Pedagang lauk di Pasar Siti Khadijah. Foto: Dok. Femina
Di Kelantan, cara memahami karakter masyarakatnya bisa dimulai dengan perjalanan wisata kulinernya, sebuah penelurusan menarik yang Femina lakukan di tengah fam trip AirAsia dalam rangka dibukanya rute langsung Kota Bharu – Jakarta.
"Kota Bharu–Jakarta menghubungkan dua destinasi kaya budaya dan potensi pelancongan," ujar Director of Global Affairs AirAsia, Zamani Mohd Rafique. Tingginya antusiasme terhadap rute ini menunjukkan potensi pertumbuhan pariwisata dan hubungan yang kian erat antara kedua destinasi.
Pasar Siti Khadijah. Foto: Dok. Femina
Pasar Siti Khadijah, surga kuliner tradisional Kelantan
Lokasi: Jalan Buluh Kubu, Kota Bharu
Pagi itu, langkah pertama Femina mengarah ke Pasar Siti Khadijah, paling terkenal di Kota Bharu.
Eksterior yang tampak sederhana justru begitu hidup ketika dimasuki. Pedagang memenuhi setiap lantai dengan rempah, kain, hingga makanan yang seolah tidak ada habisnya.
Nama pasar diambil dari sosok Siti Khadijah RA, istri Nabi Muhammad SAW, yang juga dikenal sebagai pedagang ulung. Tak heran jika pasar ini menjadi simbol peran penting perempuan dalam kehidupan ekonomi masyarakat Kelantan. Dan Femina menyaksikan sendiri, sebagian besar pedagang di sini adalah perempuan!
Menginjak level kedua pasar ini, aroma santan, rempah, dan makanan yang baru dimasak menyeruak dari berbagai penjuru.
Berkunjung ke pasar Siti Khadijah, jangan lupa mencicipi Nasi Kerabu. Foto: Dok. Femina
Pilihan pertama tentu jatuh pada Nasi Kerabu, hidangan ikonik Kelantan yang mudah dikenali dari warna nasi kebiruan bunga telang.
Sepiring nasi diiringi aneka ulam segar, solok lada (cabai putih besar berisi ikan dan kelapa), budu (saus fermentasi ikan), sambal belacan, kerupuk, telur asin, dan lauk seperti ayam goreng atau ikan. Perpaduan gurih, pedas, segar, manis, dan kerenyahan remukan keropok keping (kerupuk ikan), menjadikan setiap suapannya kompleks.
Tak jauh dari sana, Nasi Dagang juga menggoda. Beras merah khas Kelantan dan ketan putih yang dimasak bersama santan menghasilkan tekstur pulen dan aroma harum, yang kemudian disajikan bersama gulai ikan pekat yang menjadi ciri pantai timur Malaysia.
Nasi dagang (kiri atas), gerai perut air asam, dan laksam. Foto: Dok. Femina/ Istimewa
Yang juga wajib dicicipi adalah Laksam. Berbeda dengan laksa pada umumnya, Laksam menggunakan lembaran olahan tepung beras yang digulung lalu dipotong menyerupai kwetiau, kemudian disiram kuah santan berpadu kaldu ikan.
Ada pula Perut Air Asam, hidangan jeroan sapi dengan kuah asam menyegarkan, serta Budu, pelengkap hampir setiap hidangan Kelantan.
Cek mek molek dari ubi tumbuk berisi gula serta karipap yang mirip pastel kari ini. Semua condong bercita rasa manis! Foto: Dok. Femina
Perjalanan kuliner belum lengkap tanpa mencicipi aneka kudapan tradisional seperti Cek Mek Molek, karipap, koklo, hingga Putih Telur atau Tahi Itik.
Di sudut lain pasar, deretan dodol dengan berbagai rasa, termasuk Dodol Gelembung Buaya khas Kelantan, turut menjadi buruan para pengunjung.
Resto Nasi Ulam Cikgu selalu ramai, terutama di hari libur Kelantan, Jumat dan Sabtu. Foto: Dok. Femina
Nasi Ulam Cikgu, Kesederhanaan yang Menggugah Selera
Lokasi: Nasi Ulam Cikgu, Kampung Kraftangan, Jalan Hilir Kota, Kota Bharu
Jika Pasar Siti Khadijah menjadi surga jajanan tradisional, maka Nasi Ulam Cikgu memperlihatkan bagaimana kesederhanaan mampu melahirkan cita rasa yang mengesankan.
