Trending Topic
Sosok Leonardo DiCaprio di Mata Farwiza Farhan

2 Apr 2016

 


Foto: Paul Hilton for HAkA

Sejak foto aktor pemenang Oscar 2016, Leonardo DiCaprio yang sedang berada di Kawasan Ekosistem Gunung Leuser beredar di media sosial pekan lalu, notifikasi dari akun media sosial HAkA tak berhenti muncul.

“Ini di luar dugaan kami. Kami juga tidak mengira, publik akan bereaksi seramai ini. Saya berharap, ini tak berhenti di sini saja, tapi publik juga turut mendukung gerakan penyelamatan Kawasan Ekosistem Leuser ini,” ujar Farwiza Farhan, Chairperson HAkA yang mendampingi Leonardo selama kunjungannya di Kawasan Ekosistem Leuser.

Di dalam foto di atas, Farwiza bersama Rudi Putra, Conservation Manager HAkA tampak sedang menemani Leonardo dalam kunjungan ke habitat gajah Sumatera yang jumlahnya terus berkurang.

Leonardo memilih berkunjung ke Kawasan Ekosistem Gunung Leuser bukan tanpa sebab. Ini merupakan bagian dari dukungannya agar Kawasan Ekosistem Gunung Leuser tidak dihapuskan dalam rencana tata ruang Aceh. Penghapusan ini mengancam Kawasan Ekosistem Gunung Leuser menjadi semakin rusak dan dimanfaatkan untuk kebutuhan komersial.

Mengapa Kawasan Ekosistem Leuser istimewa? “Karena inilah kawasan ekosistem terakhir di dunia tempat empat megafauna; gajah, badak, orang utan dan harimau hidup bersama-sama di alam. Sudah tidak ada lagi tempat lain di dunia yang seperti ini. Kawasan Ekosistem Leuser juga menjadi sumber kehidupan bagi warga yang tinggal di sekitarnya,” papar wanita kelahiran Aceh yang akrab dipanggil Wiza itu saat ditemui femina di Jakarta, Kamis (31/3) lalu.

Kerusakan Kawasan Ekosistem Leuser berdampak langsung pada warga. “Banjir sudah semakin sering terjadi dan skalanya semakin besar. Bayangkan kerugian warga akibat gagal panen, serta kerusakan infrastruktur yang mereka rasakan,” tambah Wiza yang serius mencari solusi permasalahan masyarakat ini. Saat ini, ia merupakan Phd Candidate di Radboud University Nijmegen, Nijmegen, Belanda. Ia mendalami Cultural Anthropology & Development Studies.

Selama dua hari pada 28-29 Maret lalu, Leonardo diCaprio bersama Adrien Brody dan produsernya, Fisher Stevens mengunjungi beberapa lokasi di Kawasan Ekosistem Gunung Leuser, di antaranya area hutan dataran rendah, habitat gajah, Pusat Karantina Orangutan di Sibolangit, serta Pusat Penelitian di Ketambe.

Wiza dan Rudi bukan wajah baru di dunia konservasi di Aceh. Sejak 2012, keduanya lalu berkolaborasi di HAkA (Hutan, Alam, dan Lingkungan Aceh) yang konsisten memperjuangkan perlindungan dan restorasi lanskap di Provinsi Aceh. Salah satunya, mendorong dimasukkannya Kawasan Ekosistem Leuser sebagai Kawasan Strategis Nasional dengan fungsi lindung di dalam Rencana Tata Ruang Wilayah Aceh.

 “Saat di lapangan, melihat Leonardo berpeluh keringat, di bawah terik matahari, lokasi yang sumpek, pengap, dan dia membawa perbekalannya sendiri. Buat saya, itu menunjukkan bagaimana orang yang ada di posisi setinggi dia benar-benar peduli dan tulus pada apa yang ia lakukan. Bukan pencitraan belaka,” kisah Wiza.

Dalam kunjungan selama dua hari ke Kawasan Ekosistem Leuser, Wiza teramat penasaran pada alasan kuat Leo terjun ke dunia konservasi lingkungan. “Saat saya bertanya pada Leo, mengapa Anda mau melakukan semua ini? Leo menjawab dengan sangat serius: ‘Sepanjang hidup saya, saya selalu merasa bisa melakukan lebih banyak hal untuk melindungi kehidupan di alam liar. Bayangkan saja, sudah seberapa banyak satwa yang punah gara-gara perbuatan manusia, seperti burung dodo, dan harimau bali.’”

Sebagai aktivis perubahan lingkungan, Leo telah menerima penghargaan atas dedikasi di bidang lingkungan yang ia mulai pada 1998. Salah satunya, di ajang Crystal Award, World Economy Forum lalu, Leo juga mengumumkan bahwa Leonardo DiCaprio Foundation, telah mengumpulkan dana hibah sebesar US$ 15 juta (Rp 207,7 miliar) untuk mendukung perlindungan lingkungan. Ia menyebutkan juga dana ini akan ditujukan salah satunya ke Sumatera-Indonesia senilai US$ 6,5 juta (Rp 90 miliar) untuk melindungi hutan hujan dari kerusakan akibat industri kelapa sawit.

Kepedulian Leo yang sangat besar terhadap lingkungan secara konsisten ia tunjukkan dalam pilihan kegiatannya yang ia bagi di media sosial. Meski demikian, ia sempat mengutarakan pada Wiza dan menyayangkan reaksi sebagian follower terhadap setiap postingnya di media sosial.

 “Kerap kali, saat Leo posting tentang rasa prihatinnya terhadap isu lingkungan, komentar yang muncul dari followernya justru soal penampilannya sebagai bintang Hollywood. Misalnya soal baju, gaya rambut. Padahal, ia sangat ingin berbagi tentang kepeduliannya pada lingkungan,” cerita Wiza.

Penyadaran masyarakat terhadap pentingnya menyelamatkan lingkungan adalah langkah awal dari aksi-aksi sederhana yang bisa dimulai dari diri sendiri. Salah satunya, dengan memilih produk yang ramah lingkungan. Misalnya, mulai mengurangi konsumsi produk pangan dan kosmetik yang berasal dari kelapa sawit. Perkebunan sawit telah menjadi salah satu momok penyebab rusaknya Kawasan Ekosistem Leuser.

Wiza menegaskan, “Perlindungan hutan itu harusnya milik kita bersama. Jangan karena seorang artis Hollywood yang menyerukannya, baru kita mau peduli dan menoleh ke Leuser atau wilayah lainnya. Atau karena pemerintah asing mau memberi dana, baru pihak yang berwenang di sini juga mau keluar uang untuk restorasi. Jangan lupa, kalau hutan rusak, masyarakat yang langsung merasakan kerugiannya.”


 


polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?