
Foto: Pixabay
Pendekatan dengan alur cerita yang sedih memang berhasil membuat banyak orang ingin menyaksikannya sekaligus melekat di benak mereka. Penikmatnya pun tak sedikit. Sebuah iklan yang tayang di YouTube dan dibagikan di media
sosial bisa ditonton hingga jutaan pemirsa. Begitu pula dengan cerita-cerita sedih yang disebarkan melalui akun media sosial, mendapatkan ribuan likes dan comments dari para netizen.
Masih ingatkah Anda pada iklan sebuah department store menjelang Lebaran tahun ini yang viral karena kisahnya yang menyentuh hati? Iklan Ramayana berjudul Bahagianya adalah Bahagiaku, berdurasi tiga menit yang menyentuh nurani ini pun viral di media sosial dalam hitungan hari dengan jutaan penonton.
Bagi Ica Lawendatu, sutradara sekaligus konseptor untuk iklan Ramayana tersebut, kunci sukses untuk sebuah iklan atau kisah yang mengharukan ada pada cerita yang natural dan tidak didramatisasi. Itu sebabnya, menurut pria yang karyanya didominasi oleh iklan-iklan kocak ini, membuat iklan dengan tema sedih dirasa cukup menantang.
Dari alur cerita, harus dibuat berbeda. Ceritanya harus dekat dengan masyarakat, tapi tidak boleh memiliki ending yang mudah dibaca. Plot twist yang ia terapkan dalam iklan itu pun terbukti berhasil membuat penonton menyukainya dan rela membagikan kisah tersebut di akun media sosial masing-masing.
Meski diakui oleh Ica bahwa pembuatan iklan Ramayana murni berangkat dari tantangan yang diberikan kliennya untuk membuat satu versi iklan berbeda dari kampanye mereka sebelumnya, ia justru melihat sejak lama masyarakat Indonesia memang tidak pernah berhenti menyukai cerita-cerita yang mengharukan.
“Pada dasarnya, di masyarakat itu ada kelompok-kelompok yang memiliki kesukaan berbeda. Ada yang suka sesuatu yang lucu, ada juga yang senang cerita sedih, atau mereka yang suka thriller,” ungkap Ica. Dari semua itu, cerita yang unik dan
bagus, apalagi bisa menguras emosi, akan mendapatkan perhatian dan mudah diapresiasi masyarakat. “Apalagi jika cerita yang diangkat relevan dengan realitas atau kondisi kehidupan, akan mudah menyentuh siapa pun yang menontonnya,” kata Ica, yang sudah berkecimpung sebagai sutradara iklan sejak tahun 2010.
Baca juga:
Magnet Cerita Sedih di Layar Kaca, Makin Sedih, Makin Dicari
Sejalan dengan itu, Daisy Indira Yasmine, M.Soc.Sci, Ketua LabSosio Pusat Kajian Sosiologi Universitas Indonesia, melihat sebagai hal yang wajar saja jika masyarakat Indonesia menggemari kisah sedih berlatar kemanusiaan.
Sebagai masyarakat yang komunal, dalam berinteraksi kita selalu mengaitkan kehidupan pribadi dengan lingkungannya, dari keluarga inti hingga lingkungan masyarakat. Keberadaan dalam sebuah komunitas menjadi penting, sehingga pertemanan menjadi dasar dari kebutuhan kelompok. Kondisi tersebut menyebabkan kita jadi terbiasa punya rasa peduli terhadap orang lain.
Di sisi lain, makin modern kehidupan sebuah masyarakat, ancaman terbesarnya adalah masyarakat yang menjadi individualis. Dengan modernisasi dan kemajuan teknologi, kita secara terpaksa terbentuk menjadi manusia yang individualis. Pengaruh kapitalisme membuat kita harus berkompetisi satu sama lain yang memperuncing individualisme.
“Yang sebenarnya menarik adalah karena cerita atau kisah yang sedih dan bertema kemanusiaan ini seperti mengingatkan kita untuk kembali peduli pada lingkungan dan sesama. Hal ini penting dan bagus juga dalam pengertian, agar perasaan individualisme kita tidak berlebihan di kultur yang komunal,” jelas wanita yang akrab disapa Debby ini.
Lantas, mengapa cerita yang mengurai air mata mudah viral? “Karena cerita seperti inilah yang bisa tiba-tiba menyentuh titik kepedulian kita. Selain kenyataan sosial yang harus kita terima bahwa di dunia serba kompetitif ini tidak semua orang mengalami perjalanan hidup yang ‘sempurna’,” jawab Debby.
Tak bisa dipungkiri, masyarakat saat ini juga masih menghadapi permasalahan klasik, yaitu soal kesenjangan. Realitas tersebut menjadi daya tarik bagi seseorang, baik untuk memvisualkan kesenjangan tersebut ataupun mencari cerita yang memotret hal tersebut.
Sebenarnya, menurut Debby, munculnya berbagai cerita atau kisah sedih yang menguras air mata harus dilihat dari dua sudut. Pertama, hal ini bisa menjadi autokritik bagi masyarakat itu sendiri. “Jangan-jangan kita sebagai masyarakat sudah tumbuh terlalu individualis. Kita tidak punya rasa kepedulian sama sekali, sehingga hal-hal seperti ini bisa dipakai untuk kembali mengingatkan masyarakat untuk memiliki sisi kemanusiaan,” katanya.
Kedua, kemunculannya di masyarakat tidak sekadar menjadikannya sebagai objek, tapi harus menjadi subjek kepedulian. Intinya, bukan hanya menonton, melihat, atau membuatnya menjadi viral ke mana-mana, tapi lebih jauh lagi bagaimana menumbuhkan rasa peduli dari kisah-kisah sedih tersebut.
“Nah, yang sebenarnya bagus adalah ketika kita menyadari fenomena tersebut dan menjadikannya sebagai subjek. Misalnya, dengan membuat gerakan sosial mencari akar masalah, mengumpulkan teman-teman membuat aksi bersama. Intinya adalah bisa mengembangkan suatu program yang memberdayakan untuk mengurangi permasalahan,” kata Debby. (f)
Faunda Liswijayanti
Topic
#ceritasedih, #psikologi, #iklan, #film


