
Foto: Mojok.co
Membaca tulisan-tulisan Agus Mulyadi (25) di mojok.co, situs web ‘suka-suka’ yang mewadahi para penulis dengan energi kreatif berlebih, seperti ngobrol dengan teman lama. Ia ngalor-ngidul membahas apa saja. Mulai dari perkara pelik seperti masa jomblo yang tak kunjung usai, eksekusi terpidana mati Bali Nine, hingga pembunuhan gadis cilik.
“Dulu saya pernah nulis pakai quote atau kutipan dari kata-kata bijak dari tokoh terkenal biar kayak orang pinter. Tapi, malah ndak ada yang baca. Ya… mungkin saya emang bodo,” ujar Agus, sambil terkekeh.
Berbicara dengan pria yang tumbuh besar di Magelang, Jawa Tengah, ini terasa seperti sedang membaca tulisannya. Tidak menggurui, sarat guyon, kental dengan logat dan istilah-istilah Jawa, tetap seperti teman lama.
Gaya bertuturnya yang dianggap bodo dan lugu ternyata jadi daya tarik bagi netizen. Artikelnya dibaca dan di-share oleh ribuan visitor. Seperti artikel Pembunuh Angeline adalah Kita. Artikel yang dibaca 35.900 kali dan di-share 1.700 kali itu mencuat saat kasus pembunuhan gadis cilik Engeline Margret Megawe di Bali ramai diwartakan. Terlepas dari kesalahan penulisan nama korban pada judul, Agus berhasil mengajak pembacanya merenung. Benarkah kita selama ini bersikap terlalu biasa pada tindak kekerasan terhadap anak?
Redaktur mojok.co, yang setelah lulus SMA pernah menjadi penjaga warnet, itu mengaku tidak menyangka tulisannya akan dibaca banyak orang. “Tulisan saya biasa saja. Idenya pun kebanyakan dari obrolan sama temen-temen sambil main karambol,” tutur Agus. Namun, ia menambahkan, mungkin gaya penulisan satir dan jenakalah yang menarik perhatian pembaca.
Begitu juga dengan artikel Seandainya Saya Rangga. Dalam waktu kurang dari sebulan, artikel yang memorak-porandakan citra Rangga (Nicholas Saputra) sebagai sosok pria cool di film Ada Apa dengan Cinta? (AADC) itu dibaca 67.500 kali dan di-share 1.400 kali. Menurut Agus dalam artikel itu, sikap Rangga saat ‘menjebak’ Cinta (Dian Sastrowardoyo) untuk tampil menyanyi dan membaca puisi di hadapan pengunjung kafe sesungguhnya sangat tidak pantas. Berbeda dari kebanyakan penonton yang menilai adegan di kafe itu sangat romantis.
Di tiap artikelnya, Agus selalu menemukan celah untuk memberikan sudut pandang baru pada isu yang sedang ramai dibicarakan. Menurutnya, mencari sudut pandang baru itu sebenarnya tidak sulit. “Biasanya ide itu datang dari pengamatan dan obrolan sehari-hari dengan teman,” ungkap Agus, yang sering menemukan ide tulisan baru saat main karambol bersama teman sampai pukul 2 pagi.
Meski begitu, tulisannya yang nyinyir itu bukan tanpa risiko. Ada saja haters yang meninggalkan komentar kurang mengenakkan di media sosialnya. Ia bahkan menerima SMS bernada ancaman saat salah satu tulisannya mengkritik kebijakan Presiden Joko Widodo. “Tapi, yo, alhamdulillah… saya masih sehat sekarang. Namanya juga tulisan hasil pikiran manusia, pasti ada yang pro dan kontra. Itu risiko,” ujar Agus.
Haters dan ancaman tidak menyurutkan niat Agus untuk terus menyuarakan pemikirannya. Penggemar karya-karya Umar Kayam itu berharap tulisan-tulisannya bisa membantu orang untuk melihat kehidupan dari berbagai sisi, sambil tertawa. Dari sesuatu yang baru, siapa tahu bisa melahirkan solusi.
Namun, ia tidak merasa sebagai pria yang pintar melucu. Ia justru ingin dikenal sebagai pria romantis. “Tapi, yo, susah sepertinya,” ujar Agus, menutup obrolan, tetap dengan terkekeh. (f)
Topic
#blogger


