True Story
Tong Phuoc Phuc ‘Malaikat’ bagi Bayi yang Tak Diinginkan
11 Aug 2016

Foto: Dok. Zing.Vn
Dirikan Panti Asuhan
Perbuatan baik Tong tersebar di seluruh penjuru Kota Nha Trang. Para wanita yang merasa telah melakukan aborsi pun kerap berkunjung di pemakaman yang dibuatnya. Mereka datang untuk memanjatkan doa.
Tak sedikit pula para wanita hamil datang kepadanya untuk berkonsultasi tentang kehamilan. Sebagian dari mereka dipaksa oleh orang tua atau mertua mereka untuk melakukan aborsi. Pada tahun 2004, Tong mulai menampung sejumlah wanita yang tidak mau melakukan aborsi di rumahnya. Tujuannya, agar dapat melahirkan anak mereka tanpa diganggu oleh keluarga.
Selain itu, sejumlah ibu datang kepadanya. Mereka meminta bantuan dan menitipkan bayi yang baru mereka lahirkan, sebab mereka tidak memiliki biaya untuk merawatnya. Tidak jarang pula ia datang menemui sejumlah wanita yang mengantre untuk melakukan aborsi di rumah sakit atau klinik.
“Saya membujuk mereka agar tidak melakukan aborsi. Beberapa dari mereka mendengar, dan saya ajak untuk tinggal di rumah saya,” ujarnya.
Sejak saat itu, Tong tidak hanya sebagai penggali kubur, tetapi ia menjadi seorang pahlawan bagi puluhan anak-anak yang ia adopsi. “Dengan segala kemampuan, saya ingin menyelamatkan nyawa mereka. Saya tidak ingin mengubur bayi-bayi tak bernyawa lebih banyak lagi,” katanya, tegas.
Tong mendirikan tempat penampungan khusus yang ia sebut Tong Phuoc Phuc Orphanage. Di panti asuhan ini, Tong membuka pintu kepada siapa pun wanita yang ingin menitipkan anaknya, atau tidak ingin melakukan aborsi.
Sebelum mengadopsi bayi, Tong mengajukan syarat kepada orang tua bayi. Yaitu, bila keuangan dan kondisi ekonomi orang tua bayi sudah lebih baik, maka mereka harus kembali mengambil sang buah hati dari asuhan Tong.
Uniknya, agar lebih mudah mengingat identitas tiap anak, nama pertama untuk tiap bayi lak-laki adalah Vinh yang berarti kehormatan, sedangkan untuk anak perempuan adalah Tam yang berarti hati. Disusul oleh nama ibu kandung tiap anak.
Hingga kini, Tong mengasuh sekitar 50 orang anak. Sebelumnya pernah mencapai 100 orang, tapi sebagian di antaranya sudah diambil kembali oleh orang tua mereka. "Tiap kali menguburkan bayi, terbayang oleh saya begitu indahnya bila mereka diberi kesempatan untuk lahir dan hidup di dunia ini. Mereka pasti bahagia, bermain dan pergi ke sekolah,” ungkapnya.
Merawat dan membesarkan puluhan anak tentu saja bukan hal mudah. Butuh biaya yang besar untuk menghidupi mereka. Dalam sebulan saja, ia membutuhkan uang sebesar 100 juta dong Vietnam (sekitar Rp50 juta) untuk membiayai wanita hamil dan anak-anak telantar.
Namun, Tong tidak menyerah. Ia cukup terbantu dengan banyaknya donasi sejumlah orang dari berbagai negara, seperti Amerika Serikat. Tak selalu mengharapkan donasi, ia juga melakukan usaha lain untuk mendapatkan uang. Ia beternak babi dan ayam untuk menambah penghasilan dari pekerjaan sebagai buruh konstruksi.
Ia pun mendapat bantuan tenaga dari para wanita yang baru melahirkan dan juga wanita yang sedang hamil. Merekalah yang membantu Tong untuk mencuci, memasak, dan juga menjaga anak-anak atau bayi-bayi yang diadopsinya. Sebelumnya, ia pernah menampung sebanyak 35 wanita yang memilih untuk merawat anaknya di panti asuhan milik Tong.
Sejumlah relawan datang silih berganti untuk mengajari anak-anak usia TK, sedangkan yang lebih tua telah mendapatkan pendidikan yang layak di sekolah formal. Tidak hanya saat menjadi penggali kubur, saat mulai menampung wanita hamil dan anak-anak telantar pun ia mendapat cemooh dari masyarakat. Namun, karena niatnya baik, semangatnya tidak pernah surut. “Saya melihat cinta dan rasa syukur di mata anak-anak itu,” kata Tong, senang.
Pujian yang disampaikan oleh Presiden Vietnam (2006-2011), Nguyen Minh Triet, cukup membuat hati Tong senang. Nguyen mengatakan bahwa Tong adalah pria sejati. Di tengah ekonomi yang begitu sulit pun, Tong tetap menampung anak-anak dan juga tetap melakukan penguburan pada bayi hasil aborsi.
“Saya senang pada kegigihan yang dilakukan oleh Tong. Walau hanya sebagai buruh konstruksi, Tong melakukan kepedulian dengan pengorbanan yang besar,” puji Nguyen.
Walau Tong mengasuh puluhan anak, ia tidak membeda-bedakan kasih sayang dan cinta kepada mereka. Semua ia perlakukan seperti anaknya sendiri. Jalan-jalan ke pusat permainan anak, taman, dan ke gereja untuk beribadah adalah hal-hal yang ia lakukan bersama anak-anak asuhnya.
Pengorbanan yang dilakukan oleh Tong mendapat pengakuan dari jutaan orang dari penjuru dunia. Ia bahkan disamakan dengan Bunda Teresa, seorang biarawati Katolik Roma, pendiri Missionaries of Charity di Kalkuta, India. Semasa hidupnya, Bunda Teresa memang dikenal sebagai ‘malaikat’. Ia membantu orang-orang miskin, sakit, dan yatim piatu.
Tong telah bertekad, akan terus melakukan pekerjaan ini sampai napas terakhirnya. "Saya akan mendorong anak-anak saya untuk melanjutkan perbuatan yang sudah saya mulai untuk membantu orang kurang mampu,” katanya. Sungguh mulia hati dan perbuatan Tong! (f)
Topic
#pekerjasosial
event
recommended