Budu/ saus fermentasi ikan (kiri atas) adalah pelengkap dengan cabai dan lainnya; sayur lemak (kiri bawah); dan set nasi ulam (kanan). Foto: Dok. Femina
Rumah makan di kawasan Kampung Kraftangan ini terkenal dengan nasi yang disajikan bersama aneka ulam segar, sambal, serta ikan lele goreng berukuran besar. Gurih bumbunya meresap tanpa bau tanah atau amis sama sekali.
Tak kalah menarik adalah sayur lemak yang mengingatkan pada lodeh, namun dengan sentuhan rempah Kelantan. Mengesankan!
Hotel Renai dekat dengan banyak destinasi wisata kuliner khas Kelantan. Foto: Renaihotel.com
Sarapan Khas Kelantan di Hotel Renai
Lokasi: Hotel Renai Kota Bharu, Kota Bharu
Selama menginap di Hotel Renai Kota Bharu, pengalaman mencicipi kuliner khas Kelantan ternyata sudah dimulai sejak pagi hari.
Di meja sarapan tersedia berbagai menu lokal yang jarang ditemukan di wilayah lain Malaysia.
Mee Tarik disajikan hangat dengan tekstur mi yang kenyal dan kuah daging nikmat. Ada juga Roti Titab memadukan roti bakar, telur setengah matang, dan selai kaya yang sangat lezat, sementara Kacang Pool menawarkan perpaduan roti bakar dan kari kacang daging dengan bumbu rempah yang kaya cita rasa.
Semua hidangan ini sangat Femina rekomendasikan jika Sahabat Femina memilih menginap di hotel ini.
Roti Titab (kiri atas), Mee Tarik (kanan), dan Kacang Pool (kiri bawah). Foto: Dok. Femina
Nasi Berlauk Kak Chik, Favorit Warga Lokal
Lokasi: Nasi Berlauk Kak Chik, Tumpat
Makan siang berikutnya membawa kami ke Nasi Berlauk Kak Chik favorit warga setempat. Rumah makan ini juga dikenal melalui jaringan Nasi Air Dingin Kak Chik yang tersebar di berbagai wilayah Malaysia.
Dari dapur utamanya di Tumpat, ribuan bungkus nasi dikirim setiap hari ke berbagai cabang, menjadikannya salah satu kuliner lokal yang paling digemari.
Dari pusatnya di Tumpat, nasi berlauk dikirim ribuan bungkus per hari ke berbagai penjuru Malaysia. Foto: Dok. Femina
Konsepnya sederhana, yakni nasi putih hangat berpadu aneka gulai seperti gulai ikan dan gulai ayam, ditemani pilihan kuih tradisional serta minuman segar. Tempat seperti ini mengingatkan bahwa makanan terbaik sering kali lahir dari dapur keluarga yang mempertahankan resep turun-temurun.
Nasi berlauk adalah nasi putih bungkus dengan lauk gulai ikan atau ayam. Foto: Dok. Femina
Kampung Laut, Menjaga Tradisi Serunding
Lokasi: Laman Serunding, Kampung Laut, Tumpat
Perjalanan kemudian berlanjut ke Kampung Laut, sentra pembuatan serunding yang telah dikenal luas di Kelantan.
Di sini, daging sapi (lokal maupun impor), ayam, dan ikan dimasak perlahan bersama santan dan rempah selama berjam-jam hingga menghasilkan tekstur kering, berserat halus, dan kaya rasa, mirip abon jika di Indonesia. Proses yang panjang menjadi bagian penting dari kualitas serunding yang telah diwariskan dari generasi ke generasi.
Sentra serunding juga menjadi pusat oleh-oleh yang menjual Budu (pojok kanan atas). Foto: Dok. Femina
Kelantan meninggalkan kesan yang berbeda dibandingkan destinasi lain di Malaysia. Negeri ini tidak menawarkan gedung pencakar langit. Sebaliknya, resapi budaya yang tetap berjalan berdampingan di keseharian kunjunganmu. (f)
Baca juga:
Menelusuri Warisan Kelantan, Negeri yang Menjaga Tradisi di Tengah Perubahan
De Tiger Siap Hidupkan Malam di Kota Tua Jakarta
18 Menu Baru TAMU Menjelajahi Rasa dari Aceh hingga Lombok
Laili Damayanti
Topic
#VisitKelantan, #KulinerKelantan, #NasiKrabu




