
Foto: Freepik
"Butuh support dari keluarga dan lingkungan"
Hesti Dwi Aristiyani, Pegawai Negeri Sipil, Keluarga Penyitas Covid-19
Rasa sedih langsung menusuk ketika mendengar kabar kakak saya Indri, kakak ipar dan Ibu dinyatakan positif Covid-19. Terlebih lagi, kami masih dalam keadaan berduka setelah ditinggal Bapak. Sempat bertanya kepada Tuhan, “kenapa cobaan ini datang bertubi-tubi?“
Kekhawatiran pertama saya adalah pada Ibu. Walau ia tidak menunjukkan gejala, tapi saya tidak tahu apa nanti yang akan terjadi di Wisma Atlet. Yang kedua, adalah anak-anak kakak bagaimana? Mau tak mau, anak-anak Indri akan saya rawat. Tapi, karena saya belum berkeluarga, saya tidak memiliki pengalaman dan kurang paham merawat anak-anak dalam jangka waktu yang cukup lama.
Sambil menunggu hasil test PCR anak-anak, kami bertiga melakukan isolasi mandiri di rumah. Walau keponakan dalam status orang tanpa gejala (OTG), saya beranggapan bahwa kami bertiga negatif Covid-19.
Setelah hasilnya keluar, dan si bungsu dinyatakan positif. Saya dan Indri langsung mengedukasi mereka. Dimulai dari tidur harus terpisah. Sebelumnya kami bertiga tidur satu kamar. Yang sedikit membuat sedih adalah si adik yang tidak mau dipisah dari kakaknya. Akhirnya, jalan keluarnya adalah tidur satu kamar tapi tidak boleh satu tempat tidur. Saat bermain harus menggunakan masker. Tidak boleh tukar menukar makanan beserta peralatannya. Pertanyaan dari keponakan akhirnya muncul “kenapa harus begitu?”.
Indri dan saya memang sepakat untuk tidak memberi tahu anak-anak, siapa diantara mereka yang positif Covid-19. Saya hanya mengatakan bahwa salah satu dari mereka ada yang terinfeksi, sehingga aturan ini harus dilakukan untuk menjaga kesehatan kita semua. Yang namanya anak kecil memang agak susah diberi tahu. Terkadang saya masih melihat mereka tidak pakai masker saat bermain. Saat itu, saya memang harus lebih sering dan sabar mengingatkan mereka.
Selama isaolasi mandiri, saya hanya keluar rumah untuk keperluan tertentu seperti berbelanja. Sangat disayangkan, saat itu lingkungan sekitar rumah kurang supportive pada keadaan kami. Bahkan saya cenderung merasa dikucilkan. Sama sekali tidak ada yang membatu untuk memberi makanan atau yang lainnya. Tapi, bersyukur ada adik saya yang paling kecil, tante, dan keluarga lainnya dari pihak Ibu dan Bapak yang suka mengirimkan makanan.
Memang sedikit stres. Tapi saya tetap berusaha terlihat senang di depan kedua keponakan agar mereka tidak khawatir. Berusaha memotovasi diri dan tetap berpikiran positif, Tuhan pasti pasti akan memberikan jalan keluar dari semua masalah-masalah ini.
Saat Indri dan Ibu selesai melakukan isolasi di Wisma Atlet, keponakan-keponakan juga dinyatakan negatif Covid-19. Senang sekali rasanya bisa melihat Ibu kembali dengan sehat, dan kakak dapat berkumpul kembali bersama keluarganya. Setelah melewati semua kepayahan itu, kini saya menjadi lebih peduli dan men-support jika ada teman atau rekan kerja yang terkena Covid-19.
Selama vaksin belum ditemukan, kebiasaan #3M (memakai masker, mencuci tangan dengan sabun, menjaga jarak dan menghindari kerumunan) adalah obat yang paling ampuh saat ini. Terutama buat kita yang berpergian keluar rumah. Sebab, ada keluarga di rumah yang juga menanggung risikonya. (f)

Baca Juga:
Prof Wiku: Masyarakat Perlu Informasi yang Tepat Tentang Vaksin COVID-19
Hari Cuci Tangan Sedunia Moment Pengingat Perilaku Sehat
5 Langkah Hindari Penularan dalam Klaster Keluarga Saran dr. Reisa Brotoasmoro
Topic
#3M, #ingatpesanibu, #satgascovid, #corona, #covid19


