
Jakarta Smart City akan mengembangkan lebih banyak aplikasi. Setiaji, Kepala Unit Pengelola Jakarta Smart City, menyebutkan warga Jakarta sudah bisa memanfaatkan aplikasi Safetipin yang terintegrasi dengan aplikasi Jakarta Smart City. “Kami bekerja sama dengan UN Women untuk mewujudkan Jakarta Safer City,” kata Setiaji.
Safetipin adalah aplikasi untuk memantau perjalanan warga Jakarta, khususnya wanita. “Misalnya, A merasa tidak aman saat melewati jalan tertentu, ia bisa meminta pemantauan dari keluarganya ataupun dari petugas. Jika terjadi sesuatu, seperti pelecehan, ia bisa memberi laporan lewat aplikasi ini. Di dalamnya juga terdapat edukasi agar aman di angkutan umum dan sosialisasinya akan dibantu oleh UN Women,” tutur Setiaji.
Dengan data laporan keamanan yang masuk ke aplikasi ini, nantinya pengguna safetipin akan mendapatkan informasi keamanan satu tempat dan wilayah yang baru akan ia datangi untuk pertama kalinya. Aplikasi ini sudah dipakai di New Delhi, Nairobi, dan Bogota. Menurut Setiaji MOU aplikasi ini melibatkan tiga pihak, yaitu Pemprov DKI, UN Women, dan Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak.
Informasi yang menghibur tentunya juga tak lepas dari perhatian Pemprov DKI. Nantinya Jakarta Smart City akan mengembangkan aplikasi kuliner yang di dalamnya akan terkoneksi dengan berbagai pilihan tempat makan, dari smart PKL hingga daftar restoran yang sudah mendapat sertifikat BPOM.
Sayangnya sosiolog Ricardi S. Adnan merasa pesimistis penggunaan aplikasi-aplikasi itu bisa menggapai 50 persen dari warga Jakarta. “Pemakai aplikasi adalah mereka yang memakai gadget yang mumpuni, sedangkan warga Jakarta belum banyak yang memilikinya,” katanya.
Lebih lanjut Ricardi mengingatkan bahwa masyarakat yang saat ini banyak terlihat ada di Jakarta adalah mereka yang tinggal di Tangerang, Bogor, dan daerah pinggiran Jakarta lainnya. “Mereka inilah masyarakat yang strata sosialnya berada di kelas menengah,” ujar Ricardi, yang memberikan contoh pengeroyokan pengemudi Go-Jek sebagai bukti bahwa masih banyak warga Jakarta yang tidak mampu membeli gadget canggih.
Ricardi menilai, sistem justru lebih efektif mengubah perilaku masyarakat menjadi lebih tertib. “Menumbuhkan budaya disiplin tidak cukup hanya dengan imbauan, tapi dengan sistem. Contohnya budaya antre. Masyarakat mulai terbiasa antre sejak munculnya swalayan yang mengharuskan mereka antre di kasir. Orang juga sudah antre membeli tiket kereta api karena ada perubahan sistem. Dulu, cara apa pun gagal untuk menghilangkan penumpang yang naik ke atap kereta, tapi fenomena ini hilang setelah sistem baru dalam kereta api diberlakukan,” jelasnya. (f)
Cesy Yulia
Topic
#HUTJakarta




