tidak, aku terpaksa pulang dengan membawa banyak utang.”

“Jangan tanya aku. Tanya Mama, apa saja yang dikemaskannya untukmu. Bahkan, kau dapat sambal pecel jatah setahun,” kata kakaknya, tertawa.

“Apa?” Putri kaget. “Buat apa bumbu pecel sebanyak itu? Aku kan tak sempat memasak. Di sana aku tidak sarapan pecel pincuk.”

“Bukan hanya itu, kamu juga dapat terasi dan petis jatah berbulan-bulan.” 

Kakaknya tertawa makin seru, sampai Mama berkata, ”Berhenti mengganggu adikmu.”

Pengumuman memberitahukan bahwa pesawat Putri akan segera berangkat. Putri memeluk Mama dan mencium pipinya.

“Kabari Mama begitu kamu sampai di sana. Jaga kesehatan, jangan kerja terlalu berat,” Mama memeluk Putri lama, seolah enggan melepaskannya.

“Baik, Mama. Mama juga jaga kesehatan.”

Putri berpamitan pada kakak-kakaknya, juga Papa, yang memeluknya sambil berpesan agar sering-sering menelepon ke rumah.

Putri melangkah mendekati Hari, yang sedari tadi mengobrol dengan Papa. Dia mengulurkan tangan dan menjabat tangan Hari yang hangat. 

“Tunggulah aku,” kata Hari, pelan.

Putri tersenyum dan mengangguk, lalu berbisik, “Ya, aku akan menunggumu. Jadi, datanglah.” Meski tidak tahu apa yang akan terjadi di masa depan, Putri merasa pasti hidupnya akan lebih indah. TAMAT

Penulis : Lisa Andriyana
Pemenang Harapan Sayembara Mengarang Cerber femina 2005



 


polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?