Trending Topic
Sensor Televisi Kebablasan?

4 Apr 2016


Belum lama ini penyanyi dangdut Zaskia Gotik terseret hukum karena penampilannya di acara Dahsyat dianggap melecehkan lambang negara Pancasila. Memang pelaporan itu oleh sebagian orang dianggap berlebihan, namun bila kita bicara dalam konteks sensor tayangan televisi, pertanyaan yang muncul: mengapa tayangan seperti itu malah terkesan ‘bebas sensor’?

Padahal, masih segar diingatan kita dengan penyensoran (berlebihan) terhadap tayangan ulang malam final Pemilihan Putri Indonesia 2016 di sebuah stasiun televisi baru-baru ini. Finalis yang tampil dalam busana kebaya dan kain panjang berbelahan, tampak diblur di sekitar dada dan paha. Polemik lama pun muncul lagi, bahwa sensor di stasiun televisi nasional berlebihan dan terasa tidak tepat sasaran. Benarkah begitu?

Selain penyensoran terhadap tayangan pemilihan Putri Indonesia, sebagian orang juga menyayangkan sensor ‘semena-mena’ terhadap tayangan televisi lainnya. Tokoh anak perempuan cantik Shizuka di kartun Doraemon yang tengah berbikini di atas kapal pesiar juga diblur. Bahkan, ada tayangan tentang pemerahan susu sapi, bagian puting susu sapi juga ikut-ikutan disamarkan.

Sementara pada saat bersamaan, tayangan yang menampilkan gambar korban kejahatan, bencana alam, dan kecelakaan dengan darah berceceran atau bagian tubuh terpotong malah banyak yang ditampilkan secara gamblang.

Hal tersebut diakui Puti Safira (30) yang sering merasa terganggu dengan tayangan berita di televisi nasional. Meski kesibukan sehari-hari membuatnya tak punya banyak waktu untuk menonton televisi, ia kerap menemukan konten visual berita di TV lokal yang atas nama ‘masyarakat perlu tahu’, menampilkan korban kecelakaan, bencana, pembunuhan dengan jarak dekat dan berulang.

“Seperti peristiwa bom Thamrin, beberapa stasiun TV lokal berulang-ulang menampilkan gambar korban tewas terpotong-potong dalam jarak yang cukup dekat, walaupun tampilan disamarkan, namun tetap terlihat. Begitu juga saat peristiwa kecelakaan pesawat Air Asia QZ 8501, mereka seakan mengesampingkan perasaan keluarga korban. Menurut saya itu tidak etis,” ungkap Puti.

Meski merasa sensor televisi itu diperlukan, Annisa Mirella (30), wirausaha dan ibu dua anak, menyayangkan sensor yang sudah dijalankan televisi yang ia anggap masih kurang efektif dan sering kali tidak masuk akal. Misalnya saja hanya memburamkan beberapa bagian seperti batang rokok saat adegan orang merokok, bagian dada wanita, pistol saat adegan penangkapan polisi, dan masih lainnya. “Padahal sebenarnya penonton masih bisa menebak-nebak, ‘apa ya yang ada di balik bagian yang diburamkan itu?’” kata Annisa.

Pengalaman Annisa ketika menemani kedua anaknya menonton televisi, lalu secara tak sengaja ada beberapa adegan di acara tersebut yang diburamkan, anak-anaknya malah jadi penasaran dan bertanya. “Biasanya, saya dan suami secara bergantian memberikan penjelasan tentang mana adegan yang boleh jadi contoh positif dan mana yang kurang baik ditiru,” jelasnya.

Harly Valentina Bastiaans (24), yang sehari-hari bekerja sebagai presenter berita sebuah stasiun televisi nasional ini melihat ada ketidakkonsistenan stasiun-stasiun televisi dalam menerapkan aturan sensor.

Tidak jarang ia menemukan satu materi berita yang sama, namun mendapat perlakuan berbeda di dua stasiun televisi. Misalnya, gambar korban kejahatan disensor di stasiun televisi A, tapi di stasiun televisi B ditayangkan terang-terangan.

“Sensor yang tidak konsisten seperti itu sangat membingungkan dan malah menimbulkan pertanyaan, jadi apa saja yang perlu disensor? Kesannya, stasiun televisi menerjemahkan peraturan sensor itu dengan menyamaratakan, seperti ‘pokoknya buramkan adegan sensual dan busana seksi’,” kata Harly.
Padahal, tayangan televisi yang meresahkan tak hanya seputar bagian tubuh wanita seperti dada dan paha. Harus diakui beberapa tayangan televisi seperti talk show, reality show, hingga program infotainment, kerap memiliki muatan yang mengganggu. Sayangnya, tayangan-tayangan seperti itu terkesan ‘bebas sensor’ oleh stasiun televisi nasional. (f)
 

Faunda Liswijayanti


 


polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?